Renungan Pagi: Si Pencari Tuhan

Tiba-tiba aja inget tentang cerita teman saya, sebut saja Fulan, yang kemudian melakukan hijrah setelah serangkaian pencarian yang dia lakukan.

Fulan, lahir dalam keluarga muslim. Jadi, tanpa dia minta, dia bisa langsung menjadi muslim. Secara hukum, dia tercatat sebagai muslim. Fulan memang tidak pernah belajar Islam langsung dari orang tuanya karena background keislaman orang tuanya yang biasa-biasa saja. Bukan da’i, apalagi ulama. Dia belajar dari TPQ dan pendidikan formal di sekolahnya. Jadi sangat amat wajar kalo Fulan seperti orang muslim rata-rata di negeri ini.

Kalo hari ini kita lihat ada muslim yang gak sholat, ada muslim yang masih maksiat, ya begitulah Fulan dulu. Sholatnya diabaikan. Mengambil harta orang lain yang bukan haknya. Bahkan dia berbohong tentang urusan ibadahnya.

“Fulan, sudah sholat Nak?”

“Sudah, Mi”

Padahal belum.

Apa orang tuanya tidak tau? Tentu saja tau. Tapi sudah terlalu lelah menasehati, terlalu lelah untuk memarahinya. Saking lelahnya, mereka hanya mampu mendoakan Fulan agar berubah.

Mungkin itulah kekuatan doa dari orang tua Fulan yang kemudian menggiring kehidupan Fulan untuk menemukan Islam secara utuh. Perjalanan panjang yang akhirnya mampu mengantarkan Fulan untuk terus mendalami Islam.

***

Kisah ini dimulai ketika Fulan lepas mencuri dengar isi kajian orang lain. Fulan sengaja diam di tempat itu hanya untuk mencuri dengar. Tak dinyana, ternyata ustadz yang tadi memberikan materi itu mengetahuinya, didekatilah si Fulan dan diajaknya dia ikut mengkaji Islam bersamanya. Fulan mau, tapi Fulan takut, Fulan khawatir dia akan dicuci otaknya seperti orang-orang di luar sana.

Pertemuan pertama kajian, Fulan dikenalkan jalan menuju keimanan yang sempurna. Jalan untuk menyempurnakan rukun iman dan Islam yang sudah dihafalkannya sedari SD dulu. Tak jarang Fulan berdiskusi dengan rekannya untuk menjaga kewarasan pikirannya.

Seminggu, dua minggu, tiga minggu, terjadi perubahan dalam diri Fulan. Fulan yang dulunya sholat karena gengsi dilihat temannya gak sholat. Fulan yang awalnya sering ogah-ogahan sholat, akhirnya mau sholat dengan kesadarannya sendiri.

“Wah, kemajuan nih gue,” pikir Fulan.

Tapi yang begini ini sifatnya masih mingguan. Kalo dia ngaji, sholatnya full, tapi kalo dia gak ngaji, sholatnya bolong-bolong lagi. Hingga akhirnya Fulan sadar.

“Oke, gue gak bisa kayak gini terus. Gue butuh ngaji biar gue bisa berubah jadi lebih baik.”

Kajian rutin dijalani dengan sabar hingga satu saat Fulan ditawari untuk bergabung dalam jama’ah.

“Apaan ini? Gue ogah ikut-ikutan gitu.”

Itulah waktu dimana Fulan akhirnya berhenti untuk mengaji. Fulan yang dulu, memang sudah berbeda dengan Fulan setelah mengaji. Tapi maksiatnya tetap jalan, dia masih sombong, dia masih sering meremehkan Tuhannya.

Ah, kamu su’udzon, Lel

Enggak, ini pengakuan Fulan sendiri. Fulan menjadikan hidupnya sebagai taruhan tentang mana yang lebih hebat. Kuasa Tuhan atau memang kemampuannya.

“Dulu, dari SD sampek SMA gue sholat bolong-bolong, tapi bisa tuh masuk sekolah favorit, setelah lulus masih bisa kuliah dia PT negri pula. Artinya, gue kayak gini karna usaha gue. Gue gak percaya kalo semua itu emang kuasanya Allah. Gue mau nyoba sendiri.”

Fulan bereksperimen dengan hidupnya sendiri untuk menemukan kekuasaan Tuhannya. Skripsi yang dijadikan sebagai alat.

Seminar proposal, ibadahnya biasa-biasa aja, sholat tetap dijalankan, tapi berdoa udah mulai jarang. Hasilnya? Dia habis disidang proposal.

Oke, gapapa.

Percobaan kedua, seminar hasil. Dia mulai menaikkan level ibadahnya. Gak maksimal, tapi lebih baik dari sebelumnya. Hasilnya? Revisi gampang, tapi sidang tetep bikin keringetan.

Percobaan terakhir. Dia maksimalkan ibadahnya. Dia pasrahkan sepenuhnya urusan skripsi itu ke Tuhannya. Hasilnya? Dia lulus dengan hal-hal yang gak pernah dia bayangkan.

Objek percobaan dalam skripsinya gagal untuk didemokan, bahkan rusak. Butuh waktu lebih dari seminggu untuk memperbaiki semuanya. Sedangkan waktu itu, batas waktunya tinggal 3 hari lagi sebelum pendaftaran yudisium ditutup. Stres, pengen nangis, dan segala hal dia rasakan. Tapi Fulan gak berhenti berharap. Dia jalani semuanya, dia hadapi semua pengujinya, diceritakan semua masalahnya ketika revisi.

“Coba aja sampai waktunya mau habis. Kalo memang gak bisa, yaudah gapapa. Hasil akhir itu aja yang kamu tunjukkan ke saya.”

Semudah itu. Sedangkan teman-teman yang lain ada yang gagal yudisium karena cerita yang serupa.

Coba dipikir lagi? Apa Fulan yang berkuasa? Tidak. Apa Fulan yang pandai melakukan lobyin ke dosen tersebut? Tidak.

Semua terjadi karena Allah.

Sejak saat itu, Fulan percaya. Semua hal yang terjadi, bukan kuasanya bukan karena usahanya, tapi karena ada yang jauh lebih berkuasa dari Fulan, yaitu Allah.

Percobaan ini yang kemudian menyadarkan Fulan, menjadi titik balik bagi Fulan untuk terus mencari Islam, mengkaji Islam, dan meyakini kekuasaan Ilahnya.

***

Fulan yang hari ini saya lihat bukan lagi Fulan yang dulu. Fulan yang sering berkata kotor, Fulan yang suka merokok, Fulan yang sering meninggalkan sholat. Fulan yang hari ini saya lihat adalah Fulan yang sholih. Fulan yang jauuuh lebih baik dari Fulan yang dulu. Fulan yang bahkan ikut berjuang di jalan dakwah.

Kata Fulan, “untung ya Lel, waktu gue pasang taruhan gitu sama Allah, gue gak mati. Misal waktu itu gue mati, mungkin gue gak akan punya kesempatan buat tobat trus langsung plung gitu aja di jahanam, jejeran ama Firaun. Alhamdulillah, Allah masih kasih gue hidup, masih kasih gue kesempatan buat tobat, masih kasih gue kesempatan buat menyempurankan pemahaman gue tentang Islam. Jadi gue bisa kayak sekarang. Iya, ilmu gue emang masih jauuuh banget dari ulama-ulama yang dulu. Tapi gue masih bisa bersyukur banget karena Allah memudahkan gue mendapatkan ilmu-ilmu itu, sekaligus temen-temen yang sholih, yang jaga gue biar gue malu kalo gue tiba-tiba maksiat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s