Bukan dengan Perasaan (2)

 Tulisan ini masih lanjutan dari tulisan semalam, yang bisa dicek di sini. Tujuan akhir dari serial ini, misal nanti berseri banyak, adalah kita bisa sama-sama menyimpulkan, sebenernya kita itu selama ini udah beneran mikir atau belum ketika memutuskan sesuatu. Jangan-jangan hanya based on perasaan saja, based on firasat, based on enaknya gimana. Seperti yang saya kemarin saya sampaikan ketika kita memilih berdasarkan perasaan, sekali pun itu benar, maka itu akan sangat amat mudah goyah, dan bahkan berbahaya.

Contoh kasus Kim Jong Hyun yang barusan bunuh diri kemarin adalah salah satu contohnya. Padahal, solusi lain itu ada. Tapi dia sibuk dengan perasaannya, sampai akhirnya perasaannya menggiringnya pada: mati aja lebih enak.

***

Proses berfikir yang biasanya kita lakukan selama, sebenarnya berfungsi tidak hanya untuk mengolah informasi, pun untuk memutuskan suatu kebenaran, suatu keputusan yang paling tepat. Syarat berfikir itu ada 4, yaitu: ada alat indera, ada otak, ada informasi sebelumnya, dan
ada fakta yang terindera. Keempat syarat ini akan salin terkait satu sama lain.

1. Ada Alat Indera

Panca indera yang kita miliki ini sebenarnya adalah alat untuk memberikan masukan pada otak tentang suatu informasi. Informasi tersebut bisa berupa sesuatu yang kita lihat dengan mata, kita cium dengan hidung, kita rasakan dengan lidah, kita raba dengan kulit kita, maupun kita dengarkan dengan telinga kita. Tanpa adanya alat indera ini, maka imformasi yang ada tak akan pernah sampai pada kita.

Untuk dapat berfikir secara sempurna maka minimal ada 2 alat indera yang digunakan, yaitu indera penglihatan dan pendengaran. Kedua alat indera ini yang digunakan untuk menidentifikasi suatu hal. Kita dapat menyebutkan suatu benda karna sebelumnya kita pernah mendengar benda tersebut karna ada yang pernah mengajarkannya, melalui gambar mungkin, atau kita melihat langsung benda tersebut.

Lalu, bagaimana jika salah satu dari indera penglihatan dan pendengaran ini tak ada?

Maka, proses berfikirnya tak akan sempurna. Kebenaran yang dihasilkan pun tak akan sempurna.

Ada kisah menarik dari film The Mask versi romantis. Dikisahkan tokoh utamanya itu juelek bukan main. Hampir gak ada perempuan yang mau sama dia. Saking frustasinya mencari pasangan, dia sampai minta tolong ke ibunya. Tapi hasilnya pun nihil. Perempuan yang dikenalkan ke dia mundur perlahan begitu melihat pwnampilannya. Makin sedih lah dia.

Suatu hari, dia pulang dengan membawa perempuan cantik yang kemudian dia perkenalkan kepada ibunya sebagai kekasihnya. Sang ibu bersyukur bukan main, akhirnya ada yang mau dengan anaknya.

“Akhirnya, kamu punya pacar juga. Kok dia bisa mau sama kamu?”

“Mmmmm… Dia buta, Ma.”

Ealaaah.. pantesan. Ibunya pun bertanya pada si gadis tadi. Apa alasan dia menerima anaknya.

“Anak Ibu itu tampan.”

JDEEERRR..

Saya sendiri membayangkan bagaimana mereka ketika berkencan.

“Sayang, lihat deh laut itu. Langitnya biru, cerah, secerah hatiku saat bersamamu.”

“Biru itu yang kayak gimana ya?”

Nah, kebayang kan sekarang? Mereka yang tak sempurna bukan berarti tak mampu untuk berfikir, tapi ketika informasi yang dia dapat cacat, maka hasil yang didapatkan pun sangat amat memungkinkan untuk cacat pula.

2. Ada Fakta yang Terindera 

Setelah memiliki alat indera, tentunya sebuah proses berfikir akan ada jika ada fakta yang ingin kita indera. Sebagai contoh, mari kita sama-sama mendefinisikan bagaimana bentuk buroq yang dinaiki Rasulullah saat Isra’ Mi’raj.

Orang Arab pada masa itu ketika ditanya bagaimana bentuk buroq mungkin yang tergambar adalah kuda bersayap. Saat itu kendaraan yang paling cepat adalah kuda, sedangkan yang bisa terbang itu burung. Jadilah gabungan keduanya. Kuda bersayap.

Tapi gambaran itu akan sangat amat berbeda dengan kidz zaman now. Kalau mereka ditanya, atau dulu waktu kita kecil dikasih tau buroq, yang tergambar bukan lagi kuda bersayap tapi yang tergambar adalah pesawat jet. Kenapa? Karena hari ini itu adalah kendaraan tercepat yang manusia ketahui.

Apakah keduanya tadi dikatakan proses berfikir? Tidak. Kita tak punya sama sekali informasi terkait fakta bagaiaman wujud buroq yang sesungguhnya. Sehingga kita pun tak akan pernah sanggup memikirkannya.

3. Ada Otak

Otak ini berbeda dengan akal karena tak semua makhluk yang memiliki otak mampu berfikir. Contohnya, orang gila. Tapi alat ini adalah prosesornya. Tempat pengolahan data. Tanpa otak, maka orang gak akan bisa berfikir sama sekali, bahkan fungsi tubuh yang lain akan ikut mati.

 4. Ada Informasi Sebelumnya

Kalau bahasa teknik biasanya kami sebut initial condition, initial value, dll. Ada banyak pendapat yang bilang kalau informasi sebelumnya ini gak harus ada untuk bisa mendefinisikan sesuatu. Lalu, mudah bagi kita untuk membuktikannya. Misal nanti punya anak, dari kecil jangan diajak ngomong, jangan diperdengarkan apapun, taruh aja dalam rumah atau kamar. Pas udah gedhe, cek deh, dia ngerti gak kalo diajak ngobrol?

Kita bisa ngerti suatu kata karna waktu kecil kita diajarin sama orang tua kita, makan itu yang kayak gimana, pipis itu yang kayak gimana, senyum itu yang kayak gimana, happy itu kayak gimana, marah itu kayak gimana, dll. Kalo lupa, coba deh tengok instagramnya Mbak Retno hening yang ngajarin Rumaysa kata senyum dan nangis. Padahal masih bayi, tapi Rumaysa ngerti itu apa karna dikasih tau sebelumnya.

Ini sinkron dengan apa kata Quran ketika Allah memberikan pengumuman ke Malaikat dan Iblis bahwa Nabi Adam akan menjadi khalifah di bumi. Malaikat sempet protes sama Allah kenapa makhluk yang suka bikin kerusakan ini justru diangkat jadi khalifah. Lalu, Allah perintahkan Malaikat untuk menyebutkan nama benda, tapi failed. Selanjutnya, Allah perintahkan Nabi Adam, dan Beliau mampu karena sebelumnya Allah sudah memberi tau nama-nama benda.

Nah, seperti yang saya sebutkan di atas, keempat syarat ini akan terkait satu sama lain untuk menghasilkan sebuah proses berfikir. Tanpa ada salab satu komponennya, maka kita belum bisa dikatakan berfikir, yang artinya cuma main perasaan aja.

Proses berfikir tentunya tidak hanya digunakan untuk mendefinisikan sesuatu tapi pun digunakan untuk mencari suatu kebenaran. Lalu, apa sih kebenaran itu?

Mudahnya, ketika pernyataan yang disampaikan sesuai dengan fakta yang terindera. Kita bisa sama-sama bisa menyatakan, “ini benar sebuah buku,” ketika kita pun mampu melihat buku. Tapi akan menyalahkan jika yang kita lihat bukan buku. Kenapa? Ada fakta yang terindera. Ada informasi sebelumnya tentang benda A dan yang serupa dengannya disebut buku, sedangkan yang lain bukan buku.

Pertanyaannya, bagaimana kita dapat membenarkan keberadaan suatu hal yang tidak mampu kita indera?

Nantikan di tulisan selanjutnya. 🙂

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s