Terjebak Label Islami

Kemudahan akses teknologi informasi terbukti punya peran yang cukup besar dalam syiar Islam. Kajian-kajian Islam yang dulunya hanya bisa diakses secara konvensional, kini bisa diakses secara online. Tulisan-tulisan mengenai Islam dan syariatnya pun membombardir dunia maya dengan aneka ragam gaya bahasa.

“Ketik saja masalahmu, maka search engine akan menjawab.”

Seolah-olah demikian kan ya?

Dampak yang dihasilkan dari dakwah melalui media sosial pun luar biasa. Kajian-kajian online akhirnya mampu mendorong ummat untuk datang ke kajian konvensional. Tak sedikit pula yang kemudian terlibat aktif dalam kajian-kajian intensif yang diadakan secara periodik. Mingguan, dwi minggu, atau bulanan.

Kabar baik dari semua ini adalah semakin banyak muslim yang kemudian berbondong-bondong untuk berhijrah.
Ingin menghindari yang Allah haramkan dan menjalankan perintahnya.

Ingin menjadi manusia yang lebih baik. Ingin taat.

Sayangnya, minimnya pemahaman, besarnya tantangan ada jaman sekarang menjadikan banyak sekali orang mencari solusi-solusi praktis untuk menghindarkan dirinya dari yang Allah haramkan. Akhirnya, label-label Islami, seperti syariah, islami, syar’i, halal, dll serta penjelasan singkat mengenai hal itu muncul. Ummat pun pastinya akan tertarik dengan hal itu. Label-label itu, bagi mereka-mereka yang masih bingung sekali harus bagaimana seakan menjadi oase di padang pasir.

Bank syariah, pegadaian syariah, asuransi syariah, KPR syariah, dan segala produk semacam ini sering kali dijadikan tujuan bagi mereka yang butuh sekali uang tapi tidak ingin terlibat riba.

Kemudian muncul yang lain. Pakaian syar’i, kosmetik halal, skin care halal, dan salon muslimah yang dijadikan tujuan bagi mbak-mbak atau ibu-ibu yang ingin tetap tampil cantik tapi tidak melanggar syariat.

Kemudian muncul lagi ojek syar’i untuk memenuhi mbak-mbak yang enggan dibonceng Pak Ojek karena khawatir khalwat. Lalu adalagi laundry syariah yang di dalamnya ada pilihan layanan cuci najis. Saya sebenarnya agak gagal paham dengan laundry syari’ah ini, tapi faktanya ada di area tempat tinggal saya.

Kemudian muncul lagi yang paling modus di antara semua label Islami di atas. Pasacaran Islami. PDKT lewat ta’aruf. Pinginnya nikah, tapi entah kapan nikahnya. Hang outnya ke mesjid dan majelis ta’lim. Panggilan sayangnya akhi-ukhti. Kalau mau makan bareng, kendaraannya sendiri-sendiri.

“Aku kan gak pacaran. Dia itu calon suamiku kok.”

atau begini,

“Kan aku gak pernah berduaan sama dia. Makan juga di tempat umum yang ramai. Gak pernah boncengan juga. Bahkan sering ke masjid. Apa salahnya coba?”

Jeng jeng jeng jeeeeng… Begitulah dalihnya.

Label-label islami pada dasarnya tak semua mampu menjamin apakah aktifitas tersebut benar-benar bebas dari yang haram jika kita tidak cukup jeli dengan fakta-fakta yang ada.

Tentang bank syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah, KPR syariah, dan semacamnya. Semua tetap harus didetaili lagi satu per satu akad yang dilakukan. Benarkah sudah lepas dari riba? Atau kah hanya ganti kulit saja? Sehingga semuanya akan nampak seakan-akan sesuai dengan syariat. Padahal aktivitas riba tetap terjadi di dalamnya.

Tentang pakaian syar’i, detaili kembali. Sudahkah cukup menutup aurat sesuai dengan perintah Al Quran dan keterangan-keterangan penjelasnya di Hadist?

Tentang kosmetik halal dan skin care halal. Pastikan bahwa bahan yang terkandung di dalamnya betul-betul dari bahan yang memang dihalalkan. Bukan yang lain. Baca komposisi bahannya. Cek kehalalannya.

Salon muslimah pun demikian. Konsepnya memang tertutup dari laki-laki. Tapi fiturnya tidak hanya potong rambut, creambath, dan hair mask saja kan? Ada opsi lain seperti facial, massage, dan spa. Masalahnya, bolehkah mbak-mbak salonnya melihat anggota tubuh kita yang tadinya disembunyikan? Bukankah ada batas aurat antar perempuan, dengan batasan jatuhnya air wudhu?

Pacaran islami apalagi. Cek lagi deh aktivitas di dalamnya. Konsep ta’aruf itu gak kenal sama yang namanya nanyain sudah makan atau belum, sudah sholat atau belum, sudah mandi atau belum, sudah pipis atau belum, dsb. Gak ada. Itu sama aja dengan pacaran kalau begitu. Yang sudah dikhitbah pun tak bisa dengan begitu santai keluar berdua seperti sudah menikah. Ingat, takdir itu hanya Allah yang tau. 

Sudah khitbah belum tentu jadi.

Bagaimana jika salah satu calon mempelai membatalkan khitbah? Bagaiamana jika salah satu mempelai mendadak umurnya kena deadline? Sudahlaah.. gak perlu aneh-aneh. Kita gak pernah tau takdir Allah ke kita itu bagaimana.

Terus gimana caranya biar ngerti kalau di dalam label syariah yang akan diambil ada jebakan batmannya atau tidak?

Ngaji!

Jangan cukupkan dengan membaca Al Quran saja. Baca terjemahannya. Baca juga tafsirnya supaya makin paham. Datangi kajian-kajian Islam untuk memperkaya informasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s