tawakkal

deamahfudz:

sepertinya saya menulis ini lebih dari sekali. Tapi sampai sekarang, ibrahnya masih kerasa dan semoga bermanfaat untuk menenangkan teman-teman yang sedang dalam penantian. Saya menceritakan ini karena saya sendiri yang menyaksikan peristiwa ini.

segala hal yang terjadi pada diri kita itu atas izin Allah. Dan takdir kita terkadang beririsan dengan takdir orang lain. Bisa jadi hal-hal yang kita anggap buruk sebenernya adalah bagian dari rencana Allah untuk menyiapkan takdir baik yang lebih besar.

ustadz Fauzil Adhim pernah memberi taujih bahwa masa menanti jodoh adalah titik rawan untuk kufur terhadap nikmat Allah. Bahkan sebagian orang ada yang menjadi syirik dengan dalih ikhtiar mencari jodoh. Padahal jodoh itu sudah disiapkan. Kita hanya perlu mengikuti sunnatullah nya, menjemput jodoh dengan cara yang baik.

saya punya teman yang menginjak umur 32 tahun belum nikah. Setiap kali taaruf selalu gagal. Ada yang bilang bahwa teman saya mungkin terkena sihir. Karena tiap laki-laki memandang beliau, wajah beliau berubah menjadi jelek banget (mirip monyet). Beberapa tetangga menyuruh beliau untuk datang ke dukun untuk mencabut sihir tersebut tapi teman saya menolak. Dia hanya bilang:

“saya ingin bertawakkal kepada Allah”

“tawakkal itu pake ikhtiar mbak”

“Insya Allah saya sudah berikhtiar”

Setahun kemudian, ada laki-laki yang datang ke paman beliau sambil menangis minta maaf. Usut punya usut ternyata laki-laki ini adalah mantan pacar teman saya. Dia mengaku bersalah karena datang ke dukun dan meminta dukun tersebut menyihir teman saya agar sulit jodoh. Sebenarnya si laki-laki ini menyihir dengan niat agar teman saya tidak dilamar orang lain dan mau kembali ke dia. Tapi yang namanya takdir Allah itu misteri. Si laki-laki ini lupa kalau dia sudah menyihir teman saya lantas dia sudah menikah dengan gadis lain dan sekarang sudah punya anak.

Setelah meminta maaf, si laki-laki ini mencabut sihirnya.

Beberapa bulan kemudian, teman saya mengikuti pengajian di masjid dan nggak sengaja ketemu laki-laki yang shalih. Tidak lama setelah itu, si laki-laki shalih ini melamar teman saya. Dan teman saya menikah dengan bahagia.

FYI, suami teman saya ini duda dan punya anak. Isteri beliau meninggal karena melahirkan si anak. Takdir Allah itu rumit dan tidak tertebak. Bisa jadi di satu sisi, Allah mengizinkan teman saya terkena sihir. Sementara sisi lain, Allah menyiapkan pertemuan teman saya dengan calon suaminya di waktu yang pas.

Allah bisa saja mentakdirkan sihir tersebut untuk tidak mempan. Tapi siapa pula yang tahu bahwa sihir ini justeru menjadi jalan bagi mantan pacar teman saya untuk bertaubat dengan sebenar-benar taubat?

Nalar kita memang terkadang terlalu pendek untuk menangkap hikmah dibalik takdir. Tapi percayalah bahwa apa yang terjadi pada kita hari ini akan kita syukuri di kemudian hari.

Tetap jaga waktu penantian dengan ikhtiar yang baik. Jangan pernah takut pada apapun sebab segala hal di muka bumi ada dalam kendali Allah. Yang perlu kita takutkan justeru hati kita apabila mulai tidak sabar atau tidak tawakkal.

Baca ini kemudian langsung inget Ibuk yang sering baper karna anaknya belum nikah juga. Sementara tetangga deket rumah yang usianya di bawah saya udah nikah duluan.

“Anak e sampean iki ketutup.”

Akhirnya topik macem gini nyampek di telinga Ibuk dan bikin Beliau kepikiran. Karena orang gak suka sama saya yang begini, kemudian didoain seret jodoh. Karena patah hati sama saya, didoai gitu juga. Dll. Kira-kira gitu lah ya persepsi Beliau. Saya simpulkan demikian karna Ibuk pernah super panik ketika saya bilang kalo saya gak bisa melanjutkan proses dengan Mas X.

Beliau takut anaknya kena kutukan. Trus gak ada yang mau sama sekali sama saya. Makin galau lagi karna saya juga gak pernah cerita apa-apa lagi tentang laki-laki yang memungkinkan jadi pendamping hidup saya.

Pertama, saya gamau Ibuk baper. Kedua, saya gamau dipaksa melanjutkan proses sedangkan saya super khawatir laki-laki ini gak bisa memenuhi kewajibannya atas saya. Mengendalikan saya, membimbing saya, itu gak mudah loh. Apalagi kalo tipe lakiknya ecek-ecek macem Dilan gitu. Okelah sebulan dua bulan saya takluk, sisanya, bisa saya yang jadi Ratunya. And I don’t wanna something like this happen in my marriage life.

Saya sudah cerita kalo makin bertambahnya usia, makin gak mudah menghadapi keresahan Ibuk. Even saya bisa woles karna tiap minggu diingetin konsep Qadla Qadar.

Random chat dari Ibuk adalah…

“Mbak, kata temen Ibuk Mbak Lely itu perilakunya buruk makanya gak ada yang mau.”

“Kata temen Ayah, Mbak Lely itu perilakunya buruk, makanya gak ada yang mau.”

Padahal ketemu rekan-rekan Beliau pun gak pernah. Bagaimana mungkin seseorang menilai kalo ketemu aja jarang. Pas ketemu juga belum tentu ada interaksi.

Oke, Ibuk mulai halu.

Yang masih saya syukuri adalah dengan semakin besarnya kekhawatiran Ibuk atas saya, doanya juga pasti akan lebih kenceng dari biasanya. Bagaimana saya menemukan sosok yang saya cari pun ada change kemudahan untuk memilih karna doa-doa Ibuk juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s