Antara Menikah dan Usia

 2 bulan lagi, jika Allah masih memberi saya kesempatan untuk hidup, usia saya akan menginjak 27 tahun. Sudah setahun lebih sejak saya memutuskan untuk benar-benar berhijeah karena Allah. Saya batasi pergaulan saya dengan lawan jenis. Saya batasi chit chat dengan teman-teman kuliah yang kebanyakan laki-laki. Hingga ketika ada yang tertarik dengan saya pun, saya berikan batas yang begitu tegas padanya, saya gak mau pacaran, saya gak mau begini, gak mau begitu. Saya maunya begini, saya maunya begitu.

Satu tahun lebih sejak saya tidak lagi membawa laki-laki ke rumah ternyata punya dampak yang luar biasa ke ibu saya. Pikiran-pikiran negatif tentang saya yang terlalu kaku, pemilih, sombong, congkak, jutek, dan segala sikap menyebalkan yang membuat laki-laki menjauh dari saya pun dipaparkan oleh Beliau. Saya kesal bukan main dengan justifikasi yang tidak benar. Tapi ya begitulah orang tua yang sedang khawatir dengan puterinya. Sekesal-kesalnya, saya tidak berani membuat Beliau semakin resah dengan apa yang ada di depan saya sesungguhnya.

Tapi ternyata yang lebih tua dari saya dan belum menikah pun ada.

“Mbak angkatan berapa sih?” tanya saya pada salah satu rekan.

“2005,” jawabnya.

“Aku angkatan 2009. Umurku 26 tahun. Berarti Mbak X umurnya 30 tahun dan belum menikah. Woooow…” itulah yang ada di benak saya saat itu juga.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana keresahan yang dilanda olehnya. Bagaimana keresahan yang dirasakan oleh ibunya, ketika di usia tersebut ternyata dia tak kunjung mendapatkan pasangan hidup.

Saya sepenuhnya sadar bahwa perihal menikah bukan tentang usia. Sehingga ketika life quarter itu tiba, maka saya harus menikah. Sebelum masa itu tiba, saya tidak boleh menikah, dan ketika masa itu berlalu maka saya terlambat menikah. Saya paham betul bahwa tidak demikian. Allah yang telah menetapkan kapan waktu terbaik kita menemukan jodoh kita.

Sayangnya, ketika kita mampu mengendalikan semua keresahan itu dengan menyerahkan sepenuhnya pada Allah, ternyata tidak dengan orang lain. Usia yang makin bertumbuh dengan status masih lajang tentu akan menjadi topik yang menyenangkan untuk dibicarakan.

“Ya iyalah, siapa juga yang mau, sekolahnya ketinggian.”

“Ya iyalah, siapa juga yang mau, la wong dianya kayak gitu.”

dan seterusnya.

Tidak mudah mengabaikan suara-suara sumbang di sekitar kita. Tapi itu harus. Jangan sampai karena suara-suara itu fokus hidup kita hanya pada perihal menikaaaaah saja. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan sembari menunggu  waktu itu tiba. Ada banyak hal yang masih perlu dipelajari. Ada banyak hal yang perlu diasah lagi. Anggap saja Allah sedang menyiapkan dirimu menjadi istri dan ibu yang luar biasa sebelum waktu itu tiba.

***

Dear my sisters,

Jika hari ini usiamu telah dianggap cukup matang untuk membina rumah tangga sedangkan jodohmu tak kunjung datang. Bersabarlah.

Jika hari ini pertanyaan-pertanyaan yang meresahkan terus menghampirimu. Bersabarlah.

Jika hari ini ada begitu banyak laki-kaki yang menghampirimu tapi tak ada satu pun yang kemudian mampu bertahan hingga akhir denganmu. Bersabarlah.

Jadilah kuat dengan semua hal yang telah engkau lalui. Bersabarlah. Dan semoga sabarmu atas segala hal yang menimpamu akan menjadi ladang amal yang luar biasa untukmu.

With love,

Lelly.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s