Belajar dari Business Model Canvas

This is another Lecturer’s Diary. Tapi kepanjangan judulnya kalo dikasih keterangan Lecturer’s Diary.

Jadi, ceritanya semester ini aku ngajar mata kuliah kewirausahaan. Ini gara-gara jadi pembina Program Mahasiswa Wirausaha, trus Mami minta aku ngajar mata kuliah ini. Padahal yaaa… Akunya bukan entrepreneur. Pernah sih dagang, tapi ya cuma sekedar seneng-seneng doang. Buat dapetin materi yang mau disampaikan aku maksain diri buat mantengin kuliah-kuliah bisnis di Youtube, mintak catetan kuliahnya Mbak @jagungrebus yang hingga tulisan ini realese belum dikasih juga. Aku menagihmu Mbaak..

Tapi alhamdulillah ketemu Bang Alex Osterwalder dengan hasil disertasinya tentang Business Model Canvas di youtube. Ini mayan menarik karena banyak perusahaan gedhe kelas dunia macem Apple, Google, Amazon, dll yang mengaplikasikan bisnis model ini dan makin efektif kerjaan mereka.

Business Model Canvas itu sebenernya cuma bahasa yang dipakai oleh perusahaan untuk mengelola bisnis mereka. Bahasa ini yang kemudian digunakan untuk mendeskripsikan, menginovasi, memberikan tantang baru dalam usaha mereka, bahkan pilihan untuk mempivot (ganti arah) usaha mereka. Metode ini muncul bukan hanya melihat dari bagaimana model bisnis yang telah ada, pun melihat masalah yang paling sering muncul dalam organisasi, bla-bla-bla phenomenon.

Bla-bla-bla phenomenon ini adalah fenomena yang muncul karna masing-masing orang pada ngeyel dengan idenya dan susah buat dengerin yang lain. Kebayang gak ketika semua orang melakukan hal ini dalam organisasi? Ruwet banget kan?

Ini sebenarnya adalah hal yang biasa karna nalurinya manusia itu ya begitu. Punya ego yang gak mau dikalahin orang lain. Pendapat yang dikeluarkan pun tentu bergantung dari banyak aspek. Mulai dari karakter, latar belakang, kecenderungan, gender, hingga keahlian. Jangan bayangin perusahaan dengan banyak orang deh, tengok keluarga sendiri aja. Tengok saudara sendiri, yang lahir dari rahim yang sama, benih yang sama, tapi ternyata masih juga punya perbedaan.

Dalam salah satu kuliah tentang materi ini, ada pemateri yang ngasih analogi pemusik ke pesertanya. Dalam satu kelompok pemusik, kita akan lihat ada orang yang bisa main gitar, bisa main harpa, bisa main biola, bisa main bass, dll. Gimana misal mereka main sendiri-sendiri sesuai keahlian mereka? Ruwet kan? Kita gak akan ngerti ini sebenernya musik apaan. Tapi beda ketika ada partitur yang sama di depan mereka. Mereka memainkan musik sesuai dengan partitur itu. Apa yang kita dapati? Harmoni. Kita akhirnya ngeh kalo mereka mainin musik dangdut misalnya.

Business Model Canvas ini partiturnya dalam berbisnis. Dia yang menunjukkan arah usaha tersebut mau dikemanain sih.

Pas liat beberapa postingan di ig tentang beberapa pandangan orang tentang banyak case, mbuh kenapa kok inget bisnis model.

Dalam menjalani kehidupan sebagai manusia, kita ini pasti butuh sebuah bahasa, butuh tools yang digunakan untuk menyelaraskan semua pikiran orang yang tentu sangat beragam.

Ambil aja satu contoh kasus, POLIGAMI. Kalo mau survey ke ibu-ibu, kebanyakan mungkin akan menjawah begini, “mau poligami? Langkahi dulu mayat gue.” Tapi jawabannya akan sangat berbeda kalo nanyak ya ke bapak-bapak.

Kasus lepas hijab yang lagi viral pun juga akan sama. Siapa dulu yang ngomong? Kalo fansnya si mbak, ya jelas aja belain. Bilang ini hak asasi manusia, dst.

Kasus pornografi dan pornoaksi misalnya. Inget gak apa yang orang bilang ketika UU terkait masalah ini mau disahkan?

“Orang yang ada di Papua yang biasa pake koteka gimana dong? Mbah-mbah di desa yang biasa pake daleman doang gimana dong?”

Akhirnya disepakati bahwa batasannya sopan sesuai tempat aja. Jadi, misal ada orang pake bikini di kolam renang dan pantai ini masih tetep dalam koridor sopan. Padahal yaaa dia itu hampir telanjang. Sopan dari Hongkong?

Atau kasusnya Om Ridwan Kamil yang lagi dibully gegara bilang “mengizinkan” istrinya untuk sekolah lagi dan melakukan segala aktifitasnya. Ada yang pro sama Om RK, ada juga yang menghujat karna dianggap mengekang istrinya. Kredibilitas sebagai wali kota pun diragukan hanya karna masalah ini.

Ya gitu lah ketika standar yang diambil hanya dari manusia aja. Semuanya akan serba relatif. Kalo si A sukanya begini, maka aturannya jadi begini. Kalo si B sukanya begitu, maka aturannya jadi begitu. Kalo si C sukanya begono, maka aturannya jadi begono. Dan begitulah seterusnya.

Karna itu jelas, kenapa kita butuh aturan yang sudah pasti benar dan baik. Apakah itu dari manusia? Tentu saja bukan. Aturan yang digunakan sudah jelas harus berasal dari Sang Pencipta sekaligu Pengatur Kehidupan.

Apa itu? Islam.

Islam ini datang untuk menjadi petunjuk untuk menyelesaikan persoalan hidup, untuk menyelaraskan tanpa menghilangkan karakter bawaan seseorang, dan tentu saja untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Masalah poligami tadi, mau suka atau gak. Poligami akan tetap menjadi mubah. Gak akan berubah menjadi halal atau haram base on kesukaan.

Hijab juga gitu. Ini wajib untuk mbak-mbak muslim yang udah baligh dan haram untuk mas-mas. Karna sekarang ini mulai ada mbak-mbak yang ogah pake hijab, tapi mas-masnya mau banget pake hijab. -_-

Masalah pornografi dan pornoaksi juga gak bakal seribet itu. Cukup pakai aturan batas aurat untuk lakik dan perempuan. Jadi jelas kan hukumnya. Mentritmen yang gak sesuai dengan aturan ini pun jelas gitu. Gak perlu debatable yang ngh banget.

Hingga menyikapi sikap Om RK pun jelas juga. Gak ada yang salah dengannya, karna ya memang begitulah syariatnya. Mau suka, mau gak. Hukumnya gak akan berubah.

Kasus tadi itu masih masalah individual loh. Lalu gimana kalo yang dicontohkan tentang aturan bernegara? Bagaimana kalo yang dicontohkan adalah aturan berpolitik? Aturan pengaturan aset negara?

Islam punya solusi dari semua itu sebenernya. Sayangnya, kita masih suka pilih-pilih dalam ngambil syariatnya.

Kenapa? Ada yang gak suka?

Itu wajar kok. Nabi nyampaiin agama ini aja dihujat, apalagi kita yang gak dijagain sama sekali perilaku dan perkataannya.

Ada yang suka atau gak. Ada yang nolak atau gak. Kebenaran harus terus disampaikan. Indahnya hidup dengan Islam tetap harus diserukan.

Gapapa ditolak, coba lagi. Toh bukan kita yang punya hak ngasih hasil. Tugas kita ini cuma berikhtiar. Jadi biar Allah yang nolong based on ikhtiar kita.

Papah Setnov aja ikhtiarnya warbyasah. Masa kita kalah? 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s