Koreksi

Kebanyakan dari mahasiswa akan bahagia ketika mendengar berita bahwa soal ujian mereka sifatnya terbuka. Dulu, ketika saya menjadi mahasiswa pun demikian. Faktany, soal terbuka itu cuma jebakan batman. Saya baru tau setelah pelatihan PEKERTI (lupa kepanjangannya apa, dosen baru pasti dikasi pelatihan ini).

Soal terbuka itu bukan soal hafalan tapi tentang pemahaman menyelesaikan permasalahan. Jadi, adakalanya even soalnya terbuka jawabannya mau dicari sampai kiamat juga gak akan ada di catatan. Adakalanya demikian.

Spesial untuk UAS kali ini saya buat demikian. Penasaran dengan hasilnya, setelah UAS berkas jawaban saya ambil dari panitia. Belum dikoreksi sih, cuma dilihat sekilas aja. 2 folio bergaris itu full. Tapi kebanyakan tidak menjawab pertanyaan yang saya tanyakan. Ada hitungan yang harus diselesaikan dan ada spesifikasi alat yang harus dipilih. Sayangnya, mereka hanya menghitung tanpa memilih peralatan yang dipasang.

Ada juga yang belum menyelesaikan keseluruhan soal. Ada yang super ngawur. Ada yang sudah pasrah. Semua kentara sekali dari lembar jawaban mereka.

Saya agak kasian dengan mereka yang sudah berusaha keras. Tapi faktanya, ketika mereka tak mampu memahami persoalan saya pun tak pantas membenarkan jawaban mereka atau memberi nilai bagus kepada mereka. Bukankah pemahaman yang lebih penting dibanding nilai di atas kertas?

Lihat lembar jawaban mereka kemudian saya ingat dengan catatan amal. Masing-masing manusia punya sepasang malaikat yang mencatat amal baik dan buruknya. Amal buruk akan mendapat dosa. Amal baik akan mendapat pahala. Keduanya memang tak tampak, tapi iman yang membuat kita meyakini hal itu. Iman juga yang mendorong manusia untuk berbuat baik dan menghindari sesuatu yang buruk.

Melakukan amal ternyata tidak bisa asal. Dia butuh ilmu. Karna amal baik saja ternyata tidak cukup. Amal tersebut harus diniatkan untuk Allah dan dilakukan sesuai dengan syariat.

Lalu bagaimana dengan mereka yang telah mengusahakan kebaikan tapi tak sesuai dengan syariat?

Maka amalnya akan hangus.

Saya ambil contoh tentang aturan hijab. Kita tidak bisa memungkiri muslimah hari ini berhijab karena trend fashion hijab yang semakin berkembang. Tapi pun ketika kita sesuaikan dengan Al Quran tak semuanya sesuai dengan syariat. Ada yang khimarnya tak menutup dada, ada yang masih memperlihatkan lekuk tubuh, ada yang tak menutup aurat dengan sempurna, ada yang menyerupai punuk unta, bahkan ada yang berhias secara berlebihan. Niatnya baik. Syiar Islam agar muslimah mau berhijab. Tapi apakah sesuai dengan Al Quran?

Al Quran tidak perlu direvisi agar sesuai dengan trend fashion hari ini kan?

Contoh lain tentang rias pengantin muslimah. Katanya syar’i. Tapi pakaiannya berlebihan. Bulu mata palsu masih digunakan. Belum lagi publikasi hasil riasan yang disebar di sosial media yang mau tak mau membuat orang lain pun terpaling melihatnya.

Islam itu jelas. Islam tak pernah mengajarkan yang setengah-setengah. Batas antara halal dan haram pun jelas. Yang membuatnya bias adalah minimnya pemahaman kita tentang Islam dan minimnya pula kemauan kita untuk tau hukum lebih dalam. Ada kalanya kita takut untuk tau lebib jauh agar kita tetap aman dengan ketidaktauan kita. Berharap bahwa ketidaktauan ini bisa menjadi hujjah di hadapan Allah nanti. Sayangnya tidak. Di tengah perkembangan teknologi informasi saat ini, hal itu tak lagi mampu menjadi hujjah.

“Lalu, sudahkah kamu mencari tau?”

Akan menjadi pertanyaan selanjutnya yang pun harus kita jawab.

Akan lebih menyenangkan bila kita masih diberi waktu untuk menggali ilnu lebih dalam dan melakukan koreksi diri sebelum hari perhitungan itu datang. Akan lebih menyenangkan bila kita masih punya waktu untuk membenahi segala kesalahan dengan pemahaman yang utuh tentang Islam sebelum habis usia. Kita memang tak pernah tau kapan keduanya akan terjadi. Tentang kematian dan kiamat, keduanya masih menjadi misteri yang tak seorang pun dapat memecahkannya. Tapi kita masih punya hal lain yang sudah seharusnya menjadi fokus utama kita.

Sudah seberapa dalam ilmu kita?
Sudahkah kita ber-Islam secara kaffah?
Sudahkah niat kita lurus karena Allah?
Sudahkah semua amal kita sesuai dengan syariat?

Semoga kita masih diberi waktu untuk memperbaiki timbangan amal kita. Semoga kita pun mati dalam kondisi terbaik, yaitu khusnul khotimah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s