Menjadi Manusia Seutuhnya

“Islam itu gak sesempit yang kamu bayangin, Lel. Gak cuma ngurusin halal haram aja, tapi humanity-nya pun akan dilihat. Cara itu yang bikin ummat bisa lihat Islam dari sisi yang lebih baik.”

Saya diam. Ada gejolak batin ketika mendengar ini. Hanya saja, saya tak punya argumen yang cukup kuat untuk membantahnya. Tapi semakin saya pikirkan kembali, semakin saya tidak mengerti. Semakin saya belajar ushul fiqh, semakin pula saya tak paham dengan pernyataan tadi.

Bagaimana mungkin seorang muslim berperilaku, seorang muslim berikhtiar, kemudian standar perbuatannya lebih melihat pada sisi kemanusiaan saja tanpa melihat batasan halal haram?

“Ah, mungkin maksudnya, masih ada yang mubah-mubah untuk dipilih,” begitu pikir saya.

Lepas dari itu, mari kita bahas bagaimana Quran menjelaskan kepada kita tutorial khusus untuk menjadi manusia yang utuh.

***

Manusia diciptakan dengan kelebihan yang tak dimiliki oleh makhluk-makhluk yang lain, yaitu akal. Akal yang menjadikan manusia lebih mulia dari malaikat. Akal pula yang menjadikan manusia lebih hina dari hewan ternak. Seperti yang telah difirmankan Allah dalam surat Al A’raf ayat 179.

“Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak digunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi tidak dipergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” – Q.S. Al-A’raf (7):179

Akal yang dimiliki oleh manusia merupakan alat yang manusia gunakan untuk berfikir. Proses berfikir itu pun dapat dilakukan secara ilmiah yaitu menggunakan dalil, atau rasional dimana manusia hanya cukup menghubungkan fakta yang terindera dengan informasi sebelumnya yang pernah masuk dalam otaknya. Seluruh proses itu yang nantinya akan membentuk sebuah pola pikir (aqliyah) seseorang yang digunakan untuk membuat sebuah penilaian terhadap suatu perkara. Ketika aqliyahnya adalah Islami, maka penilaian terhadap suatu perkara pun akan didasarkan pada dalil syara’ yang ada.

Selain aqliyah, ternyata manusia pun dibekali dengan pola sikap (nafsiyah). Nafsiyah ini merupakan kecenderungan seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Jika nafsiyahnya Islam, maka dorongannya pun Islam, bukan yang lain.

Aqliyah dan nafsiyah ini yang kemudian membentuk kepribadian seseorang. Jika keduanya Islam, maka kepribadian yang terbentuk pun adalah kepribadian Islam. Jika salah satunya tidak terpenuhi, maka masih belum dikatakan sebagai kepribadian Islam. Tapi yang lain.

Contoh,

Santri pondok pesantren. Dalam pondok, tentu sudah dijelaskan tentang kewajiban berhijab bagi muslimah. Mereka pun menggunakannya, tapi hanya ketika di dalam pondok saja. Keluar pondok, bahkan keluar pintu gerbang saja, hijabnya dilepas.

Ini yang dimaksud dengan aqliyahnya Islam, tapi nafsiyahnya tidak.

Lalu, bagaimana bila nafsiyahnya Islami tapi aqliyahnya tidak? Kan kalo nafsiyahnya Islami orangnya jadi baik, jadi lebih manusiawi.

Ini malah berbahaya. Ketika seorang muslim menjalankan perbuatannya tanpa petunjuk, maka akan ada banyak sekali perbuatan terpuji yang mereka tinggalkan hanya karena mereka sangka itu adalah perbuatan tercela. Pun sebaliknya, ada sekian banyak perbuatan tercela yang mereka lakukan, hanya karena mereka sangka itu adalah perbuatan terpuji.

Contoh,

Ada seorang muslimah yang ingin mendekatkan diri kepada Allah. Dia sholat, membaca Al Quran, puasa. Kemudian sampai datang tamu bulanannya, dia tak menghentikan seluruh aktifitas tersebut karena merasa semuanya akan menjauhkannya dari Allah. 

Puasa itu baik. Sholat itu baik. Membaca Al Quran itu pun baik. Tapi ketika dilakukan saat tamu bulanan itu datang, maka haram hukumnya. Alih-alih mendapatkan pahala, justru dosa yang dia dapatkannya.

Untuk contoh kasus di atas, kita perlu sama-sama memahami bahwa ibadah itu bukan hanya melakukan apa-apa saja yang diperintahkan oleh Allah. Tapi meninggalkan segala sesuatu yang Allah haramkan pun adalah ibadah. Maka ketika muslimah sedang datang bulan, ibadahnya bukan ketika mereka menjalankan sholat, berpuasa, atau membaca Al Quran. Tapi ketika mereka meninggalkan semua itu karna haram hukumnya bagi mereka saat sedang datang bulan.

Contoh lain,

Saking gak maunya dimadu. Gak ingin merasakan pernikahannya diduakan. Atau mungkin merasa benci kepada ayah sendiri karena punya istri lebih dari satu. Kemudian mengatakan bahwa poligami itu haram. Menolak segala bentuk poligami karena dirasa merugikan kaum hawa. Padahal Al Quran membolehkan hal ini.

Lepas dari suka atau tidak suka. Mau dimadu atau tidak. Hukum poligami tak akan berubah menjadi haram. Dan Allah pun melarang kita untuk mengharamkan sesuatu yang diperbolehkan oleh Allah. Tentu saja mengabaikan larangan Allah termasuk dosa.

Islam itu sebenarnya sudah menetapkan standar bagi manusia untuk menilai segala sesuatu, sehingga dapar diketahui mana sih yang baik dan mana sih yang tak baik. Standar ini yang disebut dengan syariat. Sifatnya permanen. Artinya, yang baik tak akan pernah berubah jadi buruk. Pun sebaliknya.

Syariat Islam itu ada untuk menjadi petunjuk bagi manusia. Jadi, segala kekacauan dan ketidakpastian dari segala standar yang muncul karena akal manusia semata ini dapat diminimalisir. Bayangkan saja ketika semuanya dihukumi hanya dengan akal manusia. Maka hukum suatu perkara akan terus berubah, layaknya angin yang berhembus, sehingga standar kebaikan dan keburukan pun akan bersifat sangat relatif. Sekarang baik, besok bisa jadi buruk. Gak jelas, kan? Karena itulah, penting bagi setiap orang untuk menggunakan syariat ini sebagai standar seluruh perbuatannya. Supaya hilang segala hal yang sifatnya relatif tadi.

Jadi, sebenarnya menjadi manusia yang utuh itu sederhana. Pahami
ayat-ayat Allah. Perhatikan bagaimana tanda-tanda kekuasaan Allah. Lalu,
aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mudahnya, menjadi manusia yang
memiliki kepribadian Islam. Jadi, bukan hanya aqliyahnya saja atau
nafsiyahnya yang Islami. Tapi keduanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s