Ramadhan #5: Kisah Kaum ‘Aad

Surabaya, 31 Mei 2017 – 5 Ramadhan 1438 H

Kaum ‘Aad adalah kaum yang dulunya tinggal di Ahqaaf, yaitu gunung pasir yang berdekatan dengan Hadhramaut yang bersatu dengan negeri Yaman. Mereka ada setelah masa kaum Nuh. Kaum ‘Aad ini diberikan Allah nikmat dengan kondisi yang amat baik, dari bentuk tubuhnya, kekuatannya, kehebatannya, keluasannya, kemakmuran rizkinya, harta-hartanya, taman-tamannya, sungai-sungainya, anak-anaknya, tanaman-tanamannya, dan buah-buahannya. Sayangnya, dengan kenikmatan yang luar biasa ini, mereka justru berpaling dari Allah.

Kaum ini juga punya hobi membuat bangunan pada tiap-tiap tanah tapi tidak untuk ditinggali. Mereka suka menimbun bahan makanan, Mereka membangun benteng-benteng yang tinggi sekali untuk menghindari dari kematian. Mereka kira, dengan benteng-benteng itu mereka akan kekal di dalamnya. Mereka melakukannya, katanya sih untuk kelangsungan hidup keturunannya nanti. Sudah begitu, kaum ini suka menyiksa orang-orang dengan kejam.

Ketika Nabi Hud datang kepada kaum ini dengan membawa risalah dari Allah, mereka mengabaikannya. Mereka tetap kekeuh dengan apa yang mereka lakukan. Mereka bilang, “ini sudah jadi adat yang harus dilestarikan.” Karena itulah Allah kemudian membinasakan kaum ini dengan mendatangkan sharsharin ‘aatiyah (angin yang sangat kencang lagi dingin sekali). Dan binasalah mereka.

***

Kaum ‘Aad hari ini memang sudah tidak ada. Tapi ciri-ciri itu masih bisa kita lihat hingga hari ini, di Indonesia. Negeri dengan segala kekayaan alam yang berlimpah ruah. Ada dari rakyatnya sibuk membangun rumah di sana sini, tapi ada dari rakyatnya yang bahkan tak punya tempat untuk berteduh. Ada yang suka menimbun makanan, ada juga yang suka menahan lapar karena tak tau harus makan apa. Ada yang sibuk memperkaya diri, ada yang tertindas karenanya. Wajah-wajah baik muncul untuk menarik simpati untuk meraih kekuasaan, demi memperkuat pondasi bisnisnya.

Kisah kaum ‘Aad seharusnya menjadi pengingat kita untuk tidak melakukan hal yang serupa. Kelapangan rizki bukan untuk memperkuat diri tapi seharusnya digunakan untuk memudahkan kita beribadah. Kesehatan serta kecerdasan yang ada seharusnya tidak digunakan sebagai alat untuk menyombongkan diri apalagi menindas yang tidak mampu, tapi digunakan untuk memberikan manfaat bagi orang lain serta menyeru kepada kebaikan.

Semoga kita terhindar dari sifat yang demikian. Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s