edgarhamas:

3 Maret dalam Sejarah Islam; Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah

@edgarhamas | dipost dalam situs www.muslimide.com

“Nyanyian-nyanyian pesta kembali menjadi tangisan-tangisan duka,

Dan berita duka disebarkan dia antara gemerlapnya pesta”

Syair di atas diutarakan oleh Amir Asy Syu’araa “pemimpin para penyair”, Ahmad Syauqi, tepat ketika ia menyadari bahwa Khilafah Utsmaniyah telah runtuh di Istanbul.

Dunia Arab dan negeri-negeri Muslim begitu terguncang dengan robohnya rumah besar Kaum Muslimin yang telah menanungi Dunia Islam 400 tahun lamanya. Di saat yang sama, gemuruhlah Eropa dengan dendang hura dan semarak cita, terbahak dalam pesta-pesta meriah setelah tahu bahwa musuh besar mereka telah terbenam bersama kenangan-kenangan kemegahan.

Utsmaniyah, singa penguasa dua benua dan dua samudera itu, telah mati.

Khilafah Utsmaniyah (1517-1924) jauh sebelum 3 Maret 1924 –tepat 94 tahun yang lalu- telah lama dirongrong ancaman. Hutang yang melilit dan krisis keuangan membuat Khilafah kemudian meminjam hutang dari banyak negara Eropa.

Perang Dunia I pula menyisakan aroma duka; wilayah yang dibagi-bagi oleh Rusia, Italia, Inggris dan Italia. Perang antar etnis disulut oleh Intelijen Barat untuk membuyarkan proyek persatuan Islam yang digadang Sultan Abdul Hamid. Setelah reda satu pemberontakan, terbit lagi pemberontakan lain di tempat yang berbeda.

Pada tahun 1922, sebenarnya, kelompok Yahudi Dunamah yang masuk dalam gerakan nasionalis Turki pimpinan Mustafa Kamal, telah berhasil mengubah Khilafah dari kekuasaan yang luas menjadi simbol yang tak bisa melakukan apa-apa. Kemudian tak lama setelah itu, mereka copot jabatan Sultan Wahiduddin Khan –Sultan terakhir Khilafah Utsmaniyah- namun belum berani menghapus sistem Khilafah yang ada.

Sebab mereka paham, menghapus Khilafah saat itu akan membangkitkan geram amarah dunia Islam dan akan berakhir dengan perang.

Barulah setelah itu, mereka mengangkat keponakan Wahiduddin Khan yang tak memiliki pengaruh dan kekuatan samasekali. Mustafa Kamal bahkan berlebihan dalam menghina kehormatannya sebagai khalifah Umat Islam. Ia mengeluarkan perintah kepada walikota Istanbul untuk menghapus semua bentuk kebesaran Khalifah dan rombongannya ketika melaksanakan shalat. Pun di saat yang sama, gaji Khalifah dijatuhkan menjadi nominal yang sangat kecil, pengikutnya diwajibkan menjaga jarak darinya, dan para Ulama penentang Mustafa Kamal harus hengkang dari Istanbul.

Menjadi klimaks dari proyek nista para kelompok Mustafa Kamal dengan banyak Yahudi di dalamnya, pada satu hari tertanggal 3 Maret 1924 yang pilu. Dalam sidang umum perwakilan rakyat Turki –yang didominasi oleh kelompok Mustafa- dicetuskanlah kebijakan untuk menghapus sistem Khilafah. Kebijakan ini mengandung dua perintah besar; pertama: melakukan pemisahan agama dan negara, serta kedua: melengeserkan Sultan dan memindahkan kekuasaan pada Mustafa Kamal.

Tak lama setelah itu, diproklamirkanlah sebuah negara kosong dengan janji-janji kosong dan cita-cita yang kosong oleh Mustafa Kamal. Rakyat Turki yang telah dibohongi olehnya begitu terkesima dan silau pada langkah-langkahnya. Sejarawan dibayar untuk menulis kehebatan Mustafa sebagai Attaturk, Bapak Pembangun Turki.

Padahal setelah itu, setelah ia mendustai rakyat Turki, makinlah ia di atas angin; leluasa dengan congkak menindas para Ulama, menciderai simbol-simbol suci Umat Islam, hingga puncaknya, ia dengan suara meninggi berani-beraninya menistakan Al Quran.

“Kita sekarang beda di abad-20 dan tidaklah mungkin kita berjalan di belakang kitab yang membahas buah Tin dan Zaitun!”

–Mustafa Kamal

Orang yahudi yang berada di belakangnya bertepuk tangan sembari berseloroh angkuh, “Kami telah serahkan negara pada Attaturk, dan kami buang Ka’bah untuk orang Arab.”

Apakah Perlu Bagi Kita untuk Mengenang Keruntuhan Ini?

Tidak sepatutnya seorang muslim melupakan sejarah megahnya, namun di saat yang sama tak layak baginya untuk meronta mengenang masalalu diiringi tangisan sendu tanpa mencoba mengambil hikmah. “Tak ada harapan bagi Umat yang lalai masa lalunya, tidak ada masa depan bagi Umat yang tak tahu kebesarannya. Namun berhenti saja pada masalalu dengan tangis duka adalah tanda kemalasan, sebagaimana di saat yang sama, tak peduli dengan sejarah adalah sebuah kedengkian jua kebodohan”, pesan DR Mustafa As Siba’i dalam Kitab Min Rawa’i Hadharatina.

Runtuhnya Khilafah Utsmani, mengajak kita untuk menyelam dalam ramainya arus peradaban. Ternyata, kita pernah, bahkan beberapa kali runtuh dalam rentang 1438 tahun umur Umat ini, namun keadaan hari ini seakan-akan dengan mengabarkan pada kita bahwa everything is ok, bahwa semua baik-baik saja. Kita hanyut, padahal “bahaya terbesar adalah; kita sakit tapi tak tahu bahwa kita sakit”, kata Malik bin Nabi.

Dan ternyata, keruntuhan Utsmani jadi contoh bahwa Umat Islam bisa jatuh terperosok jika menjauh dari rahasia kemenangan kita. Apa itu?

DR Raghib Sirjani mengungkapkan, bahwa jatuhnya sebuah peradaban tidak terjadi tiba-tiba tanpa dirasa. Lebih jauh dari itu, keruntuhan disebabkan oleh proses yang sangat panjang, yang bermula dari: jauhnya manusia dari Islam. Ketika retak sendi kemenangan, maka pupus harapan, kekayaan tak ada arti, kemegahan hanya ilusi, sementara jurang gelap itulah sebenarnya yang menghampiri.

Tidak akan cukup satu tulisan untuk mendeskripsikan betapa kacaunya keadaan Umat Islam saat Khilafah Utsmani runtuh, namun bisa dipastikan alasan utamanya adalah hilangnya Islam di hati kaum Muslimin. Dan datanglah kemudian, mahar yang harus dibayar untuk menuju kebangkitan kembali, adalah kembalinya kita pada Islam sebagaimana generasi Sahabat Nabi. Biarlah Imam Malik mengakhiri tulisan ini dengan pesan gagahnya, “Tak akan bangkit Umat ini kecuali dengan perkara yang telah membangkitkan generasi sebelum mereka.”

Wallahu A’lam

Referensi Untuk Menelaah Keruntuhan Khilafah Utsmani :

1. Ad Daulah Utsmaniyah, DR Ali Muhammad Asy Shallaby. Mu’assasah Iqra, Kairo.

2. Nakbah Al Ummah Al Arabiyah bi Suquth Al Khilafah Al Utsmaniyah, Muhammad Al Khair Abdul Qadir. Maktabah Wahbah, Kairo.

3. Dirasat Li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyah. DR Abdul Halim ‘Uwais. Mu’assasah Iqra, Kairo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s