Sidang

Tentang sidang, udah buanyak sekali sidang yang gue laluin. Ya pas jadi mahasiswa (ya sidang skripsi atau sidang-sidang lain macem LPJ ormawa atau perubahan AD ART0, ya pas jadi dosen (sebagai pembimbing maupun penguji).

Sidang itu punya sensasi sendiri-sendiri. Ada orang yang udah parno duluan pas denger kata “sidang”, seakan mau diadili. Ada juga yang woles setengah mati karna emang udah super siap sama materinya.

Dari fungsinya sendiri, sidang memang dipakai untuk merumuskan hingga dapat suatu keputusan tertentu. Pas dulu aktif di ormawa, sering buanget dateng ke sidang yang always makan waktu berjam-jam sedangkan yang dibahas intinya cuma tata bahasa yang menurut gue gak penting-penting amat. Pas jadi dosen, dan sudah melalui proses jadi mahasiswa yang harus jalani sidang proyek akhir atau skripsi, gue ngeh kalo sidang ini dipakai untuk memutuskan anak yang barusan presentasi tadi layak atau tidak dikasih gelar Sarjana, Master, atau Doktor di belakang namanya. Orang yang memutuskan dia lulus ini yang kemudian bertanggung jawab penuh terhadap keputusannya.

That’s why, namanya sidang.

Tapi orang bayangannya udah gak-gak duluan pas denger kata ini. Macem mau diadili gitu. Mau dihukum gantung apa gimana kali ya. Padahal ya gak.

Gue sendiri pas dulu mau sidang, sebenernya ya grogi. Even gue tau kalo di dalam intinya gue paham, ngeh, sadar secara utuh dengan apa yang gue sampaikan, semua akan baik-baik saja. Tapi yang namanya demam panggung itu pasti ada pas lo mau show off kan.

Actually, kalo dipikir-pikir, gak cuma pass mau sidang kok grogi berat itu. Pas pertama kali mau ngajar, grogi. Pas pertama kali presentasi depan perusahaan, grogi. Pas pertama kali ikut seminar nasional/internasional, juga grogi. Intinya, gue yang notabene ekstrovert dan menikmati diperhatiin orang aja bisa mules setengah mati pas mau tampil di depan umum. Apalagi yang gak kayak gue.

Kalo gue, pas lagi super cemas gitu biasanya gue telpon ibuk. Minta doa restu, ya sekalian pengen denger suaranya aja biar tenang. Karna sms aja gak cukup. Gue butuh denger langsung biar gak mules. Dan biasanya langsung mimbik-mimbik. Hahaha..

Intinya gini, mengerikan atau gaknya sidang itu tergantung dari gimana lo mengintrepertasikannya aja. Semakin buruk lo gambarin dalam pikiran lo, makin grogilah dikau.

Jadi, saran gue. Dari pada lo worry sama hal yang gak bisa lo jangkau. Mending lo siapin apa yang lo kudu sampaikan. Kalo sidang skripsi atau TA, ya banyakin bimbingan dan siapin materi presentasi dengan sangat baik. Kalau ini sidang LPJ atau sidang-sidang lain, ya siapin bahannya. Kaji ulang dulu sebelum dikasih ke forum. Lo ini bukan terdakwa yang kudu pasrah aja sama hasil ikhtiarnya pengacara, jaksa, dan hakim. Lo bukan objeknya. Lo ini subyek yang mengusahakan segalanya. Keputusan akhir itu ada di tangan-Nya. Tapi kita masih dikasih waktu, dikasih kesempatan untuk mengusahakan terbaik dan berdamai dengan keadaan. Tinggal kita pilih mana.

Buat yang lagi sidang atau akan sidang. Do your best and good luck. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s