“Tugas da’i itu menyampaikan, masalah nanti dia mau menerima atau tidak, mau berubah atau tidak, itu urusan Allah. Yang penting kita sudah sampaikan.”

“Tapi saya mana pantas disebut da’i. Anak kemarin sore yang baru ngaji Islam dan menyampaikannya.”

“Da’i itu Bahasa Arabnya orang yang berdakwah. Dakwah itu menyeru kepada Islam. Jadi, as long as kamu melakukan hal itu, ya kamu pun da’i.”

“….”

“Tentang konten dakwah yang nanti akan disampaikan kepada mat’u juga harus disusun. Landasan aqidah perlu sekali dibangun dari awal. Kuatkan dulu itu. Setelah itu akan mudah bagi mat’u untuk mengambil hukum syara’. Pada sesi hukum syara’ ini pun, mereka tetap harus diingatkan perkara aqidah. Yang begini bisa maju mundur cyantik sih. Ngalir aja. Yang penting kena.”

“Ooo begitu.”

“Kamu suka nulis kan ya? Tulisan itu akan menguatkan pemahamanmu. Gapapa, dilatih terus aja. Jangan lupa bahwa tulisan itu akan punya pembaca masing-masing. Gak selalu mereka baca tulisanmu dari awal. Scroll status-statusmu untuk memahami isi kepalamu. Maka sampaikan juga topik aqidah di awal paragraf agara filosofisnya dari syara’ yang kamu maksud juga mampu mereka terima.”

“….”

“Tapi tetep. Kita gak bisa maksain mat’u untuk menerima semua ide yang kita sampaikan. Di sinilah kekuatan do’a bekerja. Mohon pada Allah untuk dimudahkan, mereka mudah memahami, mereka juga mudah untuk mengambilnya. Ingat, tugas kita menyampaikan. Hasil itu urusan Allah.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s