Menyampaiakan

“Bu, bukankah ketika menyampaikan Islam kita harusnya sampaikan yang baik-baik saja, apalagi di depan non-muslim. Ya biar nampak Rahmatan lil Alamin dari Islam. Misal yang kita sampaikan keraaas mulu malah jadi rusuh kan, Bu?”

Itu pesan singkat dari salah satu mahasiswa saya. Gatau juga dia yang mana. Di akhir semester saya biasanya suruh mahasiswa saya nulis memo apaaaa aja tentang saya atau fasilitas pendidikan yang udah mereka dapat di kampus. Dan saya dapat tulisan itu.

Saya cuma mbatin pas baca tulisan itu. Gak selamanya ketika kita menyampaikan kebenaran itu akan keliatan indah. Justru gak enaknya bakal keluar semua ketika kita pun sebagai pelaku utamanya.

Masalah anak muda hari ini ada di masalah pergaulannya. Mereka gak paham bahwa Islam mengatur pergaulan laki-laki dan perempuan ini terpisah untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Mulai dari modus sampai seks bebas. Mulai dari baper sampai patah hati yang tidak pada waktunya. Semuanya dijaga. Sebisa mungkin saya singgung sedikit masalah tersebut sebagai pengingat.

Risih kalau lihat anak muda yang dengan mudahnya teplok sana teplok sini ke non mahram dengan dalih, “kan udah kayak sodara sendiri.” Apalagi setelah tau hukumnya, jadi kalut sendiri. Serba bingung gitu, disampaikan nanti dia tersinggung. Tidak disampaikan tambah meluas. Trus misal Allah turunin adzab karna gabisa jaga pergaulan, kitanya kena juga. Belum lagi pertanyaan di akhirat yang bakal bikin keringat dingin, “sudahkah kamu mengingatkan saudaramu tentang kebaikan?”

Aaaa… Mbuh. Galau sendiri jadinya.

Trus gimana?

Ya udah sampaikan aja. Masalahnya tinggal bagaimana cara menyampaikannya.

Tapi even yang nyampaikan udah lembuuut banget. Kalo yang dengerin atau baca adalah pelaku maksiat, pasti nggondok sendiri. “Ih, Islam kok gitu amat sih? Kok kolot sih? Kok gini sih? Kok gitu sih?”

Wajar. Masing-masing manusia punya gharizah baqa’ (naluri melindungi diri). Naluri ini yang kemudian digunakan orang buat munculin defensif ketika diserang, diingatkan, ditegur, dll. Apalagi kalau dia sendiri merasa disudutkan. Pastilah begitu.

Alhamdulillahnya, manusia ini pun dikasi fitur akal yang digunakan untuk mengendalikan gharizah atau nalurinya tadi. Orang yang defense tadi lama-lama pasti mikir kok. Dari memepertanyakan kebenaran sampai dengan mencari tau kebenaran. Inilah salah satu jalan gimana seseorang akhirnya nemuin hidayah (bukan Mbak hidayah).

Hari ini ketika kita menyampaikan nahi munkar. Rasanya emang nyeremiiin banget. Ambil contoh, tentang riba.

Riba itu ada 73 macem yang dosanya paling kecil itu seperti menzinai ibu sendiri. Nah loh, mgeri kan? Dengerin jadi ogah. Apalagi jaman sekarang kita diem gak ngapa-ngapain udah kesenggol riba. Pusing jadinya.

Contoh lain pergaulan. Ini juga bikin pusing. Karna lingkungan di luar sana modelnya gini semua. Mau gak diikutin jadi gak punya temen, mau diikutin kok dosa. Bahkan kadang gak pengen ikut juga terpaksa ambil dosanya. Pusing kan?

Karnanya kita gabisa berjuang sendirian untuk berIslam yang kaffah. Dakwah itu salah satu tools untuk mencegah kemunkaran dan menyuburkan yang ma’ruf. Tapi pun kita butuh institusi yang melindungi. Susah kalau sendirian. Susah kalo yang berjuang hanya kelompok-kelompok tertentu. Even, perjuangan satu sama lain bisa saling melengkapi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s