Ramadhan #11: Pursuit of Happiness

Surabaya, 6 Juni 2017 – 11 Ramadhan 1438H

Familiar gak sama judul itu?

Iya, itu salah satu judul film yang dibintangi sama Will Smith. Film jaduuuul banget. Anaknya aja masih sekecil itu dan kita tau sendiri lewat beberapa filmnya kalau si anak kecil ini udah mulai ABG.

Film itu menggambarkan kisah seseorang jenius yang idupnya susaaah banget. Ditinggal istrinya karena kondisi keuangan mereka yang makin lama makin gak jelas. Om Smith (saya lupa nama perannya dia jadi siapa) ini critanya keabisan duit setelah kulakan alat kesehatan yang gak jelas. Trus istrinya yang gak sabar mulai kerja. Anaknya yang masih kecil banget dititipin ke day care murahan yang gitulah. Semua masa jadi makin sulit, sulit, dan sulit sampai akhirnya dia seakan-akan kehilangan segalanya. Bahkan anak satu-satunya pun, yang jadi harapan buat dia mau diambil. Tapi dia pertahanin dengan komit ke istrinya mau do the best buat si anak ini tadi.

Kok ya ndilalah Om Smith ini terusan berhasil lepas dari serangkaian kesulitan materi dalam hidupnya. Gak diceritain sih jadinya dia sesukses apa. Tapi berkat kecerdasannya dia bisa dapet klien dan kepercayaan dari perusahaan gedhe.

***

Oke, itu tadi intermezzonya.

Kita sama-sama tau kalau ngejar duit itu beda dengan ngejar kebahagiaan. Karna kebahagiaan pun juga tidak berbanding lurus dengan berapa banyak uang yang kita miliki atau kenyamanan hidup yang kita punya. Orang macem gini ini macem orang yang di depannya ada duit, terus dia kejaaaar mulu duit-duit itu. Keliatannya dapet banyak, keliatannya dia bahagia, tapi kemudian dia sadar akan sekian banyak waktu yang terbuang karna hal ini.

Okelah standarnya bukan materi, tapi fisik. Kecantikan. Ada orang yang usaha banget pingin memperindah dirinya dengan berbagai cara. Yang wajahnya biasa-biasa aja, dia mulai dengan berbagai perawatan dan kosmetik yang tentu saja tidak hanya menyita waktu, tapi juga ongkos. They said, “cantik itu butuh pengorbanan” atau “no pain no gain”. Setelah itu, setelah wajahnya putih mulus berseri, tubuhnya langsing bak model. Apakah kemudian dia bahagia? Belum tentu juga.

Bahagia itu kalau punya pasangan. Faktanya, yang punya pasangan, baik pasangan halal atau haram juga belum tentu bahagia. Ada masalah baru yang pasti datang kepada mereka, yang bisa jadi ini gak bikin mereka makin bahagia tapi makin ruwet hubungannya.

Bahagia itu kalau punya anak. Berapa lama sih orang yang punya anak menikmati kebahagiaan itu? Misal dia sudah ngerasain susahnya, mungkin ya kebahagiaan itu akan luntur dikit-dikit. Trus nyalahin si anak kenapa susah banget diatur, cari masalah, nambah-nambahin kerjaan, dan bisanya bikin stress orang tua. Oke, dimana kebahagiaan itu?

Kalau kemarin saya bilang obat galau adalah iman. Hari ini saya bilang kalau kunci kebahagiaan itu TAQWA. Ini agak naik level dikit ya.

Dalam banyak ayat dijelaskan bahwa orang yang taqwa ini adalah orang-orang yang melakukan amal-amal sholih. Kita tengok ayat yang memrintahkan sholat.

“… Dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, agar kamu bertaqwa.”

Di ayat-ayat yang lain gelar taqwa diberikan kepada orang yang di awal ayat dipanggil sebagai orang-orang yang beriman.

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183)

See?

Taqwa ini gak akan bisa lepas dari iman dan amal sholih. Iman yang mendorong seseorang untuk melakukan amal-amal sholih. Dan seseorang akan sangat mudah melakukan amal sholih tanpa perlu bertanya kenapa begini kenapa begitu juga karena iman.

Sekian bulan yang lalu ada temen saya yang nanya tentang kegiatan suatu kelompok. Intinya, dia nanya kenapa mereka ini mau dateng satu per satu ke orang-orang untuk ngajakin orang-orang ini ngaji Islam. Gak sedikit di antara mereka ditolak. Tapi besoknya dateng lagi, dateng lagi, dateng lagi. Sampai yang nolak capek. Mereka gak dibayar. Tapi kenapa mereka mau melakukannya.

Saya gak jawab apa-apa sih waktu itu. Saya cuma ngebatin aja.

“Ya karna imanlah. Dia gak minta dibayar karna dia gak minta bayaran dari manusia. Dia sudah sangat amat sadar kalau nanti yang bales itu bukan manusia, tidak dengan materi, tapi sepetak kavling di surga nanti. Just it.”

Pertanyaan temen saya tadi kalau disederhanakan, kenapa sih mereka mau dakwah? Kenapa sih kudu banget dakwah?

Pertanyaan yang serupa mungkin juga pernah kita tanyakan dalam diri kita. Kenapa kita kudu banget sholat? Kenapa kita kudu banget puasa? Kenapa kita kudu banget zakat? Kenapa sih gak boleh cukur alis? Kenapa sih gak boleh tattoan? Kenapa sih gak boleh makan dan minum yang ada alkohol atau babinya? Dan pertanyaan kenapa-kenapa yang lain?

Ini sering kita abaikan karna mungkin bikin kepala makin pusing. Atau misal kita nanyain gitu mulu, ntar lama-lama kita jadi gila, yang paling parah, jadi gak beriman lagi. Akhirnya kita nyerah gitu aja.

Insya Allah di 10 hari ke depan saya akan bahaskan secara tuntas tentang ini. Biar gak ada lagi pertanyaan kenapa-kenapanya. Biar kita gak gampang galau juga. Dan tentu biar kebahagiaan haqiqi itu bisa kita raih.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s