Surat untuk Tuan yang Telah Pergi

Surabaya, 29 Maret 2018

Tuan, apa kabarmu? Semoga kamu bahagia dengannya. 🙂

Surat ini kutulis bukan karna aku masih ingin memohon perhatianmu. Mengemis asa agar dapat bersanding denganmu.

Tidak, Tuan.

Surat ini kutulis saat aku ingat bahwa aku pernah mencintaimu dengan begitu dalam. Aku pernah sebuta itu memberika hatiku padamu. Aku pernah sebodoh itu membiarkan hatiku kau cabik-cabik hingga tak berbentuk.

Tuan, aku masih ingat semua kenangan tentang kita. Jalan-jalan yang kita susuri bersama. Rumah makan tempat kita berbagi cerita. Semuanya. Aku masih ingat senyummu, acuhmu, marahmu. Semuanya.

Tuan, aku pun ingat bahwa aku pernah memaksakan diri untuk meyakinimu sebagai laki-laki yang akan menemaniku hingga tua nanti. Aku pernah begitu.

Iya. Aku memang mencintaimu sedalam itu. Tapi keyakinanku padamu tak sekuat perasaanku. Semakin dalam aku mencintaimu, semakin besar pula keraguanku untuk bisa bersanding denganmu. Ini aneh, Tuan. Tapi begitulah yang terjadi.

Aku tau. Kamu pun merasakan hal yang sama.

Kita pernah bergantung pada satu sama lain. Kita pernah seakan tak mampu untuk bisa melanjutkan kisah tanpa satu sama lain.

Tapi nyatanya, kita tak pernah benar-benar yakin untuk terus bersama hingga hari tua.

Aku sering mempertanyakan apakah aku sanggip hidup denganmu. Apakah memang kamu orangnya. Dan banyak hal lain.

Tuan yang pernah kucintai dengan begitu dalam, hari ini aku menyadari bahwa bukan hanya cinta yang membuat seseorang bersama, bukan cinta yang menjadikan kita yakin pada satu sama lain. Bukan itu, Tuan. Tapi mimpi yang ingin kita bagi bersama, mimpi yang ingin kita perjuangkan bersama. Mimpi yang membuat kita ingin tumbuh bersama. Bukan cinta.

Kita hanya perlu melihat pada arah yang sama untuk yakin terus melangkah bersama, memperjuangkan hal yang sama, dan melengkapi satu sama lain untuk mewujudkan semua itu.

Cinta.. 🙂

Dia hanya pemanis yang muncul karna semua itu. Dia akan tumbuh dengan sendirinya dengan amat alami. Kemudian mengakar kuat dan mengikat semua mimpi itu menjadi amat manis.

Terima kasih telah mengajarkan semua ini, Tuan. Terima kasih telah menyadarkanku tentang ini.

Selamat berbahagia dengan kehidupanmu yang baru. Aku pun akan bahagia dengan hidupku.

Yang pernah mencintaimu,

Aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s