Push Your Self to The Limit

Orang rendah diri itu beda sama orang yang rendah hati. Orang yang rendah hati itu bukan karna dia gak percaya bahwa dia bisa, tapi dianya yang gamau menunjukkan kemampuannya. Orang-orang yang rendah hati, lebih suka bekerja dalam diam. Tau-tau menghasilkan karya. Tau-tau hasil karyanya bombastis gitu. Ini bukan berarti mereka gak percaya kalo mereka mampu. Tapi ya gitu, lebih asyik aja bersembunyi dalam keramaian kemudian boomb.. Meledak.

Orang yang rendah diri itu justru gak percaya kalo mereka mampu. Alih-alih berkarya dalam diam, mereka justru sibuk mempertanyakan diri.

“Kira-kira gue mampu gak ya?”

Dan ujung-ujungnya..

“Gak dulu deh, ntar aja.”

Orang-orang yang rendah diri, alih-alih push dirinya sampai limit, justru sibuk push pertanyaan sampek dia gajadi ngapa-ngapain. Sibuk membanggakan orang lain. Sibuk melihat kesuksesan orang lain, tanpa pernah melihat bahwa sesungguhnya dirinya sendiri ini mampu.

Itu yang gue lihat dari mereka yang bilang kalo “produk luar negeri lebih bagus”, “lulusan luar negeri itu lebih pinter”, “kuliah di luar negeri lebih keren”, “ahli coding gak ada”, “yang paham x gak ada”, dan semacamnya. Kemudian kebijakan yang diambil adalah “cari orang luar ajalah”, “import dari luar aja lah”. Ini gak cuma merendahkan diri sendiri, tapi juga males mikir lebih jauh tentang peluang-peluang apa yang bisa diusahakan dengan melihat potensi diri yang bisa dikembangkan. 

Gue jadi inget materi business model. Materi SWOT. Sebelum merancang strategi yang mau kita jalani, kita perlu tau kita kelemahan, kelebihan, peluang, dan hambatan yang ada di depan mata kita. Tau kekurangan dan hambatan sebenernya bukan buat diem aja, menghidar. Tapi mikir lebih jauh untuk mengatasi kekurangan diri dan menchallenge diri untuk menyelesaikan hambatan yang ada. Dua materi ini sebenernya saling terkait. Bikin business model juga perlu bikin SWOT, tau mau kondisi luar dalem kayak gimana.

Ibaratnya lo mau ke X. Banyak jalan yang bisa ditempuh dengan liat kondisi diri sendiri kayak gimana. Ya kan? Lo suka lewat mana, itu semua terserah lo. Terus lo nemu gunung gedhe yang menghalagi perjalanan lo. Trus lo mau ngapain? Diem aja, bengong liatin gunungnya pindah? Nungguin avatar nolongin lo? Atau lo milih naik kendaraan muterin gunung sampai tiba di sisi sebaliknya? Atau lo mau ambil bom, ngebom gunung dikit-dikit sampai kebentuk terowongan yang menghubungkan 2 sisi gunung. Atau lo mau naik helikopter? Banyak pilihan yang bisa lo buat untuk sampai ke tujuan lo even halangan dan rintangannya segedhe gunung.

Rintangan dalam hidup itu pasti ada. Masing-masing orang juga pasti punya kekurangan. Kita ini manusia yang punya keterbatasan, gaes. Memang. Tapi bukan berarti karena segala kekurangan dan rintangan yang ada kita ambil shortcut yang justru mematikan potensi diri.

You need to push your self to the limit.

Sampai mana sih mentoknya? Mentoknya kenapa? Solusinya apa? Dan lain-lain. Kalo lo cuma berhenti dengan kekurangan diri dan hambatan yang ada di depan lo. Trus kapan mau berkembangnya?

Gue koordinator KP. Akhir Januari untuk pertama kalinya gue ngelepas mahasiswa buat KP ke industri selama 3 bulan. Lingkungan industri jelas beda banget sama kampus. Banget. Mereka dikasih project yang harus mereka selesaikan menggunakan tools yang biasa digunakan industri Ada yang gak pernah diajarin blas. Jadi mereka kudu otak-atik sendiri. Bukan karna yang ngajar gak ada sih. Tapi lo tau kan kira-kira masalahnya apa? Gak ada duit buat beli modul yang samaan dengan industri untuk modul pembelajaran. Kasian ya?

Di grup mereka akhirnya ngasih banyak masukan untuk kurikulum prodi based on pengalaman mereka. That’s good.

Gak sedikit juga yang tiba-tiba curhat ke gue tentang culture shocknya mereka di industri. Gue sih biasanya bilang gini ke mereka.

“Push your self to the limit.”

One day, ada yang nanya gini ke gue.

“Bu, kalo saya gak bisa boleh gak sih saya bilang kalo saya gak punya keahlian untuk itu.”

“Ya silahkan, dan selamat menutup akses diri untuk kesempatan-kesempatan selanjutnya.”

We need to challenge our self. Kita gabisa hidup dalam tempurung sendiri. Asik sama apa yang kita suka mulu, tanpa berusaha mengembangkan apapun.

Kamu punya keahlian, dunia berkembang, maka keahlianmu pun juga harus berkembang. Ini bukan untuk show off. Gak wajib kalo yang itu. Yang wajib adalah berkarya yang bisa punya banyak manfaat untuk banyak orang. Udah. Itu aja. Titik.

***

Ditulis dalam rangka bete sama tamu-tamu yang datang ke training dari macem-macem kementrian dan bilang kalo orang luar lebih bagus, lulusan luar lebih bagus, dan semacamnya. Finally, mereka cuma lagi nyari dukungan biar kampus asing bisa buka franchise di Indonesia. Kemudian kalo ada tenaga kerja asing yang makin banyak, itu karna orang Indonesia gak cukup kompeten mengatasi masalah yang ada. 

Batam, 21 Maret 2018

Aprilely Ajeng Fitriana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s