Random Talk

Capek saya yang membuat saya memutuskan untuk tidak banyak bertemu dengan banyak orang, kecuali yang sudah siap jadi tempat sampah saya. Sudah kali kedua ini saya marah-marah waktu praktikum dan rasa bersalahnya tidak kunjung usai. Pertama, saya tiba-tiba bentak mahasiswa saya karena paginya saya habis debat sama rekan kerja, masalah borang. Setelah itu, saya istighfar berkali-kali dan berusaha menebusnya dengan mendatangi meja masing-masing kelompok. Hari ini pun sama. Ini praktikum perdana mata kuliah baru di kurikulum baru. Modulnya belum 100% sempurna dan masih kadang bisa kadang enggak. Saya pikir mereka akan mudah saja menjalankannya, karena memang rangkaiannya masih mudah sekali. Tinggal colok lah. Target dari praktikum ini bukan tentang ketrampilan menggunakan peralatan, tapi menganalisa respon dari rangkaian. Lihat dari awal udah salah kaprah. Saya tuntun satu persatu.

“Sudah ya, ini tinggal tambahkan ammeter aja.”

Pikir saya, mahasiswa semester 4 itu sudah pasti tau bagaimana memasang ammeter pada rangkaian. Sudah tau bagaimana troubleshoot rangkaian. Ternyata saya salah.

Saya tetep arahkan mereka sih. Tapi ya gitu, dengan nada yang gak seharusnya. Kelompok yang dari awal salah pada akhirnya benar-benar gabisa dapat data, salah satunya bahkan ngadep ke saya sambil nangis. Saya peluk dia, sambil menenangkannya.

“Sudah, ini bukan sepenuhnya kesalahanmu. Saya ngasih project begitu bukan karna kamu yang bikin bunga api di salah satu modul. Bukan. Sudah ya..”

Mahasiswi saya nangis sampek gak bisa ngomong. Mungkin kalo hari ini saya punya anak, trus capek, trus anak saya bikin salah, mereka juga bakal nangis sesenggukkan minta maaf ke saya. Atau.. milih ambil jarak sama saya.

Serius, saya ngerasa bersalaaaaah banget. Ngerasa bersalah karena njelasin pake nada tinggi dan baru sadar setelah semuanya berlalu. Ngerasa bersalah karena saya ngerasa gagal di mata kuliah ini. Dan banyak hal lain.

Sebenarnya ada untungnya saya jadi dosen. Tanpa harus punya anak saya ngerasa udah jadi ibuk yang punya banyak anak yang masing-masing punya karakteristik beda-beda dan perlakuan yang beda-beda pula. Saya belajar banyak dari ini. Keuntugan lain jadi dosen, kamu bisa mengukur kapasitasmu, kamu pantes gak jadi ibuk?

Kamu pantes gak jadi ibuk kalo pas kamu capek anak-anakmu yang kamu jadikan pelampiasan marahmu?

Kamu pantes gak jadi ibu, kalo kamu sendiri gak benar-benar bis mengontrol emosimu?

Kamu pantes gak jadi ibuk, ketika kamu bahkan gak cukup sabar buat ngajarin anak-anak didikmu?

Kamu pantes?

Berkali-kali pertanyaan itu muncul dalam kepala saya. Kemudian saya merasa saya belum cukup pantas mendapatkan amanah itu.

“Mungkin ini alasannya kenapa semuanya masih tertunda. Allah tau kapan waktu yang tepat untuk saya dengan rencana yang jauh lebih indah.”

Ruang Dosen PS0105, 27 Maret 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s