hanyatulisan:

Saya masih seringkali membandingkan antara takdir hidup saya dengan takdir hidup orang lain. Padahal, bukankah setiap kehidupan dari masing – masing orang adalah istimewa bagi dirinya sendiri?
Ya, saya sudah memahami jauh jauh sebelum saya menjadi sedewasa sekarang. Bahwa selalu bahagia hanyalah omong kosong. Itu hanyalah ucapan untuk menguatkan. 

Saya pernah hidup pas pas an, dan nyatanya saya bisa melewatinya.
Saya pernah hidup sangat berkecukupan bahkan lebih, tapi nyatanya saya masih merasa kurang.
Saya pernah merindukan hujan, tapi ketika hujan datang seharian saya merasa kerepotan. Bagitupun sebaliknya.
Saya pernah sibuk seharian, hingga saya menginginkan waktu tambahan.
Saya pernah tidak ada kerjaan, hingga saya ingin memangkas waktu agar segera berputar.
Dan masih banyak lagi yang pernah saya alami, namun kadang hasilnya tak sesuai harapan.

Lalu, kenapa semua itu bisa terasa berbeda? Adalah cara saya menyikapi segala yang terjadi dalam hidup saya. Itu yang membuat berbeda.  
Jangan dikira saya selalu mengahadapi hidup dengan tegar, itu salah. Saya pernah rapuh, tapi saya mencoba bangkit. Karna saya mau tanggungjawab sama apa yang uda Allah percayakan ke saya. Saya mau akhir yang bahagia.
Jika hidup hanyalah perpindahan, saya ingin menikmati segala proses perpindahanannya.

Karna suatu hari nanti, saya pasti akan merindukan betapa nikmatnya hidup yang pernah saya jalani.

Dari
Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata :
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan
beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap
kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani
selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama
empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh
hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya
ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan
rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi
Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada
yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan
surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan,
dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka.
sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka
hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah
ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga  maka
masuklah dia ke dalam surga.

(HR. Bukhori dan Muslim)

Saya ingat hadist itu ketika baca tulisannya Mbak. Tentang bagaimana takdir manusia ditentukan sejak malaikat meniupkan ruh padanya. Ketetapan tentang rizkinya, ajalnya, amalnya, kecelakaannya, bahkan kebaikan yang akan dia dapatkan.

Sebenarnya hadist ini pengingat untuk kita semua. Tentang takdir, apa sih yang bisa kita lakukan dengan takdir yang telah atau akan menimpa kita? Tak ada. Ketika Allah menetapkan hal itu terjadi pada kita, maka terjadilah.

Tapi kita bisa memilih untuk melakukan apa dan harus bersikap bagaimana dengan takdir yang sudah Allah pilihkan pada kita. Jika itu adalah kebaikan, maukah kita memilih untuk bersyukur dan melanjutkan dengan kebaikan-kebaikan yang lain? Ataukah justru kita memilih untuk menyombong diri dari setiap kebaikan yang telah kita peroleh? Itu semua pilihan.

Pun ketika yang menimpa kita adalah keburukan, maukah kita bersabar? atau memillih untuk meratapi semuanya? Itu semua pilihan.

Tak ada yang berubah dengan hasil yang akan kita perolah. Mau bersyukur atau tidak. Mau berbuat curang atau tidak. Semua akan sama. Yang berbeda adalah keberkahan dari aktivitas yang kita lakukan.

Lalu bagaimana kita bisa iman kepada takdir membuat kita bahagia ketika tak semua takdir yang terjaddi pada diri kita adalah hal-hal baik?

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Di balik kesulitan ada kemudahan.” Q.S. Al Insyirah : 6

Bukan saya atau orang lain dengan segala kalimat penghiburnya yang menjamin, tapi Allah. Allah lah yang telah menjamin bahwa setiap hal buruk yang datang pada kita maka akan datang kemudahan dari sisi lain.

Kita sering melihat bagaiamana seseorang bisa menjalani hidupnya dengan begitu mudahnya di tengah-tengah kesulitan yang dia hadapi. Kita sering mempertanyakan bagaiamana dia bisa begitu bahagia dengan segala hal baik dan buruk yang terjadi padanya?

Jawabannya mudah. Iman.

Iman yang menuntunnya untuk bersabar dalam setiap ujian yang menimpa dirinya, alih-alih meratap secara berlebih. Iman yang menuntunnya untuk bersyukur atas segala kemudahan dan hal baik yang terjadi padanya, alih-alih bergembira secara berlebih. Iman juga yang menjadikan hidupnya menjadi jauuuh lebih tentram dengan segala hal yang ada di depannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s