Q&A Jilbab

Tulisan saya tentang Jilbab di post sebelum ini sepertinya menimbulkan banyak pergolakan batin dari para pembaca. Terutama di paragraf yang menyebutkan tentang celana panjang.

“Loh? Seriusan boleh? Biasanya dikajian pak ustadz-ustadz kan gak boleh.”

Pakaian wanita dalam Islam dibedakan menjadi 2 area. Pertama, arema umum, yaitu area di mana semua orang baik laki-laki maupun perempuan bebas lalu lalang. Contohnya jalan, sekolah, kantor, pasar, dll. Kedua, area khusus, yaitu rumah. Area khusus ini adalah area yang melarang orang lain masuk tanpa izin dari pemilik. Jangankan masuk, ngintip aja gak boleh. Fungsinya jelas, rumah digunakan sebagai hijab pemiliknya. Jadi yang kemarin unjung-unjung langsung nyelonong masuk atau masih suka intip-intip, semoga setelah tau ini, gak gitu lagi ya. Allah Maha Menerima Taubat kok. 🙂

Pakaian wanita saat berada di kehidupan khusus itu jelas. Menggunakan jilbab, khimar, dan mihnah sebagai pakaian dalamnya (maksudnya bukan underwear doang, tapi ada baju rumah yang dipakai untuk menghindari lekuk tubuhnya keliatan lagi pada case-case tertentu.

Lalu bagaimana pakaian wanita saat berada di kehidupan khusus?

Ada macemnya lagi. Pas lagi sendiri, sama suami, sama mahram, dan sama non-mahram.

Kalo sendirian atau pas sama suami aja. Kita diperbolehkan pakai baju model apa aja. Mau celana gemes atau u can see sah-sah aja. Itu kalo pas lagi berdua doang sama suami atau lagi bener-bener sendiri (yang liat cukup kamu, suami, dan Allah).

Trus misal di depan ayah, ibuk, saudara kandung, dan mahram lainnya gimana?

Gunakan pakaian rumah dengan batasan jatuhnya air saat wudhu atau tempat menempelnya perhiasan. Kalau kaki sampai lutut, kalau tangan sampai lengan.

Kalau keteknya keliatan apa boleh?

Situ wudhunya sampai ketek yang dibasuh? Atau situ pakai gelang sampai ketek? Gak kan?

Trus kalau ada non mahram gimana?
Syaratnya cukup menutup (bukan membungkus) aurat hingga yang boleh nampak adalah wajah dan telapak tangan saja.

Pakai potongan apa boleh?
Boleh.

Jadi pakai rok sama lengan panjang, kaos kaki, plus kerudung boleh?
Boleh.

Pakai celana boleh juga?
Boleh, asal tidak ketat macem legging gitu boleh kok. Ini sebenarnya memudahkan muslimah sendiri ketika dia lagi kedatangan tamu yang menginap di rumahnya. Jadi diperbolehkan menggunakan celana. Dalam bukunya Ustadz Felix yang Yuk Berhijab diilustrasaikan secara detail oleh Mbak Emerlda Noor Achni tentang penggunaan celana ini.

Pas lebaran terima tamu pakai celana panjang di rumah beneran boleh?
Selama penggunaan celana panjang ini dirasa tidak memalingkan tamu. Silahkan digunakan. Tapi bila pemakaian celana panjang ini sampai memalingkan tamu. Apalagi sampai muncul hasrat seksual dalam dirinya, ini sudah masuk dalam kategori tabarruj. Sedangkan Islam sendiri melarang muslimah untuk bertabarruj. Jadi, untuk mengatasinya celananya bisa dipakai sebagai mihnah.

Lel, rumahku ini home industri. Banyak orang lalu lalang. Gimana dong?
Artinya, area khususmu cuma kamar aja. Keluar kamar sudah wajib pakai jilbab.

Berarti kalau lagi ada open house yang orang bisa bebas sliweran gitu kita wajib juga pakai jilbab even lagi di rumah?
Iya. Hukumnya wajib. Kalau rumahmu macem gitu. Kalau tidak ya, cukup menutup aurat secara sempurna. Silahkan didetaili terlebih dahulu tentang tamunya ini bagaimana.

Semoga menjawab. Bila masih ada yang belum terjawab bisa langsung ditanyakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s