Bukan dengan Perasaan

lellyfitriana:

“Kamu kenapa kok mau sama dia?”

“Orang itu kan gak ada yang sempurna ya, jadi ya aku pake feeling aja gitu milih dia, kira-kira ntar bisa gak ya jadi imam yang baik buat aku atau enggak.”

“Gimana caranya?”

“Yaaa gak bisa dijelasin, gitu deh pokoknya.”

“Oooh gitu. Oke deh.”


**

“Kamu bukannya dulu cerita mau ngabdi aja buat suami, udah ganti cerita lagi nih?”

“Iya, soalnya aku bosen di rumah terus. Kan dulunya kerja, punya kesibukan yang luar biasa. Setelah resign kok kayaknya nganggur banget gitu gak ngapa-ngapain. Ya udah aku balik lagi kerja setelah lahiran, mumpung masih muda juga. Kan masih ada yang mau nerima, kalau udah berumur, siapa juga yang mau.”

“Oh gitu.”

“Tapi sekarang lagi kepingin resign lagi sih.”

“Kenapa?”

“Anakku lagi lucu-lucunya soaknya.”

“Trus kalau dia udah gak lucu lagi? Kamu kerja lagi?”

“………”

**

Pada dasarnya ada 2 cara bagaimana manusia itu mendapatkan kebenaran atau menemukan jawaban dari setiap pertanyaan dalam hidupnya, yaitu dengan akal dan perasaan. Keduanya tentu berbeda dan memiliki ciri khas masing-masing.

Ciri-ciri manusia yang menggunakan perasaannya untuk memutuskan sesuatu itu mudah dikenali. Mereka biasanya memutuskan atau memilih suatu perkara berdasarkan suka atau tidak suka, tertarik atau tidak tertarik, senang atau tidak senang, yang ketika dikejar terus-menerus pasti akan muncul mantra wajibnya, POKOK’E. Sehingga keputusan yang diambil pun akan sangat amat relatif dan bersifat subjektif.

Saya punya contoh menarik tentang kasus begini dan sebenarnya dua kasus di atas dan keputusan Mbak Rina Nose maupun Mbak Marshanda yang kemudian lepas hijab ini juga bisa kita jadikan contoh bagaimana perasaan ini digunakan sebagai alat pengambil keputusan. Tapi saya punya lagi yang lain. Hehehe…

Jadi, ceritanya dulu pernah ada artis yang memutuskan masuk Islam. Keputusannya masuk Islam ini kemudian diliput oleh banyak infotainment, yang intinya menyakan kenapa dia masuk Islam. Dalam salah satu wawancara dengan wartawan media gosip, dia menyampaikan kurang lebihnya begini.

“Pacar saya muslim, jadi saya kenal Islam dikit-dikit juga dari pas jalan sama dia sih. Saya sering juga lihat dia sholat. Saat itu saya merasakan ketenangan yang luar biasa dari dirinya ketika sholat. Dari situ saya jadi pingin juga ikut merasakan ketenangan itu.”

Bagus ya statementnya?

Tapi bahaya.

Ketika seseorang masuk Islam karena melihat orang sholat pasti akan sangat senang ketika diajak sholat dibanding orang yang udah Islam dari lahir. Bahkan sholatnya pun bisa jadi jauh lebih khusyuk dari kita-kita. Tapi itu pas awal-awal. Pas masih seneng-senengnya.

Kita sholat sehari berapa kali? 5 kali, gak boleh bolong.

Untuk yang tak terbiasa itu pasti berat.

“Eh, udah Dhuhur nih, yuk sholat. Kamu kan sekarang muslim, ya wajib sholat dong.”

“Oke.” (dijawab dengan semangat)

kurang lebih 3 jam kemudian waktu ashar tiba,

“Yuk, sholat. Udah Ashar nih.”

“Oh, lagi. Oke.”

kurang lebih 3 jam kemudian, waktu maghrib tiba,

“Yuk, sholat. Udah maghrib.”

“Hah? Ada lagi? Kan tadi udah.”

“Iya, yang ini beda. 3 rakaat aja.”

“Oke deh.”

Bayangin kalo seminggu, sebulan, setahun, jadinya kayak apa. Besar sekali kemungkinan dia meninggalkan sholatnya, bahkan kembali kepada kekafirannya hanya karna bosan dengan Islam.

“Kamu pindah agama lagi?”

“Iya, capek jadi muslim, sholat mulu.”

Jeng jeeeng..

Selain perasaan, seperti yang sudah saya sampaikan di atas, ada cara lain untuk mencari kebenaran, untuk memutuskan sesuatu secara tepat, yaitu dengan akal. Cirinya, dia akan memiliki argumen yang kuat dan setiap argumen yang dusampaikan berujung pada pemikiran yang paling mendasar yang sifatnya objektif dan rasional. Sehingga hal ini dapat menghantarkan pada kebenaran yang hakiki yang kemudian akan dikunci oleh akal sehingga tidaj mudah untuk berubah.

“Satu itu sama dengan tiga.”

“Mana bisa? Ya gak mungkin lah.”

“Mungkin, satu itu sama dengan tiga!”

“Enggak. Beda.”

kemudian yang ngeyel satu sama dengan tiga nodong pistol ke kepalanya yang nolak.

“Bilang tiga gak lo?”

“I-i-iyaa deh, ttti-ga.”

“Gitu dong dari tadi.”

Tapi apakah kemudian kebenaran yang diyakini oleh yang nolak  tadi jadi berubah? Tentu saja tidak, keyakinan terhadap jawabannya tetap sama, yang berbeda adalah perasaannya.

Proses menggunakan akal untuk memutuskan sesuatu ini yang disebut dengan berfikir. Syaratnya ada 4: ada alat indera, ada fakta yang terindera, ada otak, dan ada informasi yang sebelumnya. Keempat hal ini harus ada dan terkolerasi dengan baik untuk menghasilkan suatu pemikiran.

Maka dari itu, segala hal yang diolah oleh akal akan amat bergantung dari input informasi yang ada sebelumnya. Bagaimana mereka dapat memikirkan dan menindaklanjuti jelas berdasarkan informasi yang pernah masuk. Entah itu dari orang tua, dari lingkungan, dari buku-buku bacaan, maupun dari Quran. Dari sini lah seseorang dapat bersikap, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hadir dalam hidupnya.

Kapan-kapan nanti saya share tentang bagaimana cara berfikir, bagaimana caranya memikirkan sesuatu yang ghaib.

Kapan-kapan tapi. 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s