Ramadhan #6: Celotehan Masjid

Surabaya, 1 Juni 2017 – 6 Ramadhan 1438 H

Pelajaran sholat dari orang tua saya dimulai dari sebelum saya sekolah dan bahkan ngomongnya masih cadel. Bisa jadi lebih kecil dari itu. Saya suka sekali saat ayah saya mengajak saya sholat. Artinya, saya bisa main kuda-kudaan dengan Beliau. Hehehe.. Kalian tentunya tau posisi mana yang paling strategis untuk main kuda-kudaan itu.

Setelah ayah saya sujud, biasanya saya bergelantung di leher ayah. Sekuatnya, sampai tangan mungil saya tidak kuat lagi menahan beban tubuh dan gaya grafitasi bumi. Selebihnya saya akan berdiri tenang di belakang ayah sambil menunggu waktu sujud tiba.

Ayah juga sering mengajak saya ke masjid. Entah itu sholat apa saya sendiri juga tak ingat, dan tak sepenuhnya paham. Di masjid, selama saya tidak bertemu dengan teman main saya, saya akan tenang di samping ayah dan menunggu waktunya duduk di punggung ayah, berusaha bertahan bergelayut selama mungkin, dan menunggu waktu itu terulang lagi.

Hari ini ketika kita datang ke masjid, kita akan banyaaak sekali menemukan banyak anak kecil di dalamnya. Tidak semua datang bersama orang tuanya. Bahkan untuk anak-anak yang sudah usia-usia sekolah, mereka datang bersama teman-temannya. Baiknya, mereka terbiasa datang ke masjid. Buruknya, kalau mereka lelah sholat, mereka akan berbincang dengan rekan sebayanya atau bahkan berlarian di dalam masjid sambil tertawa riang. Tak jarang konsentrasi sholat jadi terganggu.

Dulu saya pernah seperti itu ketika bertemu teman main saya. Tapi ibu saya ini strict sekali ketika mengajak saya ke masjid. Saya tidak diijinkan untuk berpindah posisi dari samping ibu saya.

“Sholat.”

“Kalau gamau sholat, jangan main-main di belakang. Kalau capek duduk aja. Kalau mau main, pulang aja.”

Yang begitu itu akan diulang setiap kali teman main saya mengajak untuk bergabung bersama mereka. Sekali pun tidak suka, sekali pun ingiiin sekali main di belakang bersama mereka, saya memilih tetap duduk/ikut sholat (yang sebenarnya saya juga cuma tau gerakannya saja). Ilustrasinya mungkin seperti ipin upin yang didisiplinkan kak ros saat tarawih.

Anak-anak memang sangat perlu diajak ke masjid sebagai edukasi untuk mereka. Masjid nantinya bukan hanya digunakan sebagai tempat sholat mereka pun juga sebagai tempat mereka untuk menggali ilmu-ilmu Allah. Pembiasaan ini perlu dilakukan dengan dampingan orang tua. Anak-anak yang bermain riang saat jamaah lain sedang sholat itu tidak salah karena mereka tidak paham. Tapi sudah jadi PR orang tuanya untuk memahamkan anak-anak ini untuk ikut sholat berjamaah.

Teman saya pernah cerita tentang putera mereka yang belum genap 3 tahun tapi sudah bisa disiplin saat diajak ke masjid. Memang, gerakan sholatnya belum sempurna. Memang, terkadang dia sholat juga semaunya sendiri dan mendahului imam. Tapi dia tidak lagi mengganggu jamaah lain dengan bermain-main di masjid. Saya pernah tanyakan bagaimana caranya. Kata teman saya, ajak anak ini bicara sebelum sholat, usahakan untuk memahamkan dia. Bila masih lari-lari, setelah sholat ajak lagi bicara, jawab saja rasa penasaran mereka kenapa mereka dilarang demikian dengan bahasa yang paaaling sederhana. Lambat laun, dia akan paham dan mau mengikuti jamaah layaknya orang tuanya.

Seberisik apa pun anak-anak ini, kita tidak bisa menghilangkan mereka dari jamaah masjid. Bagaimanapun anak-anak ini adalah generasi penerus yang nantinya akan ikut memakmurkan masjid. Tapi bagaimana bisa mereka mau memakmurkan masjid bila pendidikan tentang itu saja belum pernah dia terima?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s