Pasrah

Menjelang deadline Tugas Akhir, akan makin nampak mahasiswa-mahasiswa yang tumbang semangatnya. Masalahnya beragam. Ada yang takut ketemu penguji untuk menyelesaikan revisi. Ada yang kekurangan dana dan sungkan bilang ke orang tua. Ada yang kecemplung di topik yang bahkan sama sekali tak dia kuasai.

Alih-alih menyelesaikan masalah satu per satu. Mereka memilih solusi yang lain. Lari dari masalah. Ada yang ke game online. Ada yang ke drama korea. Ada yang nongkrong di warkop.

Mereka mungkin sedang lupa bahwa mereka punya Tuhan yang jauh lebih besar dari masalah-masalah mereka. Mereka lupa untuk melibatkan Tuhan untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka. Semuanya dipikirkan sendiri. Semuanya dicoba untuk selesaikan sendiri. Padahal akal manusia itu terbatas. Kemampuan manusia pun ada batasnya.

Apa yang terjadi sesudahnya ketika semuaaa diselesaikan sendiri?

Depresi.

Hampir setiap semester, saya melihat mahasiswa-mahasiswa yang depresi karna tak tau bagaimana mengurai masalahnya.

“Saya sudah pasrah, Bu. Saya gatau lagi bagaimana.”

“Masa muslim gitu?”

“Ya mau gimana lagi, Bu?”

Pasrah tidak sama dengan diam. Pasrah itu artinya kita sudah melakukan ikhtiar terbaik yang bisa kita usahakan, kemudian kita pasrahkan seluruh hasilnya pada Allah. Itu pasrah. Bukan lari dari masalah kemudian bilang pasrah. Gak sama.

They have to fight. Pembedanya adalah libatkan Allah. Bukan menyelesaikan sendiri. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s