Permulaan yang Baru

Akhir tahun 2017 yang lalu, bayangan bagaimana cctv Allah akan menelanjangi seluruh kesalahan saya yang selama ini saya tutupi. Tak ada lagi lisan yang mampu digunakan untuk membela diri, tangan dan kaki saya pun pada hari itu akan menghianati saya dan mengatakan yang sejujurnya.

Ada kalanya saya merasa bahwa dosa saya terlalu besar untuk diampuni. Saya jijik mengingat semuanya. Saya takut ketika semua ingatan itu kembali datang. Mungkin ini cara Allah menghukum saya di dunia. Seluruh ingatan itu yang tak mudah lepas dari kepala saya.

Tapi Allah Maha Mengampun.

Kita sama-sama pernah mendengar bagaimana kisah Umar yang begitu kejamnya ketika belum mengenal Islam. Kita sama-sama tau bagaimana kebiasaan buruknya, bagaimana ringan tangannya dia, dan bagaimana pedang itu mudah sekali berayun dari tangannya. Anaknya sendiri bahkan pernah dibunuhnya.

Tapi Allah Maha Pengampun.

Setelah kenal Islam, Umar bertobat dengan sebaik-baik pertaubatan. Setiap malam dia menangisi dosanya layaknya anak kecil yang merengek meminta mainan.

Tapi kini cerita Umar telah beralih dari seorang pendosa besar menjadi pembela Islam yang namanya dikenal langit dan bumi.

Ustadz Adi Hidayat, dalam salah satu kajian Beliau pun pernah menceritakan tentang seorang pembunuh sekaligus peminum alkohol yang akhirnya memutuskan untuk bertaubat. Dia sesali seluruh dosanya, dia tinggalkan semuanya, dan dia mulai menapakkan langkahnya untuk berhijrah. Sayangnya, Allah mengambil nyawanya bahkan sebelum dia telah sempurna melaksanakan hijrahnya.

Betapa Allah Maha Pengampun.

Siapa pun yang membaca tulisan ini, mungkin juga pernah mengalami apa yang saya rasakan. Merasa bahwa dosa ini terlalu besar. Merasa sangat amat bingung dengan bagaimana menebusnya. Merasa seakan tak ada harapan untuk ke surga tanpa hisab.

Dua kisah tadi sebenarnya adalah pengingat bagi kita, pendosa ulung. Bahwa sebesar apapun dosa kita. Ampunan Allah jauh lebih besar dari itu.

Dosa besar di masa lalu, atau bahkan sedetik yang lalu kita lakukan tak menghalangi kita memulai langkah yang baru dengan sepenuhnya ketaatan. Meratapi dosa tanpa melakukan apapun itu tak baik. Kita lihat bagaimana Umar memberikan contoh pada kita bagaimana ia meratapinya di malam hari dan bagaimana dia berusaha sekuat tenaga melakukan segudang amal sholih di siang hari.

Ada harapan bagi kita. Ada Allah dengan segala ampunannya. Yang perlu kita lakukan hanyalah kembali padanya seutuhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s