Korban

Ada anak yang kemudian jadi sangat amat pendiam dan punya kemampuan berfikir yang tak sama dengan yang lain. Setelah ditelusuri, sedari kecil dia tak pernah tinggal dengan orang tuanya. Berangkat malam hari ketika akhir pekan berakhir dan pulang di malam hari pula ketika akhir pekan berawal. Bisa jadi segala kendala dari proses berfikirnya terjadi karena masalah kurangnya kasih sayang yang dia terima dari rumah.

Bisa jadi dia tak mampu berkomunikasi dengan baik karna kontemplasi yang ada dalam dirinya. Perasaan antara ingin memahami orang tuanya yang bekerja untuknya dan perasaan haus kasih sayang dari mereka.

Di sisi lain, ada seorang anak dan ayah tunggal yang tak punya tempat tinggal. Mereka terpaksa tidur di masjid karna tak tau harus tidur di mana. Sayangnya, tak lama semua berlangsung. Mereka diusir.

Beruntung mereka bertemu orang dermawan yang menyediakan rumahnya yang lain untuk mereka tinggali. Mereka tak lagi harus tidur di jalanan atau dari masjid ke masjid lagi.

Kisah yang serupa akan dapat kita amati dengan sangat amat mudah dari kanan kiri kita sendiri. Mereka adalah contoh dari korban kapitalisme. Mereka adalah korban dari sistem.

Anak yang haus kasih sayang terpaksa harus merelakan orang tuanya sekali pun dia tak mau. Hanya agar dapat bertahan hidup lebih lama dengan kondisi hari ini.

Anak dan ayah tadi pun terpaksa membuang urat malunya. Hanya agar dapat bertahan hidup lebih lama dengan kondisi hari ini.

Sejarah seringkali menceritakan ketika masa daulah Islam tegak, tak ada kasus yang demikian. Mereka hidup dengan jaminan dari daulah. Kehidupan mereka sibuk dengan perbaikan aqidah mereka. Masalah duniawi? Itu urusan daulah sebagai ibu dan ayah untuk ummatnya.

Hari ini lain. Orang miskin dianggap malas bekerja. Orang pengangguran dianggap tak giat mencari kerja. Orang yang tak mampu membeli beras diminta untuk berdiet. Sedangkan pemimpinnya, sibuk menggemukkan kantong pribadi. Enggan bila tampak lusuh. Enggan bila nampak kudet. Orang miskin, pengangguran, orang-orang yang terlantar, dilupakan.

“Makanya kerja, kerja, kerja. Biar gak susah.”

Lalu apa peranmu sebagai pemimpin? Bukankah untul menaungi ummat?

Tak ingatkah bagaimana agamamu mencontohkan menjadi pemimpin yang baik lewat para nabi dan para khalifah terdahulu? Adakah yang seperti dirimu?

Ummar bin Khattab dulu begitu takut saat ada keledai yang terjatuh karna lubang kecil. Sedangkan hari ini ada sekian banyak kecelakaan yang menewaskan banyak jiwa. Ada yang tak berkendara pun tewas atau memilih bunuh diri karna tuntutan ekonomi. Apa yang hendak kau bawa dihadapan Tuhanmu? Tak malu kah kau? Tak takutkah kau?

Atau kau sedang lupa bahwa kau akan mati. Atau kau sedang lupa bahwa kau ini hanya manusia. Hingga kau bisa bertingkah layaknya Tuhan.

Semoga kau lekas sadar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s