Do Not Open The Seal (Part. 2)

“Jangan rindu! Berat. Kau tak akan kuat. Biar aku saja.” – Dilan 1990

Ini kalimat yang lagi viral banget di sosmed. Film yang disadur dari novel karya Pidi Baiq, ini nyatanya sukses merebut hati muda-mudi. Baik mereka yang sudah membaca novelnya, maupun mereka yang ngefans dengan Iqbaal Ramadhan.

Lepas dari cerita yang diangkat novel itu, sejujurnya, saya lebih ngeri dengan dampak yang kemudian muncul dari segala aktifitas yang dimulai dari PDKT. Kemudian pacaran. Kemudian pergi kemana-mana berdua. Kemudian terbukalah segelnya. Solusi aborsi maupun memaksakan pernikahan pun diambil untuk menutup aib.

***

Pada Part. 1, saya telah menjelaskan bahwa sudah fitrahnya manusia ketika dia tertarik kepada lawan jenis, layaknya Dilan yang kemudian jatuh cinta pada Milea. Ini wajar dan amat sangat sesuai dengan fitrah manusia. Kita sama-sama menyadari bahwa ketertarikan itu ada karena adanya interaksi antara lawan jenis. Walaupun tidak semua interaksi akan mendorong manusia untuk berbuat sampai sejauh itu.

Potensi yang ada ini kemudian diberi batas aturan syariat untuk mengendalikan sekaligus melindungi manusia itu sendiri. Pada Part 1, saya pun sudah menjelaskan mengenai kewajiban menundukkan pandangan bagi laki-laki dan perempuan. Fungsinya ya jelas, menunukkan naluri seksual yang bisa saja bangkit dari pandangan. Perintah ini tidak kemudian menjadikan manusia itu kalo jalan harus nunduuuk terus karena takut melihat lawan jenis. Tidak demikian. Defaultnya adalah larangan melihat aurat. Tapi sekiranya aurat sudah tertutup kemudian syahwat itu tetao bangkit, maka wajib untuk memalingkan pandangan.

Perintah kedua adalah perintah untuk menutup aurat. Bagi laki-laki diperintahkan untuk menutup dari pusar hingga lututnya. Sedangkan untuk perempuan seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan.

Perintah yang ketiga adalah larangan berkhalwat bagi laki-laki dan perempuan (berdua-duaan), kecuali jika wanita itu disertai dengan mahramnya.

“Jangan sekali-kali seorang pria dan wanita berkhalwat, kecuali jika wanita itu disertai mahram-nya.” – HR Bukhari

Berkhalwat atau berduaan memang lebih sering ditujukan kepada aktifis pacaran. Walaupun faktanya tidak demikian. Khalwat ini bisa saja dilakukan oleh mereka yang bahkan tidak berpacaran. Saya jadi ingat cerita dari salah satu mahasiswa tentang aktifis ormawa kampus lain yang kemudian melakukan hubungan suami istri saat mereka sedang rapat kerja di luar kota. Padahal keduanya bukan pasangan kekasih.

Kita sebenarnya sering sekali mendengar bahwa ketika dua orang duduk berduaan maka ketiganya adalah setan. Mungkin awalnya memang tak ada rasa sama sekali, tapi selanjutnya setan bisa memanipulasi segalanya hingga mereka melapiaskan nafsu itu saat itu juga.

Maka segala aktifitas seperti pacaran, HTS, TTM, adik kakakan, sahabat (laki-laki dan perempuan), sangat amat memicu terjadinya perzinahan. Mungkin awalnya hanya jalan berdua. Kemudian pegangan tangan. kemudian peluk-pelukan. Kemudian cium-ciuman. Kemudian, terbukalah segelnya. 😦

Ngomong-ngomong soal khalwat biasanya ada yang berdalih demikian.

“Gue gak khalwat keles.. Gak cuma berduaan aja. Ada adik gue.”

“Trus dia jadi obat nyamuk gitu?”

“Hehehe.. Iya sih.”

Atau begini,

“Gue kan gak cuma berdua, ada di kantin kampus. Itu ramai kok.”

For your information, khalwat itu bukan hanya mojok berduaan dengan non mahram di tempat sepi ya. Khalwat itu berduaan dengan non mahram yang bikin orang sungkan kalo mau nimbrung. Jadi mesti ijin dulu. Permisi dulu. Atau cuma sekedar liatin dulu sebelum gabung dalam obrolan tersebut. Jadi, makan berdua ditempat umum dengan non mahram itu masuk
khalwat

. Boncengan kemana-mana dengan non mahram itu masuk
khalwat

. Semobil berdua dengan non mahram itu pun termasuk
khalwat

“Boro-boro Lel didampingi mahram, orang gue pergi ngedate aja diijinin sama bokap gue.”

Ada yang ngalamin hal serupa? Orang tua yang seharusnya menjaga anak-anaknya dari segala hal yang Allah larang justru menjadi inspirator dari anak-anak mereka untuk ber
khalwat

itu.

”Pacarmu mana?”

Atau ketika rutinitas ngapel di malam minggu atau malam-malam lain itu terjadi, orang tua bahkan memberikan tempat dan waktu sebebas-bebasnya kepada anak untuk melanjutkan maksiatnya.

”Oh, ada Paijo, masuk-masuk. Udah ya Yem, Bapak masuk dulu.”

Lalu keduanya hilang dari pengawasan. Mana tau kalau setelah itu mereka berzina.

“Ih, kok gitu sih? Kok bisa ya?”

Bisa-bisa aja ketika film-film macem Dilan 1990 ada banyak di sekitar kita. Film-film barat yang di dalamnya selalu saja ada adegan sentuhan fisik dengan non mahram hingga berhubungan badan ditayangkan dengan mudah, diakses melalui intenet dengan amat mudah. Maka jangan salahkan ketika isi kepala generasi yang masih hidup di hari ini terwarnai dengan asumsi yang demikian.

Jomblo itu gak laku.

“Kok kamu belum punya pacar?”

Entah pada titik mana, bisa saja Indonesia pun akan mengalami hal yang demikian,

“Kamu masih perawan? Ya Ampuun..”

Naudzubillah min dzalik.

Bila kita tidak ingin menjadi bagian dari sistem yang begitu rusak, maka sudah waktunya bagi kita untuk menginstall ulang isi kepala kita dengan pemahaman Islam. Sadari bahwa manusia ini hanyalah ciptaan Tuhan yang tak lebih tau dari Sang Pencipta dalam mengatur setiap lini kehidupan.

Caranya? Hijrah. Datangi kajian ilmu, perdalam, terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s