Mbak Din, saya boleh minta pendapat? Singkat cerita ada sahabat yg akan segera menikah dg lelaki yg dijodohkan dgn nya sebentar lg. Dia bertanya kpd saya, gini “Kalo misalnya kamu punya masa lalu yg buruk banget, kamu bakal cerita engga ke pasanganmu? Di satu sisi itu aib, tp di sisi lain pasangan jg perlu tau krn takutnya tau dari org lain.” Menurut Mbak Din gimana? Jujur saya takut mau memberikan pendapat Mbak, saya takut pendapat saya kurang tepat dari segi agama ataupun secara umum.

jagungrebus:

Mohon maaf lama balasnya karena saya merasa tidak punya ilmu yang cukup untuk menjawabnya @eskacanghijau . Jawaban saya ini mohon jangan dijadikan acuan kebenaran ya, ini hanya kesimpulan2 yang saya dapatkan dari sedikit sekali informasi yang masuk. 

Yang saya tahu, tidak ada kewajiban kita (bahkan dilarang) untuk menceritakan keburukan kita di masa lalu pada orang lain termasuk pasangan, sepanjang sudah bertaubat. Kalo misalnya dulu make narkoba, minum alkohol, ga perlu lah pasangan tahu juga kecuali ada treatment yang perlu dilakukan. Kalaupun nanti pasangan tahu dari orang lain, itu resiko dosa masa lalu, tapi kita ga perlu kok cerita ke pasangan. 

Berdasarkan kisah Umar bin Khattab RA ketika beliau menjadi khalifah, aib masa lalu tidak perlu diceritakan, termasuk pada pasangan. Ketika itu seorang laki – laki mendatangi Umar RA dan bercerita bahwa putrinya akan menikah dengan seorang laki – laki. Dahulunya, perempuan ini berzina dan sekarang sudah bertaubat, apakah perempuan ini perlu bercerita pada calon suaminya? Umar RA menjawab kira2, “Allah sudah menutupi aibnya, maka mengapa hendak kau sebarkan aib itu?”

Tapi kisah Umar RA ini, saya tidak tahu apakah perempuan itu janda sehingga kalaupun dia berzina tidak akan ketahuan oleh suaminya kelak? Atau apakah di zaman itu orang belum bisa membedakan mana gadis dan mana yang sudah bukan? Ini bagi saya masih misteri, karena mungkin saya belum tahu kisah lengkapnya.

Beberapa riwayat lain juga memerintahkan untuk menutup aib. Lengkapnya bisa merujuk pada buku – buku Islam atau web Islam yang terpercaya. Ada beberapa pendapat dari yang pernah saya baca. Salah satunya kukuh berpegang bahwa keburukan masa lalu tidak boleh diceritakan. Satunya lagi jika keburukan itu sudah pasti akan ketahuan (misalnya dia sudah tidak perawan padahal belum menikah), sebaiknya diceritakan dengan hati2, minta bantulah keluarga jika tidak sanggup. 

Berdasarkan beberapa cerita yang saya dengar dari teman – teman laki saya, mereka kecewa pada istrinya yang sudah tdak gadis bukan karena mereka tidak gadis, tapi karena si istri tidak jujur di awal.

Nah, dua pendapat ini yang bikin saya bingung karena memang saya bukan ahlinya. Jadi, saya punya ide bagus. Gimana kalo kita tanyakan pada @deamahfudz atau @lellyfitriana saja? Biar dijelaskan dengan terstruktur dan ilmunya jelas. Semoga bisa jadi ilmu bagi yang lain. *lembar batu sembunyi tangan*

It’s all about your choice. Terserah sih mau diceritakan atau tidak. Karna masing-masing punya sisi baik dan buruk.

Pertama, Allah itu Maha menutup aib. Kalo Allah aja mau nutupin aib-aib kita, ya untuk apa kita buka.

Kedua, ketika ta’aruf ada baiknya hal-hal penting yang terkait dengan kesehatan hingga yang reproduksi juga disampaikan. Misal, karna pernah berzina trus sama Allah dikasih azab kena penyakit tertentu. Ya seharusnya disampaikan. Karna kalo gak, malah jadi dzolim ke calon pasangan. Ini pernah diceritakan detail di novel dan film Ketika Cinta Bertasbih.

Tapi misal gak ada apa-apa. Itu terserah mau bagaimana.

Ada kisah serupa, kisah nyata tentang pasangan yang akan menikah. Mereka sudah mau nikah seminggu kemudian. Tapi kemudian calon mempelai perempuan gak tahan menyembunyikan rahasia besarnya. Akhirnya dia cerita semuanya ke pasangannya.

“Terserah kamu sekarang mau gimana.”

Nikahan udah tinggal seminggu dikasih cerita begituan. Mau gak jalan, semua udah ready. Mau jalan, kok gimana. Akhirnya, laki-laki tadi milih untuk memaafkan dan menerima pasangannya.

Masing-masing pilihan itu punya resiko dan konsekuensi. Misal milih diam, mungkin kitanya yang akan digelayuti perasaan bersalah yang berkepanjangan. Sekali pun kita sendiri sudah bertaubat.

Misal diceritakan, bisa saja rencana pernikahan itu batal, atau kalau saja diteruskan seiring berjalannya pernikahan, masalah itu kemudian diungkit kembali.

Jadi, terserah sih mau cerita atau tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s