Tentang Dakwah

Sebenernya saya ini anak kemarin sore yang baru ngeh tentang Islam. Tulisan ini sebenarnya adalah rangkuman dari bahan kajian yang sudah saya dapatkan selama setahun dan hasil studi literasi tentang dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah lewat beberapa sirah.

Ketika Rasulullah pertama kali mendapatkan wahyu, menerima Islam sebagai amanah baru dipundaknya. Keluarga terdekatlah yang pertama kali Beliau ajak untuk memeluk Islam. Maka masuklah Khadijjah dan puteri-puteri Beliau dalam Islam sekalipun suami-suami mereka masih belum memeluk agama ini. Diikuti oleh Ali bin Abu Thalib, si sepupu. Mengenalkan Islam pada keluarga ini Rasulullah lakukan untuk membangun dukungan dari orang yang paling dekat. Bagaiamana pun keluarga yang paling sering berinteraksi dengan Beliau.

Dakwah yang dilakukan oleh rasulullah ketika itu masih sembunyi-sembunyi. Bukan Islamnya yang disembunyikan, tapi jamaah yang Beliau bina. Halaqah dilakukan di rumah-rumah para sahabat secara sembunyi-sembunyi. Penyebaran Islam memang nampak secara masif disebarkan tapi bagaimana proses pembinaan generasi pertama itu yang dilakukan sembunyi-sembunyi.

Dakwah secara terang-terangan, jamaah Islam yang dipimpin oleh Rasulullah mulai diperkenalkan dan ditunjukkan dihadapan rakyat Mekkah setelah Hamzah bin Abu Muthalib, paman nabi, dan Umar bin Khattab masuk Islam. Dalam film Umar, kita bisa saksikan sendiri apa yang menyebabkan Umar masuk Islam dan bagaimana Umar mengetuk dari satu pintu ke pintu yang lain serta berpidato di Baitullah tentang keislamannya.

2 pembesar Mekkah ini pada dasarnya sudah dibidik oleh Rasulullah sejak awal untuk menguatkan barisan dakwah Beliau. Setelah Umar masuk Islam, lengkap sudah pondasi pertahanan dalam barisan dakwah itu.

Hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah dan jamaahnya saat itu adalah mengumumkan diri ke rakyat Mekkah saat itu dengan melakukan masirah (long march) dari salah satu rumah sahabat (lupa namanya) menuju Baitullah. Terkesimalah penduduk Mekkah saat itu melihat pasukan yang dipimpin oleh Rasulullah. Ini hampir mirip dengan kisah Nabi Yusuf yang lewat pasar. Gak ada yang ngeh saking takjubnya. Hingga ada salah satu orang menyadari bahwa itu adalah jamaah yang dipimpin oleh Rasulullah. Dia berteriak dan menyadarkan yang lain.

Di depan Baitullah, jamaah itu memproklamirkan keislaman mereka di depan seluruh pembesar dan penduduk Mekkah saat itu.

Apa hasilnya?

Dilempari batu. Dipukuli. Dihajar. Seperti halnya maling yang baru aja ketahuan nyuri.

Hasil yang lain membuat para pembesar kafir Quraisy kebakaran jenggot saat melihat barisan Rasulullah yang sudah makin kuat. Mereka sudah terlambat menyadari segalanya. Maka segala cara pun dilakukan oleh pembesar kafir Quraisy, mulai dari lobying ke Abu Thalib, paman Rasul, sampai dengan serangan fisik.

Kisah Bilal yang digencet batu super gedhe agar keluar dari Islamnya itu hanya salah satu kisah saja. Abu Bakar pernah pingsan gara-gara digebukin, tapi ketika bangun, yang dicari justru Rasulullah. Fatimah kecil pernah marah sekali sampai mendorong pembesar kafir Quraisy yang memukuli ayahnya.

Serangan demi serangan tidak berhenti hingga Rasulullah menghentikan dakwahnya.

Apakah Rasulullah berhenti? Tidak.

Apakah sahabat-sahabat yang lain berhenti? Tidak.

Ketika serangan demi serangan makin membabi buta, saat itulah makar Allah bekerja. Tidak ada satu rumah pun di Mekkah yang tidak membicarakan Islam. Mereka yang penasaran pun diam-diam mengkaji Islam. Mereka yang membenci pun diam-diam mencuri dengar kajian Islam yang disampaikan Rasulullah. Semuanya. Tanpa terkecuali. Islam saat itu sudah menjadi trending topic yang tak bisa dihindari lagi.

Dakwah tidak akan pernah berhenti hanya karna hal-hal semacam itu. Justru segala respon yang mereka hadapi menjadikan Rasulullah makin kritis mencari solusi. Hiijrah ke Habasyah adalah satu solusi yang diberikan Rasulullah saat itu. Tidak semuanya berangkat, hanya beberapa saja. Sedangkan sisanya terus melanjutkan perjuangan dakwahnya dengan tetap mendapatkan siksaan-siksaan yang terus menerus dari kaum kafir Quraisy. Puncaknya adalah pemboikotan terhadap jamaah Rasulullah. Mereka tidak diijinkan untuk berniaga. Bukan hanya larangan menjual sesuatu tapi pun larangan untuk membeli sesuatu. Kondisi semakin sulit saat itu.

Rasulullah terus mencari cara untuk menyelamatkan jamaahnya dengan menganalisa kondisi politik berbagai macam kabilah yang ada di Jazirah Arab saat itu. Pencarian lokasi serta nushrah (pertolongan) terus menerus dilakukan oleh Rasulullah ditengah gempuran yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy. Thaif adalah daerah yang dirasa paling baik untuk tempat mukim terbaik sekaligu daerah terbaik untuk menancapan kekuasaan Islam saat itu. Sayangnya, Beliau gagal.

Kegagalan yang diterima oleh Rasulullah tidak menjadikannya berhenti begitu saja. Pencarian nushrah terus dilakukan oleh Rasulullah. Hingga akhirnya dipilihlah Madinah Al Munawwarah sebagai tujuan. Rasul mulai memfokuskan diri pada daerah tersebut dengan pertimbangan internal penduduk Madinah saat itu serta kondisi ekonomi yang ada di dalamnya.

Setelah baiat Aqabah yang pertama yang dilakukan oleh 12 orang laki-laki kaum Anshar tentang penerimaan mereka terhadap Islam, Rasul menugaskan Mush’ab bin Umair untuk mengemban misi rahasia di Madinah. Misi ini dilakukan untuk mencari tahu lebih lanjut tentang kondisi Madinah dan menyiapkan orang-orang yang beriman di antara penduduk Madinah untuk menerima nushrah yang sempat dihentikan oleh Rasulullah.

Sekembalinya Mush’ab bin Umair ke Mekkah dengan laporan bahwa Madinah telah siap menerima, maka dilakukanlah proses Baiat Aqabah kedua tentang penerimaan Nushrah, Baiat aqabah ketiga dan memberangkatkan kelompok-kelompok pelindung ke Madinah. Seluruh pergerakan yang dilakukan oleh rasulullah ini dilakukan diam-diam dari pandangan musuh. Puncak dramatis yang terjadi adalah hijrahnya Rasulullah ke Madinnah ditemani oleh Abu Bakar.

Rasulullah berhasil keluar menyelinap ketika pembesar kafir Quraisy sedang melakukan swiping di seluruh kota. Tujuannya jelas, membunuh Rasulullah. Tapi tidak ada yang lebih baik dari perlindungan Allah yang dapat diambil dari kisah hijrahnya Rasul saat itu. Bayangkan saja, seorang pencari terbaik yang menemukan Rasulullah tergerak hatinya untuk melindungi Beliau. Laba-laba membuat jaring di tempat Rasulullah berlindung, dan segala macam perlindungan lain hingga mereka berhasil hijrah.

HIjrah ini dilakukan bukan hanya untuk mencari perlindungan semata tapi pun untuk menghimpun kekuatan yang baru, yang jauh lebih kuat dan dapat dipercaya. Perbaikan kondisi internal di Madinah pun dilakukan dengan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada saat itu, termasuk pertikaian bertahun-tahun antara suku Aus dan Khazraj, sebelum proklamasi Daulah Islam yang dipimpin oleh Rasulullah sendiri dilakukan.

Setelah Daulah Islam berdiri, Rasulullah mulai melakukan pembersihan terhadap musuh-musuh Islam hingga akhirnya Mekkah dapat kembali dikuasi yang diawali dengan masuk Islamnya Abu Sofyan.

***

Saya ingin mengajak seluruhnya melihat fakta yang dapat kita indera dan membandingkan kondisi tersebut dengan perjuangan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah. Aksi Bela Islam adalah salah satu tanda tentang persatuan yang mulai muncul dikalangan ummat. Selama ini khilafah yang menaungi seluruh ummat di dunia dianggap sebagai mimpi kemarin sore yang tidak akan pernah terwujud karena kondisi ummat. Aksi Bela Islam adalah bukti yang menyatakan secara nyata bahwa ummat ini dapat bersatu lepas dari harakah mana dia berada, suku mana dia, kota mana daerahnya berasal.

Kita pun dapat sama-sama menyaksikan segala propaganda yang dilakukan oleh orang-orang yang mulai ketakutan dengan kekuatan Islam ini lakukan. Kriminalisasi ulama, pelecehan ummat Islam secara besar-besaran di berbagai sosial media, pembubaran ormas Islam yang menyuarakan persatuan ummat, hingga isu pembubaran MUI. Semua diset yang Islam anti NKRI, anti kebhinekaan, anti pancasila, intoleran.

Mereka tidak akan pernah berhenti hingga kita diam. Berhenti memperjuangkan Islam. Berhenti membicarakan Islam. Berhenti mencari tau tentang Islam yang kaffah. Sayangnya, semakin keras larangan yang ada, makin besar pula rasa penasaran yang muncul di kalangan ummat.

Sejarah kembali berulang. Tidak ada yang tidak membicarakan Islam.

Perjuangan ini telah hampir mencapai puncak kemenangan dengan makin derasnya gempuran yang dilakukan oleh pihak yang ketakutan dengan kekuatan ini. Tapi mereka bisa apa? Allahlah sebaik-baik pembuat makar. Sekarang tinggal bagaimana langkah kita ketika semuanya sudah makin gamblang terlihat. Ketika kebenaran makin jelas nampak. Mengambilnya dan ikut berjuang atau justru menolaknya. Bukan lagi saatnya kita menjadi abu-abu saat semuanya sudah nampak.

Kita bisa sama-sama mengamati bahwa segalanya tampak begitu alami. Siapa yang mendorong kekuatan sekian juta ummat Islam untuk hadir di Jakarta dan beberapa kota di Indonesai bila bukan atas dorongan iman? Segala aksi tersebut bukan hanya simbol kekuatan tapi pun dampak nyata yang Allah ingin tunjukkan atas perjuangan yang sudah dilakukan oleh mereka yang telah berjuang jauh lebih lama dari kita. Ini hadiah sekaligus ujian.

Hari ini di bulan kemenangan ini, kita hanya mampu berdoa kemenangan yang nyata atas Islam atas segala macam ujian yang dihadapi ummat bersama-sama. Semoga kaki kita tetap teguh dalam pergerakan ini. Semoga hati dan pikiran kita tak pernah berhenti untuk belajar dan memahami Islam yang kaffah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s