Ketika Muslim Jadi Satu

Sudah bertahun-tahun lamanya ummat ini dipisahkan oleh hal-hal receh yang tidak seharusnya diperdebatkan. Anehnya, ketika berbicara tentang syari’ah yang wajib hukumnya, mereka justru bilang kalo gapapa beda.

Isu penista agama yang terjadi di akhir tahun kemarin hingga drama tak ada ujungnya tentang kebhinekaan kemudian yang justru menjadi pemersatu ummat. Persatuan ummat Islam yang dulunya hanya semacam angan belaka kemudian muncul dipermukaan. Ada harapan bahwa ummat ini bisa kembali jadi satu.

Tapi siapa yang gelisah ketika Islam jadi satu? Musuhnya lah. Berbagai cara dilakukan untuk memecah belah ummat ini sekali lagi. Isu kebhinekaan, aksi bakar lilin yang tidak bertanggung jawab, isu kriminalisasi ulama, isu pembubaran ormas Islam, sampai dengan pembodoh-bodohan ummat Islam lewat berbagai sosial media. Pemeluk Islam tidak hanya ditunjukkan sebagai ekstrimis, tapi juga orang berakal dangkal, yang bisa dijadikan bahan tertawaan.

Mirisnya, yang menjadi lakon bukan orang lain. Tapi mereka yang bahkan mengaku sebagai muslim.

Saya bilang ini tentang sudut pandang Islam Rahmatan lil alamin yang berbeda. Mereka bilang, bila ingin Islam jadi rahmat untuk seluruh alam maka kita harus toleran dengan yang lain. Faktanya, mereka justru jadi orang paling intoleran. Macem ada orang muslim yang kudu banget makan babi cuma buat menghormati yang ngasih. Haruskah?

Islam sebagai rahmat untuk seluruh akan benar-benar nampak saat aturannya ditegakkan, petunjuk dari Al Quran dilakukan secara kaffah, sami’na wa atho’na. Bukan dipilih-pilih karna nanti khawatir akan membuat yang lain tersinggung. Khawatir jadi radikal. Khawatir jadi ekstrimis. Khawatir jadi ikutan bego.

Ummat ini sedang diarahkan untuk solusi yang lain. Pluralisme. Islam moderat. Penafsiran Al Quran berdasarkan metode cocoklogi.

Menariknya, ummat yang dulunya tak tau dan tak mau jadi makin tergelitik untuk mencari tau tentang Islamnya. Boomerangnya, ketika akal dibenturkan dengan wahyu, justru taufiklah yang mereka temukan. Makin gusarlah mereka. Makin gencarlah propagandanya.

Setiap kali menyaksikan fenomena ini, saya selalu ingat dengan dakwah yang dilakukan oleh rasulullah. Makin gencar kafir Quraisy mencari cara untuk menghancurkan Islam, makin besar pula pemeluknya. Berbagai cara dilakukan mulai diplomasi hingga serangan fisik. Tapi justru dengan itu, pemeluknya semakin bertambah banyak. Kisah Bilal hanya salah satu diantara kisah-kisah penyiksaan fisik yang dilakukan oleh kafir Quraisy. Tapi lihatlah bagaimana ummat terdahulu saat melihat hal itu? Keimanannya bukan semakin turun, tapi justru semakin meningkat.

Hari ini ketika bombardir isu Islamphobia makin gencar dihembuskan. Ide-ide yang melecehkan Islam anti kebhinekaan makin dihembuskan. Ide pemeluknya hanyalah ummat pemecah belah yang terbelakang makin keras berhembus. Semoga barisan ummat ini semakin kokoh dengan pemikiran Islam. Semakin kokoh dengan kuatnya aqidah Islam mereka. Semakin kokoh dengan semangat dakwah mereka. Dan semoga Allah senantiasa memberikan pertolongan serta kekuatan untuk terus berdiri kokoh dalam agama ini. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s