Hak

“Bu, teman saya ada yang lesbi. Trus gimana caranya ngasih tau dia biar gak gitu lagi?”

Jeng jeng jeng jeeeeng…

Baru kali ini gue dicurhatin masalah beginian.

“Dia itu susaaaah banget dikasih tau. Temen-temen saya yang lain juga udah usaha ngasih tau dia, kalo yang dilakuin itu salah. Tapi tetep aja gak berhasil.”

Hmmmmm…

Kita nemu lagi satu korban dari sistem LGBT yang makin marak. Pelaku LGBT selalu berdalih bahwa apa yang mereka lakukan ini adalah hak asasi mereka.

“Terserah gue dong mau suka siapa, orang gue yang jalanin kok, bukan situ.”

Temennya mahasiswa saya ini pun juga gitu. Bahkan dia sampek punya cita-cita mau ke Amrik hanya untuk mendapatkan legalitas dan “orang yang sama-sama memahami dia”.

Bicara tentang hak, benarkan manusia punya hak penuh atas dirinya sendiri?

Benarkah manusia punya kebebasan penuh untuk mengatur dirinya sendiri?

Jika iya, coba sih atur denyut nadi sendiri, bisa gak? Coba sih dihentikan bentaran gitu. Bisa gak?

Atau sistem pencernaan deh. Lambungnya kasian kan kerja terus. Suruh dia berhenti kerja, bisa gak?

Gak bisa kan?

Jadi, kenapa masih bilang kalo seluruhnya ini adalah hak kita?

Manusia itu memang dikasih ruang lingkup gerak yang memungkinkan dia ngelakuian apa yang dia mau. Tapi ketika manusia itu sadar bahwa semua itu terjadi karna under permission dari yang ngasih hidup. Masa sih kita mau hidup semau-maunya gitu?

Apaaa aja semau gue?

Ketika kita sadar bahwa gak semua yang melekat pada diri kita ini bisa sepenuhnya kita atur, mestinya kita sadar bahwa kita ini bukan siapa-siapa, gak bisa apa-apa juga kalo dibisain. Ini masih tentang diri sendiri, apalagi orang lain. Jadi, gak bisa juga kita bikin aturan sendiri hanya karna kitanya suka dan gak suka.

Aturannya udah ada. Toh ya, aturan-aturan tadi dibuat agar kehidupan, alam semesta, dan manusia itu sendiri gak rusak.

Tentang LGBT, gue baru denger kabar ada seorang mahasiswa gue gak sebut kampus mana ya, dia punya penyakit dubur. Duburnya rusak sih. Kenapa?

Karena saking seringnya melakukan sodomi.

See?

Ketika semua berjalan gak sesuai aturan, ya rusak. Including penyakit HIV/AIDS. Itu bisa ada ketika orang ganti-ganti pasangan. Padahal aturannya jelas kan? Janda itu baru boleh nikah lagi setelah masa idahnya selesai. Ternyata, menurut penelitian, perempuan itu emang bener-bener bisa membersikan dirinya dari sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya tadi dalam jangka waktu idah tadi. Beda sama lakik. Tapi kan virus tadi nyebarnya juga karna hubungan seksual. Misal perempuan tadi kena, lakiknua kan juga bisa. Trus nular nular nular gitu.

Kenapa?

Karna tidak mengindahkan aturan yang udah ada. Udah dibilangin gak boleh zina, kok ya masih aja zina.

Misalnya, semua itu memang dalam kendali kita seutuhnya. Penyakit-penyakit begituan, apa ya mungkin ada?

Jadi, benarkah kita punya hak utuh untuk mengatur hidup kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s