Pilihan

Semasa kuliah dulu saya punya temen beraneka ragam. Dari anak yang puuuaaaling males, suka bolos, sampai anak yang puaaaling rajin. Dari anak tukang jamu sampai anak direktur. Banyak. Saya sering ngobrol sama mereka. Tukar pikiran, sharing ilmu, atau sekedar haha hihi gak jelas.

Hari ini memori saya kembali diingatkan pada adik kelas beda jurusan (iya, gue seterkenal itu sampai ngobrolnya sama beda jurusan :p) tentang hidup dan segala pilihan yang ada di dalamnya.

Adik kelas saya ini percaya buanget bahwa setiap orang akan berubah. Anak yang hidupnya sekarang haha hihi masih bisa sukses dengan gaya hidupnya yang masih sama. Intinya, let it flow aja. Kalo ntar ditakdirin sukses kan bakal sukses. Ngikut ajalah.

Sedangkan saya, saya ini ada di tim yang memperjuangkan hidup lewat pilihan-pilihan yang kita ambil. Kita gabisa ngebiarin diri sendiri ikut arus gitu aja. Kita yang punya andil dalam hidup kita.

Kalo di tulisan Qadha dan Qadar yang pernah saya tulis, ini macem debatnya Qadariyah dan Jabariyah.

Mana yang bener?

Gak ada. Wkwkwk..

Adik kelas saya keliru karna dia lupa bahwa kita dikasih andil untuk memilih yang di dalamnya ada hisab dari setiap pilihan itu. Kita bisa memilih masa depan dengan menjadi seperti apa hari ini. Orang yang sekarang hafidz quran, pasti masa lalunya juga dipenuhi dengam perjuangan melelahkan bagaimana menghafal quran. Mulai dari perbaikan makhraj huruf, tajwidnya, bacaannya, sampai akhirnya dia boleh menghafal. Menghafal sendiri tentu butuh konsentrasi tinggi yang gak bisa disambi mikirin gebetan yang gak jelas jeluntrungannya. Gak bisa. Mereka memilih menyisihkan waktunya untuk belajar dan berlatih.

Valentino Rosi bisa sehebat itu dibalapan juga karna memilih meluangkan banyak waktunya untuk belajar dan berlatih balapan. Menguasai medan.

Kita gak bisa minta sukses tanpa ada usaha di awal. Kita gak bisa masuk surga tanpa ada usaha di awal.

Jadi, tentang slogan, “muda senang-senang, tua kaya raya, mati masuk surga”. Saya cuma bisa mempertanyakan kembali:

Bapakmu konglomerat sampai situ gak perlu kerja keras biar tuanya langsung kaya raya?

Situ punya orang dalam di surga sampek segitu pedenya gak ngapa-ngapain tapi surga?

Apa yang terjadi hari ini adalah pilihan-pilihan yang kita ambil kemarin. Sedangkan hari esok adalah tentang pilihan-pilihan yang kita ambil dan usahakan hari ini.

Tentang debat saya sama adik kelas tadi. Saya pun keliru karna menganggap bahwa saya yang paling punya kendali atas hidup saya. Saya lupa bahwa ada Allah yang pun ikut andil di dalamnya. Ada hasil yang terkadang gak harus linier dengan usaha. Saya lupa dengan itu.

Pilihan-pilihan kita memang yang akan mengantarkan kita nantinya akan jadi seperti apa. Tapi ingat bahwa semuanya karna sudah dapet acc dari Allah. Kita hanya mampu memilih cita-cita, memilih mimpi, dan memilih untuk mengusahakan mimpi-mimpi kita. Selanjutnya terserah Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s