Sekufu

Kalo baca-baca buku pra nikah atau ikut kelas pra nikah, setelah memantaskan diri, kita akan menemukan topik ini saat memilih pendamping hidup.

Dia dari suku yang sama gak?

Dia sama-sama anak bangsawan gak?

Dia sama-sama dari harakah yang sama gak?

Mahzabnya sama gak?

Darahnya sama merahnya gak?

Makannya sama-sama nasi gak? Kalo makan tiwul atau sagu gamau.

Semua pertanyaan itu ketika akan memilih pendamping hidup. Wajar sih ya, kebanyakan orang maunya nikah sekali seumur hidup. Maka pertanyaan-pertanyaan printilan semacam itu pun akan muncul dan menjadi tolok ukur memilih pasangan hidup.

Lalu muncul pertanyaan besar,

Sekufu itu apa sih? Benarkah syariat Islam menganjurkan demikian?

Mari kita bahas satu persatu.

***

Sekufu itu kesederajatan atau kesetaraan antara suami dan isteri. Bisa sama-sama anak orang kaya, bisa sama pekerjaannya, bisa satu garis keturunan, atau yang lain. Tapi sayangnya, masalah kafa’ah (kesederajatn atau kesetaraan) antara suami dan isteri tidak ada dasarnya sama sekali dalam syariah Islam. Kecuali sejumlah hadist palsu. Al Quran menolaknya, begitu pula sejumlah hadist shahih. Maka, setiap muslimah pada dasarnya pantas untuk muslim mana pun. Sebaliknya, setiap muslim pun pantas untuk muslimah mana pun. Anak tukang tambal ban pantas untuk anak seorang menteri. Contohnya demikian.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” – Q.S. Al Hujurat [49] : 13

Dari ayat di atas, kita bisa menyamakan point of view dalam melihat perbedaan antara manusia yang satu dengan yang lain. Manusia tidak dilihat dari seberapa kaya dia, seberapa tinggi pendidikannya, atau seberapa mulia keturunannya. Tapi manusia akan dipandang dari ketakwaannya saja. Maka ketika memilih pasangan hidup pun tolok ukur ini  juga harus digunakan. Pilihlah bukan berdasarkan kekayaan, ketampanan, keturunan, apalagi karna sayang doang. Tapi pilih karena ketakwaannya kepada Tuhannya. Memang, ada dalil yang mengijinkan kita memilih based on kecantikan, kekayaan, dan keturunannya. Tapi dari hadist itu pun ditegaskan bahwa memilih berdasarkan agamanya adalah yang lebih baik.

Pada masa Rasulullah masih hidup pun Rasulullah memberikan contoh untuk menghilangkan sekat derajat ini. Tau sendiri kan zaman dulu kaya apa. Suku Quraisy itu dianggap suku yang paling wow. Bahasa sekarang bangsawan. Jadi ya maunya orang Quraisy nikah sama orang Quraisy. Budak sama budak. Mantan budak sama mantan budak. Tradisi ini dipatahkan Rasulullah dengan menikahkan sepupu perempuannya, Zainab binti Jahsyi Al-Asadiyah dengan Zaid ibn Haritsah yang notabene mantan budak.

Kisah serupa datang dari riwayat Abdullah ibn Buraydah,

Seorang wanita muda datang menemui Rasulullah saw, lalu ia berkata: “Sesungguhnya ayahku telah mengawinkan diriku dengan anak saudara laki-lakinya untuk mengangkat martabatnya.” Burayah berkata: “Maka Rasulullah menyerahkan urusan itu kepada wanita tersebut.” Wanita itu pun berkata: “Aku sebetulnya telah merelakan apa yang telah diperbuat ayahku kepadaku. Hanya saja aku ingin mengajarkan kepada kaum wanita bahwa seorang bapak tidak berhak sedikit pun untuk memaksakan anak perempuannya dalam hal ini.” – HR. Ibnu Majah

Dari hadist tersebut cukup jelas alasan perempuan itu menolak laki-laki yang ditawarkan oleh ayahnya. Bukan karena derajatnya, tapi karena ada pertimbangan lain.

Rasulullah pun pernah bersabda demikian yang bisa menjadi penguat orang semacam apa yang bisa dipilih untuk menjadi pendamping hidup.

“Jika datang kepada kalian seorang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka kawinkanlah dia. Jika kalian tidak melakukannya, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika hal itu (kebaikan agama dan akhlak) ada padanya?” Rasulullah menjawab:
“Jika datang kepada kalian seorang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka kawinkanlah dia.” Rasulullah mengatakannya hingga tiga kali. – HR – Tirmidzi

Hadist-hadist tersebut pada dasarnya sudah cukup menunjukkan bahwa memilih pasangan hidup tidak dapat dilihat dari derajat sosial orang itu, tapi yang dilihat adalah wanita yang ridho dengan agama dan akhlak laki-laki yang akan meminangnya.

Rasulullah sendiri mencontohkan dalam pernikahan yang Rasulullah lakukan sendiri untuk menghilangkan sekat sekufu ini. Pernikahan dengan Aisyah ra, jelas menunjukkan bahwa batas usia tidak bisa dijadikan tolok ukur apakah muslim dan muslimah itu bisa menikah atau tidak. Pernikahan Rasulullah dengan Shafiyah ra pun demikian. Shafiyah kita tau sendiri ya bahwa Beliau adalah puteri dari pembesar Yahudi yang dulunya memerangi Rasulullah. Dia masuk Islam setelah ayahnya dikalahkan oleh pasukan Islam, kemudian bersedia menikah dengan Rasulullah.

Para sahabat pun mencontohkan hal yang serupa. Masih ingat kisah Umar bin Khattab yang meminangkan anak laki-lakinya pada perempuan penjual susu di pasar karena kejujuran perempuan itu? Umar bahkan saat itu sudah menjadi Khalifah, tapi dia memilih anak penjual susu di pasar untuk puteranya, yang dari garis keturunan perempuan itu, khalifah Umar bin Abdul Aziz lahir.

Menikah sebetulnya adalah perkara ibadah. Maka untuk memilih pasangan harus dilihat dari kacamata iman, bukan yang lain. Menjalani proses untuk menuju kesana dijalani dengan ketakwaan kepada Allah. Hingga nanti, ketika rumah tangga itu berjalan ketakwaan akan terus dibangun untuk memperkokoh pilar-pilar rumah tangga.

-Wallahu a’lam bishawab-


referensi:

Kitab Nizhamul Ijtima’ (Sistem Pergaulan) – Taqiyuddin An Nabhani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s