Dunia yang Tertukar #Bagian 3

nurjana-syamsudin:

Pada abad 13H/19M gelombang perubahan Eropa yang dipelopori oleh para filsuf, pujangga dan pemikir telah merubah pemikiran bangsa Eropa. Mereka mulai menampakkan diri sebagai satu kekuatan baru.

Sementara kaum muslimin dibawah kendali Khilafah Utsmaniyah tidak dapat berbuat apa-apa selain berdiri tercengang. Mereka mengalami stagnasi, beku dan kebingungan menyaksikan perubahan besar di Eropa.

Keadaan dunia tertukar kembali. Kalau dulu kekayaan ilmu pengetahuan peradaban kuno disimpan bangsa Eropa dan “dihidupkan” kembali oleh kaum muslimin, sekarang kaum muslimin mulai membiarkan pengetahuann Islam dan buku-buku dibiarkan tersimpan di rak-rak perpustakaan saja. Pengkajian terhadap ilmu pengetahuan sangat sedikit dan ilmu hanya sekedar ilmu tanpa tuntutan untuk diamalkan.

Ditengah kebekuan; kemerosotan berpikir dan penghentian ijtihad, pemahaman keislaman ditubuh umat melemah. Bangsa Eropa mulai melancarkan serangan pemikiran termasuk berani melakukan “perang” atas nama sains.

Berbagai produk sains dan pemikiran diciptakan. Kaum muslimin tidak dapat memilih dan memilah mana yang harus diambil dan diabaikan. Ada yang mengambil semua produk dari Eropa dan ada yang menolak semua hal yang berasal dari Barat sana. Ada juga yang mengambil sebagian-sebagian; (tanpa sadar) mengambil produk pemikiran dan menolak produk sains maupun sebaliknya.

Ada yang mengadopsi buah pemikiran Barat seperti sekulerisme, liberalisme, permisivisme, dsb. Ada yang menolak teknologi, seperti ketika mesin cetak sudah menjadi fenomena baru kemudian Khilafah Utsmani hendak mencetak al-Quran, para ulama fiqih malah mengharamkan. Seakan tidak ada jalan keluar menghadapi kenyataan itu.

Bagaiamna seharusnya kaum muslimin menyikapi perubahan itu? Apakah harus ditolak? Diterima? Kompromi? Menjadi pembebek? Atau apa? Permaslahannya, kaum muslimin tidak dapat membedakan mana hadharah dan madaniyah. Ini yang harus dipecahkan.

Hadharah adalah sekumpulan mafahim (ide yang dianut dan mempunyai fakta) tentang kehidupan yang bersifat khas dan mencirikan umat tertentu. Sebagai contoh hadharah Barat, yakni pemisahan urusan agama dari kehidupan (sekulerisme), liberalisme, HAM, permisivisme, pluralisme, dll. Tentu berbeda dengan hadharah Islam, seperti pemisahan kehidupan perempuan dan laki-laki (infishol) dan dilarangan ikhtilat (campur baur), larangan riba, menutup aurat, dll.

Sedangkan Madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan. Madaniyah ada yang bersifat khas, yakni yang dihasilkan dari hadharah tertentu, misalnya pakaian atau simbol-simbol tertentu yang menunjukkan “identitas” orang Barat.. Ada pula bersifat umum untuk seluruh umat manusia, seperti leptop, hp, mobil, motor, TV, radio, sosial media, dll.

Hadharah asing (dalam hal ini Barat/Eropa) dan madaniyah khas dari hadharah tertentu tidak boleh diambil. Sementara bentuk-bentuk madaniyah yang dihasilkan oleh kemajuan sains dan perkembangan teknologi/industri tergolong madaniyah yang bersifat umum bisa diambil dan digunakan sekalipun itu berasal dan dibuat di dunia Barat/Eropa.

“Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” (HR. Muslim).

Sebuah pemberitahuan kepada kaum muslimin untuk mengembangkan sains dan teknologi dengan menggunakan apa saja selama tidak bertentangan dengan hukum syara’. Rasulullah saw. pun pernah mengirim ‘UrwahIbnu Masud dan Ghailan ke kota Jarasy di Yaman untuk mempelajari pembuatan Dabbabah (pemecah pintu kota) dari orang kafir.

Dengan demikian kita juga dapat mengetahui mana pengetahuan (tsaqofah) dan mana sains. Apa yang boleh diambil mana yang harus diabaikan. Pengetahuan (tsaqafah) diperoleh melalui pengamatan dan penggalian semata, tanpa eksperimen di laboratorium. Hasil pengetahuan bersifat dugaan yang berpotensi ke arah benar dan salah. Pengetahuan ini mencakup psikologi, sastra, filsafat, dan lain sebagainya. Hal inilah menjadikan adanya pembedaan yang tegas antara pengetahuan (tsaqafah) barat yang sekuler, dan pengetahuan (tsaqafah) Islam yang bersifat ketauhidan.

Berbeda halnya dengan pengetahuan, sains bersifat universal. Sains tidak dikhususkan bagi umat tertentu. Begitu pula dengan industri, bersifat universal. Sains maupun industri tidak dipengaruhi pandangan hidup tertentu sehingga bersifat universal. Begitu pula dengan terobosan didunia medis yang merupakan bagian dari sains. Jangan terlalu cepat menghakimi atau suka menunjuk saja tanpa memperdalam fakta, lalu menghindari dan tidak menggunakannya. *dua kalimat dibelakang untuk mereka yang masih ngeyel, tidak mendalami fakta dan suka debat untuk cari pembenaran bukan kebenaran*

Kaum muslimin harus memegang konsep ini. Sehingga kita tidak menjadi umat yang ketinggalan zaman, gaptek, atau abai memanfaatkan kemajuan sains dan teknologi. Tapi kita juga jangan mengambil hadharah asing (Barat) yang jelas-jelas bertentangan dan merusak Islam.

Selesai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s