Kontrol Emosi

Kecerdasan emosional (bahasa Inggris: emotional quotient, disingkat EQ) adalah
kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta
mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Dalam hal ini,
emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan.


Kecerdasan spiritual (Bahasa Inggris: spritual quotient, disingkat SQ) adalah kecerdasan yang berasal dari dalam
hati, menjadikan kita kreatif ketika kita dihadapkan pada masalah
pribadi, dan mencoba melihat makna yang terkandung di dalamnya, serta
menyelesaikannya dengan baik agar memperoleh ketenangan dan kedamaian
hati.

***

Dulu, tiap kali dapat hasil tes IQ, EQ dan SQ keluar, Ibuk selalu bilang gini, “dibaca Mbak hasil testnya, pemarah, keras kepala, maunya menang sendiri, dll itu dikasih tau ke Mbak Lelly biar Mbak Lelly bisa lebih bisa ngontrol emosi. Masa hasil test kepribadian dari kemarin pesennya sama terus?

Kurang lebih begitu. Dan biasanya cuma saya iyain aja. After that, balik lagi ke Lelly yang biasanya.

Saya baru benar-benar berusaha mengendalikan emosi saya ketika saya dipilih sebagai ketua dalam sebuah organisasi. Anggota saya pernah mutung buanyak gegara saya hobi marah-marah karna kerjaan mereka yang gak beres. Banyakan main dibanding menyelesaikan amanah. Sayanya juga sih yang terlalu perfeksionis. Dari situ, saya belajar buat nahan diri buat gak gampang marah. Sekali pun monster dalam diri saya masih sering keluar.

Dari yang kalo marah suka banting barang, nendang pintu, trus jadi ngomong pedes. Itu progresnya. Setelah jadi dosen, saya sadar bahwa semuanya itu SALAH.

Gak ngerusak barang, tapi omongannya nyelekit. Itu salah total.

Kata-kata kasar yang diucapkan ketika marah itu gak akan merubah kondisi. Malah akan memberikan contoh yang buruk ke mahasiswa. Ketika marah ke mahasiswa, kesan yang tertinggal bukan maksud dari kenapa kita marah, tapi..

“Ah, Bu Lelly mah gitu, gampang marah.”

“Ah, Bu Lelly mah gitu, semua harus sesuai sama apa yang dia mau.”

Gampang marah dan semua harus berjalan sesuai dengan apa yang kita mau. Padahal maksud awalnya gak gitu, kan?

Akhirnya, dari mengungkapkan emosi secara langsung, kemudian saya pilih untuk diam ketika lagi sebel sama mahasiswa. Ketika emosi saya lagi gak bisa dibendung, alih-alih marah saya mendiamkan mereka. Kalo gak bisa juga, saya keluar dari kelas untuk menenangkan diri. Biasanya kelas tidak saya lanjutkan. Trus bisa ditebak apa yang terjadi pada orang psikosomatis ketika punya masalah emosi yang berlebih. Sakit.

Lalu, apakah mahasiswa jadi berubah baik?

TIDAK.

Di depan saya mungkin iya, di belakang saya tidak. Saya jadi macem satpam yang seakan-akan siap mentungin mereka ketika saya tau mereka gak sopan dan semacamnya. Jatuhnya jadi kayak orang gila hormat. Padahal gak gitu juga.

Sudah dibelain sampai sakit, eh ternyata failed. Menyedihkan.

Setelah ngaji Islam, saya mulai cari cara lain yang lebih efektif, sebagaimana Rasulullah mendidik para sahabat.

“Bangun pemahaman agar dia mau berubah karena keinginannya sendiri.”

Itu kuncinya.

Caranya ya dengan diajak untuk berfikir. Proses berfikir yang akan sangat membantu untuk memperoleh pemahaman. Ketika pemahamannya sudah utuh, tinggal bagaimana pengelolaan nafsiyahnya (pola sikap). Karena ternyata jadi muslim yang baik itu bukan tentang yang paling banyak hafal hadist dan Quran, tapi tentang bagaimana menerapkan Al Quran dan As Sunnah sebagai guidance kita dalam bersikap dan mengendalikan diri.

Sudah berhasil?

Belum. Hehehe..

Masih banyak sekali yang harus saya pelajari dan latih.

Macem kemarin pas saya marah ke mahasiswa. Setelahnya nyesel bukan main. Trus di forum kajian kok ya pas materinya tentang pengendalian nafsiyah.

“Pengemban dakwah itu insya Allah soal aqliyah Islam itu mudah untuk menerima, masalahnya ada di nafsiyahnya. Objek dakwah bisa kabur ketika kita sendiri secara nafsiyah masih belum beres.”

Langsung jleb, jleb, jleb.

Kok ya pas banget, siangnya abis curhat ke pembina saya, belum sempet dijawab secara rinci karena Beliau masih ada forum dan sibuk dengan si kecil. Trus sama Allah dijawab lewat forum itu.

Kuncinya, seperti tadi sudah saya sampaikan, ada di pemahaman. Pahamkan dulu, selebihnya adalah tauladan. Ini yang gak mudah. Dalam kondisi normal okelah, bisa-bisa aja. Tapi kalo lagi marah? Bisa lain lagi ceritanya.

Oleh karena itu Rasulullah memerintahkah kita untum diam saat kita lagi marah. Fungsinya agar kemarahan kita tidak sampai menyakiti orang lain.

Bukan berarti kita gak boleh marah sama sekali. Marah itu boleh, tapi tetap harus terkontrol dan terarah. Maksudnya terkontrol itu bahasa yang digunakan tetap ahsan dan gesture tubuh tetap tenang. Sedangkan terarah, ada pemahaman yang diperoleh dari ucapan pendidik ke anak didiknya.

Contoh,

Kalo lagi difitnah. Sebel kan pastinya? Gak ngapa-ngapain kok dituduh macem-macem. Nah, kita bisa menyampikan bahasa yang ahsan kepada yang memfitnah seperti ini.

“Jika apa yang Anda sampaikan itu benar, maka saya akan memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa saya. Tapi jika itu tidak benar, semoga Allah mengampuni Anda.”

Ini bahasa yang biasa digunakan oleh ulama. Bahasanya simpel, tapi memberikan mahfum. Plus, tidak membutuhkan energi untuk marah.

Contoh lain,

Ketika kita merasa tidak dihargai oleh anak didik. Mereka suka celometan gak jelas, bahkan dari bahasa dan gesture tubuhnya cenderung meremehkan kita. Kita bisa sampaikan begini.

“Jika kalian tidak bisa berkata baik, lebih baik diam. Apa layak sikap seperti itu? Seseorang akan sulit mendapatkan kemanfaatan dan keberkahan ilmu jika tidak mampu menghargai ilmu itu, baik prosesnya maupun pengajarnya. Seburuk apapun pengajar itu.”

Tegurannya ada. Pemahamannya pun ada.

Sepertinya mudah ya? Tapi pelaksanaannya tentu butuh pengendalian diri yang ekstra kuat. Gak mudah lho berfikir rasional dan mendidik ketika lagi marah. Kebanyakan yang ingin dikeluarkan adalah yang buruk-buruk, biar lega. Padahal yang begitu itu justru akan memperpanjang masalah. Oleh karena itu, latihan itu harus. Perkaya diri dengan ilmu parenting supaya mudah pula dalam menghadapi anak didik.

Jangan sedih ketika kita gagal dalam satu proses. Jadikan itu semua untuk bahan belajar untuk masalah selanjutnya. Hasil itu urusannya Allah. Tugas kita adalah berikhtiar dan berusaha sebaik mungkin.

Selanjutnya, perbanyak do’a untuk anak didik kita agar apa yang kita sampaikan bisa mudah untuk mereka terima. Bukan hanya materi saja ya, tapi pun tentang masalah sikap yang yang tadi. Mohonkanlah kepada Allah yang terbaik untuk mereka. Mudah kok bagi Allah untuk membalikkan hati mereka. Mudah juga bagi Allah untuk merubah mereka jadi baik seperti yang kita harapkan. Karena itu, jangan berhenti mendo’akan mereka.

Sekian sharing dari saya. Semoga bermanfaat. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s