2. kebaikan yang bertanggung jawab

prawitamutia:

saya termasuk orang yang pelit kepada pengemis atau peminta-minta. pasalnya, semakin diberi, semakin bertambah banyak jumlah mereka. saya sangat setuju dengan imbauan pemerintah daerah di lampu-lampu merah. “dilarang memberikan uang kepada pengemis.”

saya percaya bahwa satu-satunya orang yang paling bisa menolong diri kita adalah diri kita sendiri. bahkan, Allah pun menyatakan demikian di dalam Alquran. memang, tak bisa dipungkiri, di sekitar kita banyak sekali orang-orang yang butuh bantuan agar terentaskan dari masalahnya–entah masalah material, finansial, maupun moral. sekali dua kali, orang-orang tersebut benar-benar perlu dibantu. selanjutnya? bantuan kita harus beda “bentuknya”.

tentang kebaikan ini, tidak perlu jauh-jauh sampai ke pengemis segala. seringkali, ini pun terjadi di lingkungan yang dekat dengan kita. ada orangtua yang begitu royal kepada anak-anaknya, sehingga anak-anaknya tumbuh menjadi orang-orang yang daya juangnya rendah. ada sahabat-sahabat yang begitu baik kepada teman-temannya, sehingga temannya itu menjadi sangat bergantung kepadanya. ada tetangga yang terlalu baik kepada tetangganya–meminjamkan uang terus tanpa dikembalikan misal, sehingga si tetangga punya pikiran, “ah gampang kalau nggak punya uang, tinggal minta pinjam.”

sebaiknya, dalam melakukan kebaikan, kita memang perlu cermat. tidak berarti kita pilih-pilih, tetapi berarti harus bertanggung jawab. jangan sampai kebaikan yang terus-menerus kita berikan kepada seseorang membuatnya manja apalagi malas. seperti kata pepatah yang terkenal, “berikan kailnya, jangan ikannya.”

saat kita saling memberikan kebaikan, sejatinya kita sedang melangsungkan proses pendidikan dalam masyarakat. lakukanlah kebaikan untuk kebaikan, lakukanlah kebaikan yang menumbuhkan seseorang.

Dear mbak @prawitamutia, sekiranya mbak lupa, saya ingatkan. Satu-satunya yang mampu menolong kita adalah Allah.

Usaha kita atau apapun yang terjadi di sekitar kita. Itu karena kehendak Allah. Pilihan-pilihan kita, usaha kita, hanya mampu memberikan jalan. Selebihnya Allah yang membukakan. Allah yang menentukan. Itu pun kalau diizinkan.

Pengetahuan tentang takdir bukan untuk merendahkan diri, berpasrah diri atau berpangku tangan begitu saja. Kita juga perlu tau, kita tidak pernah tau takdir kita seperti apa, kita hanya tau takdir yang telah terjadi adalah yang terbaik, sekali pun itu tak menyenangkan halnya.

Mengenai usaha yang mampu mengubah takdir. Pertanyaannya, takdir mana yang diubah sedangkan kita sendiri saja tak pernah tau sebelumnya. Kita bahkan tidak tau apakah skenario yang sedang kita jalani ini karena pilihan kita ataulah settingan Allah.

Saya setuju bahwa ummat perlu edukasi untuk berpikir apakah kebaikan yang dilakukan ini akan menyelesaikan masalah, contohnya pengemis tadi. Kita pun tau ada sekian banyak aksi sosial yang adakalanya tidak tepat sasaran. Misal, mereka butuh tenaga untuk membangun kembali, tapi yang dikirimkan terus menerus adalah pakaian dan makanan. Mereka butuh tentara untuk membantu mereka lepas dari kekejaman, tapi yang dilakukan adalah dana sosial yang terus mengalir. Tidak salah dengan kebaikan-kebaikan itu. Tidak salah bila itu terus menerus dilakukan. Tapi kita juga tidak boleh melupakan hal yang seharusnya kita lakukan untuk sepenuhnya membantu mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s