Dengkulmu, Auratmu

Pemahaman tentang aurat sebenarnya tidak hanya dibebankan pada perempuan saja. Laki-laki pun juga. Sayangnya, banyak laki-laki jaman now yang lebih suka hangout dengan mengumbar aurat mereka.

Pada dasarnya, perempuan itu bukan makhluk visual yang kemudian mudah membayangkan aneh-aneh ketika melihat aurat lelaki. Tapi kami, perempuan, punya kewajiban yang sama layaknya lelaki, yaitu menundukkan pandangan. Maka, ketika kami melihat aurat lelaki pun sebenarnya kami juga kena dosa.

“Ih, kamu lebay deh, Lel. Yang biasa buka-buka aurat kan cewek bukan cowok.”

Mungkin banyak yang gak sadar dengan makin maraknya model pakaian ini. Celana pendek. Bukankah aurat laki-laki itu ada dari pusar hingga lutut. Maka, jika lututnya terbuka sama saja dengan memamerkan lututnya.

Yang lebih horor lagi ketika di kampus ada pertandingan olah raga. Kita akan semakin mudah melihat aurat-aurat itu dipamerkan secara terbuka.

Saya rasa bukan karna gatau batas aurat. Karna mereka yang biasa main pakai celana pendek (entah yang setinggi lutut maupun yang di atas lutut) itu juga selalu sangu sarung untuk dipakai saat sholat.

Pertanyaanya, apakah kita hanya diwajibkan menutup aurat saat sholat saja?

Tentu saja tidak.

Ketika kasus Rina Nose yang buka aurat tempo hari, itu sudah banyak bikin mbak-mbak dan ibu-ibu menyayangkan sikapnya. Tapi banyak juga yang gak aware kalo di sebelahnya, ada mas-mas, adik laki-laki, suami, atau ayahnya yang masih suka pakai celana agak gemes. Masih suka keluar rumah telanjang dada yang bikin udelnya kebuka kemana-mana.

Ini sebenarnya akibat jangka panjang dari sekulerisme yang terjadi selama bertahun-tahun. Kita sudah sangat amat terbiasa ber-Islam hanya ketika akan beribadah saja, tapi selebihnya kita sering lupa bahwa Islam mengatur segalanya. Pakaian untuk lelaki dan perempuan diatur secara sempurna dan terperinci. Pakaian untuk keduanya berbeda dan tidak boleh satu sama lain menggunakan pakaian lawan jenis. Itu haram. Batas aurat juga sudah cukup jelas. Sayangnya, ini masih sering diabaikan oleh sebagian orang.

“Suka suka gue dong, kan yang pakai baju gue.”

Iya, tak apa jika yang terkena dosa hanya kamu saja. Tapi sayangnya, ketidakpekaanmu pada aurat ternyata menyeret orang lain juga terjerumus dalam dosa.

Kami hanya diperbolehkan melihat auratmu sekejap saja, selebihnya dosa bagi kami. Lalu, bagaimana mungkin kami memalingkan pandangan kami jika sebagian besar orang laki-laki jaman now tidak menganggap bahwa dengkulnya juga auratnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s