Ramadhan #8: Obat Galau

Surabaya, 3 Juni 2017 – 8 Ramadhan 1438 H

“Obat galau itu iman”

Saya gak ngerti dengan apa yang terjadi hari ini kenapa rasanya pemuda hari ini lebih rentan perasaannya. Dikit-dikit galau, dikit-dikit baper, dikit-dikit GR, dan semacamnya. Ada yang pernah bilang bahwa ini ada impact media hari ini yang mengaruskan semua manusia punya sisi feminitas lebih. Maksudnya adalah perasaan lebih dikedepankan dibanding logika berpikir. Saya sih, iyain aja. Toh, faktanya memang demikian.

Sekarang lo media mana yang gak ngajarin orang galau? Sosial media isinya baper-baperan, dengerin lagu mostly juga lagu cinta-cintaan (mulai dari cinta terlarang sampau yang agak religius), filmnya juga udah mulai drama banget, sinetron apa lagi. Blog-blog yang tulisannya menjurus ke galau-galau pasti banyak pengikutnya. Trus yang mengamini juga banyak. They said, “iya, ini gue banget.”

Kita bisa sama-sama lihat yang gampang baper itu gak cuma cewek tapi yang lakik juga banyak. Anehnya, kadang mereka lebih mudah baper dibanding perempuan. Oke, tidak semua demikian. Ada yang gak. Oke boys.

Galau, baper, atau apalah itu namanya. Kemudian jadi macem penyakit yang nular dan siap njangkitin siapa aja. Impactnya, psikiater dan psikolog jadi laris manis. Padahal ya belum tentu dengan konsultasi macem gitu masalah selesai.

Dear galauers and baper-mania,
Kita punya Allah loh. Jangan lupa.

Tentang galau juga obatnya sederhana. IMAN.

Ikhlas dengan segala kondisi yang Allah kasih itu bagian dari iman. Syukur terhadap segala kondisi yang dikasi sama Allah juga masuk ke iman. Sampai percaya bahwa yang menimpa hari ini adalah yang terbaik dari Allah itu pun bagian dari iman. Implementasi dari rukum iman yang ke-6, QADLA’ QADAR.

Semua dilakukan atas dasar kepercayaan bahwa Allah yang mencipta gak mungkin gak ngasih yang terbaik untuk ciptaannya. Sedangkan kita yang cuma makhluk gak lebih tau dari Allah. – implementasi rukun iman yang pertama.

Makin yakin lagi. Makin gapapa setelah ngeh dengan apanya yang ditulis di manual booknya. – implementasi rukun iman yang ke-3.

Kita galau karena kadang kita gamau bersahabat dengan takdir. Kita masih merasa bahwa sudah usaha keras, trus ketika hasil itu seakan-akan mengkhianati proses, kita marah, kita kecewa, kita galau. Gak sedikit lo yang kemudian jadi orang yang gak punya semangat hidup lagi. Padahal ya, hasil itu gak pernah mengkhianati proses. Cuma hasil yang dikasih itu gak selalu sama dengan ekspetasi kita. Allah lo yang tau hasil terbaik buat kita. Dan hasil terbaik itu gak selalu dapet nilai A di semua mata kuliah trus lulusnha cumlaude. Adakalanya, C juga jadi hasil yang terbaik. IP 2 koma juga begitu. Ketinggalan pesawat pas ngejar meeting juga hasil terbaik.

Sebagai dosen yang duduk di sebelah kaprodi, saya cukup banyak tau tentang masalah-masalah mahasiswa hari ini. Mostly, saya gak habis pikir dengan mereka kenapa segitu idealisnya mereka sampai mereka lupa kalo hidup itu gak semuanya seideal yang ada di kepala kita.

Banyak banget mahasiswa yang dulu di kampung halamannya jadi anak yang paling pinter di kelas, selalu ranking 1, dan begitu kuliah mereka kayak gak ada apa-apanya sama yang lain. Bahkan ada banyaaak banget yang jauh lebih pinter dari dia. Trus yang gak kuat milih mengasingkan diri. Di kelas duduk di pojokan sendiri. Tugas sering gak beres. Langganan UP (ujian perbaikan) dan NSP (naik semester percobaan) di beberapa mata kuliah. Atau yang paling akut, menghilang gitu aja padahal sebenernya tinggal ngurusin skripsi aja. Yang begini kebanyakan adalah laki-laki.

Ada juga yang bermasalah dengan asmaranya. Kebanyakan dari mahasiswa yang punya masalah gini adalah mereka ini menyublim. Berubah dari benda padat jadi gas. Jadi ya, gak keliatan wujudnya. Mostly, adalah korban pacaran. Saya masih gak habis pikir sebenernya, tapi saya jauh lebih simpatik sama perempuannya. Mereka yang down trus ngilang ini kebanyakan bukan patah hati biasa. Tapi sudah remuk redam karna merasa harga dirinya sudah hilang. Entah ya, mereka udah ngapain aja pas pacaran.

Saya pernah punya masalah besar yang abis itu saya sakit. Saya marah, saya kecewa. Saya juga jadi orang bego macem mahasiswa saya tadi. Tapi ya gak lama. Saya lebih memilih berdamai dengan masa lalu saya, seburuk apapun itu. Kalau Allah saja maha memaafkan apa yang udah saya lakukan, kenapa saya gak bisa memaafkan diri saya sendiri dan mengorbankan masa depan saya?

Berdamai dengan masa lalu dan mengusahakan yang terbaik untuk masa depan itu yang kemudian saya tau ternyata bagian dari iman kepada qadla dan qadar. Yang sudah terjadi, biar aja. Toh, ya semua gak bakal terjadi tanpa izin Allah. Biar aja, sudah. Taubat dan tinggalkan masa lalu yang kelam itu tadi. Yang belum terjadi, perjuangkan. Ikhtiarkan sebaik mungkin karena kita gak pernah tau apa yang ditulis di Lauh Mahfudz untuk kita. Setelah itu, ya udah pasrahkan sama Allah.

Misal semua orang macem gini ya. Rumah sakit jiwa insya Allah sepi. Psikiater atau psikolog juga mungkin lebih ringan kerjanya karena udah gak banyak orang-orang yang galau. Semua sudah punya iman, yang even itu gak keliatan wujudnya tetap mereka yakini sebagai hal terbaik. Selanjutnya kita bisa dapat logika dari iman tadi, yaitu hikmah dari satu kejadian dan keberkahan dalam menjalani apa saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s