Ramai

Idul fitri tahun ini mbah-mbah sudah banyak yang meninggal. Tinggal satu dari garis keturunannya buyut, yaitu Si Bungsu. Dan jadilah Ibuk sebagai saudara tertua dari anak pertama karena Pak Dhe sudah meninggal sekian tahun yang lalu. Enaknya jadi saudara tua itu begitu. Semuanya datang sendiri.

Keluarga besar saya itu gak pernah reuni keluarga besar waktu lebaran. Sepertinya sih karna gak ada yang mengawali. Sedih kalau lihat foto-foto orang lain yang abis reuni keluarga besar. Sedangkan saya sendiri gatau rasanya gimana. Sepupu saya yang dulu mainan anak ayam warna warni sudah sebesar apa. Om yang itu anaknya modelnya bagaimana saya juga gatau.

Lebaran ini alhamdulillah bisa ngumpul di rumah. Sampai gak muat rumahnya. Sampai harus duduk dempet-dempetan macem di angkot. Sampai ada yang duduk di kursi macem bangku kuliah yang biasa dipakai ngaji di rumah. Kursi makan keluar, platik keluar. Segala jenis kursi lah.

“Oooo gini to rasanya kumpul keluarga besar waktu lebaran.”

Batin saya gitu. Biasanya reuni terjadi ya kalau ada salah satu anggota keluarga yang meninggal. Pas dateng pada nangis-nangis, inget almarhum. Trus lama-lama ketawa-ketawa karna asyik cerita. Tahun ini lain, kumpulnya bukan karena berita duka. Tapi karena silahturahim.

Entah apa saja yang tadi dibicarakan. Entah memori mana saja yang kemudian terkuak dan dijadikan bahan tertawa.

Semoga tahun depan begini lagi. :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s