Pemimpin

“Keterikatan kita pada satu organisasi yang kemudian menjadikan kita harus ikut apa kata pemimpinnya.”

“Tapi kan muhasabah ke pemimpin itu juga wajib. Maksudku, kalo pemimpinnya salah, kita wajib mengingatkan.”

“Gak sesederhana itu, Lel.”

“Kalo gak bisa dimuhasabahi, kenapa harus diikuti?”

“Kan taat sama pemimpin itu wajib.”

“Tapi kan…”

***

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ ۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal).”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 165)

اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَاَوُا الْعَذَابَ وَ تَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْاَسْبَابُ
“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 166)

وَقَالَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا لَوْ اَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّاَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوْا مِنَّا ۗ كَذٰلِكَ يُرِيْهِمُ اللّٰهُ اَعْمَالَهُمْ حَسَرٰتٍ عَلَيْهِمْ ۗ وَمَا هُمْ بِخٰرِجِيْنَ مِنَ النَّارِ
“Dan orang-orang yang mengikuti berkata, Sekiranya kami mendapat kesempatan (kembali ke dunia), tentu kami akan berlepas tangan dari mereka, sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka perbuatan mereka yang menjadi penyesalan mereka. Dan mereka tidak akan keluar dari api neraka.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 167)

3 tahun yang lalu, pas penyakit psikis saya sering kambuh, saya pernah diajakin temen saya ikut ngaji yang kata dia bisa nyembuhin penyakit saya. Pikir saya, mungkin saya memanh kurang sentuhan rohani, jadinya saya gak bisa lihat solusi yang bener-bener real. Pas ngaji, saya justru makin cengo karna lihat mereka melakukan sesuatu macem ritual-ritual yang gak bisa saya nalar sekali pun. Okelah, yang dilakukan itu sholat, tapi mereka benar-benar memuja kyainya dengan sangat amat besar, sampai-sampai saya pas wudhu disuruh bayangin wajahnya dia.

Seminggu kemudian, saya dapet ayat itu. Al Baqarah 165-167, yang intinya, kecintaan kita pada selain Allah yang lebih besar, tanpa disadari bisa menjadikan sesuatu itu menjadi sesembahan yang lain selain Allah. Kita pikir nanti di akhirat, mereka yang menyesatkan kita yang kemudian mempertanggungjawabkan semuanya. Nyatanya enggak. Kita sendiri yang mempertanggungjawabkan semua pilihan kita.

3 ayat ini yang kemudian saya pegang erat. Saya boleh aja masuk dalam kelompok mana pun, tapi saya tetap harus pakai otak saya biar saya tetep on the track. Misal, ternyata saya masih kegelincir, at least saya sudah mengusahakan sebaik mungkin.

Setelah kejadian itu, saya agak sering nemu orang yang begitu taat sama pemimpinnya tanpa melihat apakah yang dilakukan pemimpinnya itu baik atau tidak, sesuai syariat atau tidak. Mereka bilang,

“Kan taat sama pemimpin itu wajib Lel.”

“Tapi kan, taat sama Allah dan Rasulnya jauh lebih wajib?”

Banyak orang yang lupa bahwa taat pada pemimpin itu ada setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Artinya, pemimpin yang tidak taat pada Allah dan Rasul-Nya gak perlu ditaatin. Bagaimana mungkin kita taat pada pemimpin yang aturannya saja bertentangan dengan aturan Allah?

Abu Bakar As Shiddiq, ketika beliau dibaiat menjadi Khalifah, beliau berpesan pada rakyatnya yang kurang lebih begini,

“Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika aku tidak mematuhi keduanya, maka tidak ada kewajiban taat atas kalian terhadapku.”

Itulah sikap yang dicontohkan oleh khalifah pertama setelah rasulullah wafat. Pemimpin yang memimpin ummat Islam setelah masa kenabian. Bayangkan saja, Abu Bakar yang selalu mengikuti rasulullah bisa berkata begitu, apalagi manusia hari ini yang ketemu rasul aja gak pernah? Bukankah tingkat errornya jauh lebih besar?

Kita gak bisa menafikkan kesalahan yang dilakukan. Kita gak bisa memaksa hati kita untuk sepakat, saat kita tau bahwa keputusan yang dilakukan itu salah. Kita gak bisa memaksa bibir dan tubuh kita untuk mengikuti segalanya saat kita tau apa yang diputuskan tak benar-benar baik.

Silahkan bila kemudian kita memilih mengambil jalan itu. Tapi ingat lagi 3 ayat di atas. Mereka sama sekali tidak bertanggung jawab atas segala pilihan yang kami ambil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s