Menjadi Baik

Pembicaraan kapan nikah dan kriteria seperti apa yang dicari untuk para single di usia seperempat abad itu macem pertanyaan sensitif. Tapi gak jarang juga saya ketawa-ketawa sendiri melihat masa lalu saya. Tentu aja ditambahin sombong dikit. Mereka rugi ninggal gue.

Tentang kriteria. Masing-masing orang pasti mengharapkan laki-laki baik dengan segala paket komplitnya. Ya ngerti Islam, pemahamannya udah matang, dan lalala lainnya. Sayangnya, laki-laki macam gini ini langka. Kalo pun ada. Dia udah nikah. Wkwkwk…

Gak ada salahnya minta paket komplit sMa Allah sembari ikhtiar sebaik mungkin jadi paket komplit untuk para ikhwan. Gak ada yang salah. Itu pilihan.

Pun gak ada yang salah jika ada yang melihat potensi kebaikan dari ikhwan tadi. Even hari ini dia masih awam dengan Islam.

Kita gak pernah tau dia nanti jadi apa. Yang baik bisa jadi buruk, pun sebaliknya, yang mursaaaal banget bisa jadi baik.

Contohnya?

Tau critanya Uje? Sempet difilmkan juga kan? Dulu dia apa? Pas wafat dia jadi apa?
Allah sayang banget sama Uje. Kita bisa liat itu sama-sama.

Tau critanya Umar bin Khattab? Critanya Khalid bi Walid? Shafiyyah?
Mereka dulu bueeeennccciiii banget dengan Nabi Muhammad dan apa yang dibawanya. Kemudian apa yang terjadi?
Masuk Islam, dapat hidayah, dan berjuang untuk Islam.

Beberapa orang mungkin liat Song Joong Ki as paket komplit, beberapa yang lain enggak. Atau mungkin Hamish Daud. Atau mungkin yang kemarin katanya sempet bikin para akhwat berjamaah patah hati. Boleh saja meminta yang demikian. Boleh sekali. Tak ada yang melarang.

Tapi please tengok kaca, cek lagi. Layak gak bersanding dengan orang-orang yang saya sebut tadi?

Tadi malem saya sempet gemes dan ngh liat beberapa post di ig tentang berita nikahannya Dek Muz. Ada icon patah hatinya, ada emote nangisnya. Pagi ini saya coba liat dari sisi lain. Ya mungkin ukhti-ukhti ini juga lagi memantaskan diri untuk sosok macem Dek Muz, jadi past tau stocknya berkurang jadi macem agak nyesek gitu. Wkwkwk…

Oke, itu asumsi saya sepenuhnya. Yang jelas kepastiannya sangat diragukan.

Tapi balik lagi ke kriteria. Kita gak cukup dengan berharap sosok baik di tengah kondisi yang macem gini. Apalagi dengan diri yang biasa-biasa aja plus berlumur dosa. Plus sering terlena dengan kemubahan. Aiiihh, kok jauh ya.

Mungkin kita bisa pilih yang lain. Sosok calon pasangan yang punya potensi untuk jadi baik. Bukankah tiap orang punya kesempatan yang sama?

Catatan kecil (yang gak kecil):
Proses seperti ini butuh dampingan wali atau orang yang bisa dipercaya dalam hal agama agar proses menuju pernikahan tetap terjaga kesakralannya.

Selamat mencari dan memilih. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s