Menyembuhkan Luka

Selain mata minus, kalo batuk lama, mayan agak temperamen, hal lain yang saya tiru dari Ibuk adalah psikosomatis. Sebenarnya istilah ini baru saya tau belakang setelah saya gak sering kambuh. Jaman kuliah dulu, stress berlebih akan membuat saya sakit yang mayan aneh. Pernah tes darah karna dugaan typus atau DB atau yang lain, tapi nihil. Sampai akhirnya saya dibawa Ibuk ke psikiater. Tapi saya bungkam di depan psikiater itu. Gak mau crita.

Setelah itu, Ibuk yang mentreatment saya dengan banyak hal. Saya rasa di sini lah obatnya. Doa dan ikhtiar Ibuk untuk saya agar saya bisa lebih kuat menghadapi apa yang di depan saya.

Ketika mentreatment saya, Ibuk itu kayak orang paling kuat. Padahal sebenernya sama aja. Kalo kepikiran sakit. Sering mendadak menggigil. Kalo saya tiba-tiba demam, lemes, macem orang mau mati.

Ibuk sering ngingetin jangan lupa sholat malam, sholat dhuha, dan ngaji supaya langkah yang saya tempuh itu ringan. Saya pernah diskusi dengan dokter kalo kata Ibuk, itu obatnya. Ingat Allah itu obatnya. Tapi belakangan saya tau kalo bukan itu intinya.

Kira-kira 2 tahun yang lalu, setelah lulus S2 saya kenal seorang teman yang menderita bipolar disorder. Agak shock sih karna ketemu langsung dengan penderitanya setelah dengar beberapa berita tentang Ben dan Marshanda yang cerai gegara Caca bolos minum obat.

Dia cerita kalo udah lama jalani terapis pengobatan dengan psikiater, sering nulis dan gambar sebagai salah satu cara untuk menghilangkan kegelisahannya.

Saya bilang saat itu, “Ibuku sering cerita kalo kita lagi susah, ada waktu khusus dimana kita bisa mengadu sama Allah. Udah kamu coba?”

Dan ternyata sudah. Sholat malam sudah, ngaji juga udah. Tapi nihil.

Saya coba detaili lagi masalahnya dia. Apa sih masalah yang belum selesai dari dia sebenernya? Akhirnya dia cerita tentang masa kecilnya. Tentang keluarganya yang tak utuh lagi. Tentang dirinya yang seakan-akan tak dihiraukan ayah ibunya. Tentang ibunya yang meninggalkan dirinya untuk orang lain saat dia masih sangat kecil. Tentang sakit hati pada ibunya yang masih belum bisa sembuh. Dan setiap kali dia mengingat semua itu, penyakitnya kambuh.

Pada dasarnya penyakit mental itu tidak hadir begitu saja. Dia muncul karna suatu alasan yang tak bisa diterima oleh penderitanya. Ibuk dulu sering keluar masuk rumah sakit di awal pernikahannya dengan Ayah karna belum bisa menerima Ayah sepenuhnya. Ada hal-hal yang amat berbeda yang membuat Ibuk stress luar biasa. Saya sering sakit pun karna sakit hati dengan beberapa pihak, karna keadaan yang berjalan tak sesuai dengan apa yang saya mau, dan sakitlah saya. Waktu SMA saya punya teman yang punya sakit psikologis yang bikin dia harus terus diawasi. Kalo lengah dikit pas dia lagi stress, dia akan sayat-sayat tangannya. Tujuannya, bunuh diri. Saking seringnya dia nyoba buat bunuh diri, sampai teman sekelasnya biasa aja liat dia berdarah-darah.

Teman saya yang bido tadi pun juga sama. Penyakitnya muncul karna suatu alasan yang sebenernya ketika masalah itu terurai maka selesai sudah penyakit itu.

Dulu, ketika saya sakit, saya kira obat saya adalah pulang ke rumah dan ketemu sama Ibuk. Tapi ternyata saya salah. Bukan itu. Saya melupakan masalah itu dengan cerita ke Ibuk. Dengan bantuan Ibuk, saya terima segala hal yang tak sesuai dengan keinginan saya. Kemudian saya sembuh.

Dalam tulisan saya yang lalu tentang menyelesaikan keburukan, saya sempat tuliskan bahwa keburukan tidak bisa selesai dengan melakukan kebaikan yang lain. Untuk menyelesaikan keburukan itu, satu-satunya cara adalah mengakhirinya. Kalo masalahnya kita sering kalap belanja, masalah itu tidak akan sembuh dengan banyaknya sedekah. Sekali pun sedekah itu baik dan akan menambah amal jariyah kita. Tapi masalah kita tak akan selesai. Maka, caranya menyelesaikannya ya dengan menahan diri untuk belanja, seperti unfollow akun-akun online shop, uninstall aplikasi belanja, minimalisir ke mall, pasar, atau tempat belanja lain. Terakhir, banyakin istighfar kalo lagi di pasar plus jangan lupa baca doa sebelum masuk tempat belanja. Ini solusi.

Masalah penyakit mental pun demikian. Penyakit itu muncul karna ada luka dalam hatinya yang belum disembuhkan. Maka satu-satunya cara adalah keberanian untuk memaafkan, melupakan, dan tawakkal pada Allah. Kita bisa aja ke banyak psikiater untuk menyembuhkan penyakit itu, bisa aja banyakin ibadah yaumil untuk terapi, tapi ketika kita belum bisa memaafkan, melupakan, dan sepenuhnya bertawakkal pada Allah. Semuanya tak akan selesai.

Oya, tawakkal itu artinya mewakilkan segala urusan pada orang lain. Ini macem kita punya urusan, trus kita minta orang lain untuk ngehandle urusan tersebut karna kita bener-bener percaya sama dia. Yang kita lakuin apa sih? Tunggu beresnya aja kan? Kalo ke orang lain, mungkin kita masih perlu cek sana sini, untuk memastikan sesuatu. Tapi kalo ke Allah? Ya masa sih kita masih perlu cek sana sini. Bukankah Allah yang jauh lebih tau tentang hidup kita dibanding diri kita sendiri.

Hal itu sebenernya pernah juga saya sampaikan ke teman saya. Tapi dianya masih ngeyel gabisa gabisa mulu sebelum benar-benar mencoba. Jadi, yang mau saya bilang, tawakkal aja tanpa ikhtiar itu gabisa. Ikhtiar aja tanpa tawakkal juga gabisa. Jadi semuanya harus dilakukan. Kalo mau sembuh.

Semua yang saya tulis, based on pengalaman pribadi yang terlalu sering jatuh sakit karna kepikiran sesuatu dan cara saya sembuh dari itu. Sekarang mayan jarang kambuh ketika saya ngaji dan belajar konsep qodlo qodar. Ketika segala sesuatu ini diatur semuanya sama Allah, tentang hal baik dan buruk yang menimpa kita baik mau diusahakan atau tidak, lalu kita bisa apa ketika semua itu terjadi selain tawakkal pada Allah? Dan ternyata hidup jauh lebih enteng.

Kalo sakit, saya masih sering cek, ini karna psikosomatis yang kambuh atau karna saya gak kontrol makanan yang masuk ke tubuh saya. Keseringan karna yang kedua. Sekali sih kemarin sakit gegeara stress. Ibuk sakit tapi gamau ke rumah sakit, sayanya gabisa nungguin 24 jam karna di surabaya. Sementara itu kerjaan akhir tahun itu luar biasa. Akhirnya, sakit. Tapi pas lihat Ibuk gak kenapa-kenapa, mayan tenang dan sembuh.

Well, ada banyak hal sebenerbya yang gak bisa kita handle sendiri. Kaki kita cuma dua, tangan kita juga cuma dua. Pintu kemana saja juga cuma ada di doraemon. Manusia juga gabisa membelah diri, maju mundurin waktu biar semua bisa keurus. Gabisa. Manusia itu terbatas. Maka, kita perlu sadari itu dan menyerahkan segala urusan ke Allah biar lebih ringan. Allah selalu punya cara untuk membantu kita menyelesaikan masalah itu. Tinggal kitanya yang mau bener-bener memasrahkan atau masih pengen pake cara sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s