justeru berbahaya nak, bila kau sudah pandai memilih diksi tapi dasar agamamu tidak terlalu kuat. Kamu sudah mantap menyebut dirimu sebagai penulis. Dahulu kala nak, ulama itu menulis untuk memberi secercah cahaya bagi ummat. Bukan sekedar untuk mengekspresikan pikirannya sendiri. Bukan untuk membenarkan pikirannya sendiri. Maka menulis harus diawali dengan hati yang tawadhu, sikap yang wara’. Hati-hati dengan fitnah popularitas, ujub dan takabbur. Semoga Allah senantiasa memberi kamu hidayah

nasihat yang diterima hari ini yang somehow ngebuat saya bukan cuma takut menulis tapi juga mulai takut mengisi kajian hha.

teringat kata ustadz Fauzil Adhim, kalau menulis terus dan ngisi kajian terus, kapan belajarnya? kapan membacanya?

bodohnya saya dulu yang zaman kuliah disuruh ngisi kajian langsung ngisi-ngisi aja. Nggak pernah berpikir apapun. Semoga Allah memberi kita taufiq.

Saya berhutang banyak sekali muwashofat. Banyak sekali. Lagi-lagi semoga Allah memberi kita taufiq.

(via deamahfudz)

Jangan takutlah Mbak. Lebih hati-hati aja dalam menyampaikan ilmu. Ilmu itu juga perlu disampaikan sekalipun yang nyampaikan juga masih belum selevel ulama.

Tapi karna masih newbie banget, rasanya ya gak bisa gitu bicara yang seakan-akan itu tentang kesimpulan dari bahan kajian, padahal masih hipotesa diri yang belum tentu bener.

Smangat Mbak. Jangan takut.

Pukpuk anget, seanget mie ayam dari dedek Lely 😳

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s