Siap atau Ngebet (?)

Banyaknya orang pacaran di sekitar kita dengan role model pacaran yang makin bukan main membuat sebagian orang yang enggak untuk pacaran karena Allah memilih untuk menikah di usia muda. Lepas dari bagaimana kesiapan orang itu dalam membina rumah tangga. Lepas dari kesadaran utuh bahwa untuk membina rumah tangga perlu kedewasaan sikap dan pemikiran kedua belah pihak untuk tidak hanya mengkondisikan keliarga kecilnya pun juga keluarga besarnya. Ini yang adakalanya belum dimiliki mereka yang memaksakan diri untuk menikah di usia muda.

Bekal tak cukup. Tapi sudah berani bilang, “saya siap apapun yang terjadi.”

Ada yang salah? Syariatnya membolehkan seseorang memilih menikah untuk menghindari zina. Tapi syariat pun mengatakan, “jika belum siap, maka berpuasalah.”

Masalahnya, gak semua sadar bahwa dirinya ini benar-benar siap menikah. Bukan hanya sekedar pingin menikah. Tapi siap untuk menikah.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita bisa mengukur kesiapan kita?

Untuk tau siap atau tidaknya kita menikah sebenarnya cara yang paling mudah adalah menanyakan kepada orang tua kita perihal ini. Orang tua kita tentunya sudah jauh lebih memahami seluk beluk pernikahan dibandingkan dengan kita. Tanyakan tentang hal ini. Jika memang mereka merasa kita belum siap. Ya sudah, gunakan waktu yang ada dan umur yang tersisa untuk terus mengupgrade diri menjadi lebih baik.

Cara yang lain adalah mengecek kembali bagaimana kita memenuhi hak orang lain dalam keluarga. Sebagai anak, sudahkah kita memenuhi hak orang tua? Tentang bakti kita, intensitas pertemuan, dan banyak hal lain. Sudahkah kita memenuhi hak saudara kandung kita?

Jadikan ini sebagai tolok ukir untuk menggambarkan diri sendiri ketika kita menikah nanti. Jika diri sendiri saja belum cukup mampu memenuhi hak-hak orang yang sudah bersama kita hingga dengan usia saat ini, bagaimana kita bisa memenuhi hak orang yang sangat amat baru yang masuk dalam kehidupan kita? Jadi cek kembali.

Cara ketiga adalah mengecek dalam diri sendiri, sudahkah kita siap untuk menerima, menolak dan ditolak? Artinya, sudahkah kita siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Kita memilih bukan karna orang tua kita sukanya itu. Bukan memilih karna adanya itu. Tapi kita memilih karna dia layak untuk dipilih. Tentu saja standar pilihannya adalah agama.

Kenapa?

Karna kalo udah nikah, yaudah mau gimana lagi. Jadi, mumpuuung masih belum menikah pertimbangkan masak-masak.

Menikah bukan cuma soal pacaran halal, mesra-mesraan dengan suami, gendong-gendongan, and something like that. Gak kan? Pernikahan lebih dari itu yang untuk menjalaninya butuh tidak hanya keinginan untuk menikah tapi kesiapan untuk menjalaninya.

Selamat berproses. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s