Ramadhan #4: Kisah Ibrahim

Surabaya, 30 Mei 2017 – 4 Ramadhan 1438 H

Percakapan Ibrahim dan ayahnya diabadikan dalam Al Quran dalam Q.S. Ash-Shu’ra ayat 69-82. Berikut ini adalah cuplikan percakapan yang diambil dari ayat-ayat tersebut.

“Apa yang Ayah sembah?”

“Kami menyembah berhala dan kami senantiasa menyembahnya.”

“Apakah mereka mendengarmu ketika kamu berdoa kepadanya? atau dapatkah mereka memberi manfaat atau mencelakakanmu?”

“Tidak, tapi kami dapati nenek moyang kami dapati berbuat begitu.”

“Apakah kamu memperhatikan apa yang kamu sembah dan nenek moyangmu sembah terdahulu? Sesungguhnya mereka itu musuhku, lain halnya Tuhan seluruh alam, yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku kembali, dan yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.”

Seperti yang sering kali kita dengar dulu dalam kisah nabi-nabi ketika Pak Ustadz dulu cerita di TPQ, atau mungkin guru agama Islam kita ceritakan. Kisah ini sebenarnya sebagai pengingat bahwa agama apa yang kita peluk dan siapa yang kita sembah bukan warisan yang tak mampu kita pilih. Nama kita, tempat kita lahir, keluarga kita, semua adalah pemberian yang tak pernah kita minta satu kali pun dan tak pernah mampu kita kompromikan. Agama dan sesembahan tidak demikian.

Dalam kisah Ibrahim lain yang diabadikan dalam Q.S Al Anam 74-81 yang kemudian diceritakan bagaimana proses pencarian Ibrahim untuk menemukan agama yang haq dan siapa Tuhan yang pantas untuk ia sembah. Ia bahkan mempertanyakan kepada ayahnya tentang patung-patung yang disembah oleh ayahnya dan kaum ayahnya.

“Ayah, pantaskah patung-patung ini engkau jadikan sebagai Tuhan?”

Bukan hanya Ibrahim yang demikian, tapi semua manusia pasti akan mempertanyakan tentang siapa sesungguhnya Tuhan yang layak disembah. Itulah naluri yang Allah berikan kepada manusia untuk menuntun manusia kepada agama yang paling benar, bukan atas pemberian tapi atas proses pencarian. Iman bukan warisan. Iman bukan tentang apa yang kita bisa rasakan. Iman berasal dari proses berpikir, tentang keyakinan yang didapat dari proses berpikir tentang dari mana asal manusia, untuk apa mereka hidup, dan kemana kah mereka akan kembali. Benarkah Allah itu yang mencipta sekaligus pengatur? Benarkan Al Quran datang dari Allah? Selanjutnya bila pertanyaan-pertanyaan ini mampu terjawab, maka mudah untuk menjawab kenapa kita harus sholat? kenapa kita harus puasa? kenapa kita harus berzakat, menjaga pergaulan, menutup aurat, menundukkan pandangan, berjihad, berdakwah, dan segala amal shalih lain.

Ibrahim pernah keliru menyangka bintang sebagai Tuhan. Tapi ketika bintang itu terbenam dia berkata, “aku tidak suka kepada yang terbenam.”

Ibrahim pernah keliru menyangka bulan sabit sebagai Tuhan. Tapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”

Ibrahim pun pernah keliru menyangka bahwa matahari adalah Tuhan, karena dia yang lebih besar dari bintang dan bulan. Tetapi ketika matahari terbenam, dia kembali menyadari bahwa bukan itu Tuhan yang dia cari.

Dari proses berpikirlah Ibrahim menemukan agama tauhid. Sehingga dia begitu yakin dengan apa yang diambilnya. Atas keyakinan itu Ibrahim mampu untuk mengajak ayahnya, Ibrahim terus menerus berusaha meyakinkan ayahnya, seperti yang dikisahkan dalam Q.S Maryam 42 dan 46.

“Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu?”

“Bencikah engkau pada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tak berhenti, engkau akan kurajam, maka tinggalkan aku untuk waktu yang lama.”

Bukan ayah atau ibu kita yang menentukan agama kita. Tapi pilihan kita. Semoga kisah ini terus menjadi pengingat untuk tidak lupa bahwa Islam diambil, diimani, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari bukan karena orang tua kita melakukannya, tapi karena keyakinan kita dari proses menemukan Islam itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s