Isi Koper

Seperti mudik-mudik di tahun-tahun sebelumnya, bawa sekoper baju kotor untuk dicuci dan dipakai lebaran. XD

Efektifnya gitu sih ya. Ditambahin baju baru juga sih, kalau ada.

Tahun ini plus 3 pasang sepatu yang udah bulukan. Daaan seperti biasa.

“Mbak, kamu ngajar ya pake sepatu merah gitu?”

“Iya.”

“Mbok ya menghargai diri sendiri Mbak, masa ngajar pakai sepatu gitu?”

Ibuk saya ini orang yang mainstream banget. Isi kepalanya udah terlanjur ke set kalau rapi itu pakai sepatu yang bisa bunyi cetok-cetok atau kalau gak ya yang mengkilap. Bajunya juga macem gitu. Ibuk masih sering nanya dengan baju yang biasa saya pakai ke kampus, yang menurut saya cantik banget. Tapi menurut Ibuk itu gak menghargai diri sendiri.

Ibuk saya pernah liat sih apa yang saya pakai ke kampus, kebetulan itu pas bangun kesiangan dan belum sempet setrika. Jadi ya, ambil kerudung dan jilbab yang gak keliatan kalau belum disetrika. Pas ketemu Ibuk, ternyata keliatan kusutnya sodara-sodara XD

Trus saya diomelin lagi dengan kata-kata yang sama.

“Mbok ya menghargai diri sendiri.”

Ibuk belum ketemu temen-temen saya yang lain sih. Belum ketemu Mbak Widi yang modelnya nyentrik. Belum ketemu Mbak Dea yang style-nya baju tumpuk-tumpuk. Belum ketemu Bu Wahyu yang hobi pakai kebaya, yang bahkan pernah pakai yang ada talinya, trus karna gabisa naliin dibagian belakang, dibiarkan kewer-kewer. Tapi Beliau pede. XD

Temen-temen saya itu kadang kalau mau ngajar juga nyentrik. Saya sendiri lebih seneng pakai flat shoes atau sport shoes yang warnanya gonjreng. Menghargai diri buat saya, gak ke kampus pakai sepatu karet Crocs KW super yang dibeli di East Cost. Selain itu, dandan macem mahasiswa apa salahnya sih? Toh, ya gue masih muda juga. Toh ya, banyak juga yang nanyain..

“Bagus ya, ini beli dimana?”

trus ngikutin cara berpakaian gue. Ada gitu yang sampek bela-belain beli sepatu yang sama. Bikin kerudung yang modelnya sama karna gak nemu di toko-toko kerudung. Jadi, selama ada yang tiba-tiba pengen ikutan. Anggep aja masih bisa diterima.

Lagian ya, misal kita nurutin apa kata orang mulu. Gak akan pernah ada habisnya. Kenapa? Karena standar yang dikasih manusia itu terlalu subjektif. Gak jelas. Cukup pakai standar yang ada di Al Quran dan As Sunnah. Gak ketat, gak nerawang, bersih, syar’i. Udah. Sisanya terserah mau dikreasikan macem apa. Asal gak berlebihan dan melanggar syariat aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s