Akal v.s Syara’

“Kenapa ya Lel, alat musik tiup itu gak boleh?”

“Pertanyaan yang sama dengan kenapa ya kita harus sholat, harus puasa, harus zakat? Kenapa ya kita gaboleh makan babi, gak boleh milih pemimpin kafir, gak boleh minum khamr?”

“Karena yang dibolehin ada manfaatnya dan yang gak dibolehin ada mudharatnya.”

“Jadi, misal kita gatau manfaat dan mudharatnya apa kita gak taat? Sekalipun dalil yang menjelaskan sudah benar-benar jelas?”

“Ya gak gitu juga sih.”

Islam adalah agama pemikiran. Islam diyakini, diimani, dan kemudian segala aturannya dilaksanakan bukan hanya atas perasaan suka atau tidak suka semata, tapi dari serangkaian proses berfikir yang dapat memuaskan akal dan menentramkan hati. Ayat pertama yang turun dalam Al Quran pun bukan perintah tentang ibadah, tapi iqra’. Kita dituntut untuk membaca lebih, menelaah lebih, dan menganalisa lebih dalam sebelum melakukan sesuatu.

Alasan-alasan ini yang kemudian dilakukan oleh sekian banyak muslim untuk mencari kebenaran agama mereka. Bukan karna mereka tak percaya, tapi untuk terus mengokohkam pondasi keislaman mereka. Ada yang datang ke majelis ta’lim, ada yang membaca buku-buku Islami, mendengarkan ceramah online, liqa’ atau halaqah, ada juga yang mencari lewat sains. Mereka membuktikan manfaat-manfaat dari perintah-perintah Allah. Mereka mencoba membuktikan kebenaran dari ayat-ayat Allah.

Kita sendiri mungkin sudah mengalami sekian banyak proses untuk mengkaji Islam. Dari cari manfaat, sampai dengan mencari dalil yang menguatkan. Pertanyaannya, mana yang kemudian lebih membuat kita yakin dan dengan mudah melaksanakan perintahnya? Mana yang membuat kita lebih khawatir ketika kita meninggalkannya?

Kita perlu menyadari bahwa akal manusia ini terbatas. Sedangkan ilmu Allah itu luasnya tak terbatas. Ketika kita mencari manfaat-manfaat dari apa yang diperintahkan, mampukah kita melakukan semuanya? Yang kedua, bagaimana cara kita mencari tau semuanya?

Ketika kita melakukan penelitian, jelas akan ada refernsi yang diacu sebagai landasan dari penelitian itu. Teori-teori yang sifatnya filosofis sekali yang digunakan untuk mengkaji lebih dalam. Penelitian-penelitian terdahulu yang dapat dibuktikan keabsahannya juga dijadikan landasan.

Saya jadi semakin mempertanyakan kembali, kenapa kita bisa lebih percaya hasil-hasil penelitian yang disusun oleh manusia, yang masih memungkinkan untuk salah, dibanding percaya dengan kitab suci yang sudah jelas datang dari Pemberi Ilmu?

“Lalu peran akal dimana kalo apa-apa dalil, apa-apa dalil?”

Sebenernya pertanyaan ini bisa dikembalikan lagi dengan, “lalu peran akal dimana kalo apa-apa liat buku, apa-apa ngutip omongannya profesor?”

Sama saja kan?

Semua butuh proses berfikir. Pembedanya adalah mana referensi atau acuan yang kita pakai hingga kita benar-benar meyakininya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s