Perjalanan untuk Menemukan

Ceileee judulnya. Romantis banget. But seriously, ini bukan topik tentang nikah atau pun jodoh.

Trus apa Lel?

Ini kisah tentang perjalanan ke Barat untuk mncari kitab suci. Wkwkwkwk..

Gak, becanda.

Ke barat beneran sih, tapi gak nyari kitab suci juga. Gak kesana barengan kera sakti apalagi biksu tong. No. Cuma perjalanan ke Barat.

***

Ini video yang ditunjukkan sama Bu Umi ke saya sekian bulan yang lalu. Video tentang bagaimana ketika Islam menguasai dunia, peradaban manusia menjadi semakin berkembang. Saya rasa jelas sekali kenapa peradaban itu bisa menguasai dunia. Pada masa itu teknologi berkembang dengan pesat. Penemu-penemu yang teknologinya kita pakai hingga sekarang pun ada banyak jumlahnya. Kalo di tulisannya Mbak Dea, Mbak Dea sering bilang kalo penemu-penemu ini gak cuma ahli dalam satu bidang saja, tapi mereka ini adalah orang-orang polygoth (menguasai banyak bidang dalam satu waktu).

Saya sering ngobrol santai sama Mbak Dea tentang ini. Kemudian bertanya-tanya kenapa mereka bisa begitu, sedangkan kita enggak. Kata Mbak Dea, alasan mereka bisa jadi ahli hadist, tafsir, dan ilmu yang mereka dalami itu karena memang untuk menemukan salah satu teknologi mereka gak hanya belajar ilmunya saja, tapi pun fiqihnya. Jadi gak mungkin banget mereka gak ngerti Quran dan Hadist ketika mereka belajar tentang hal itu.

Perjalanan ke barat kemarin, lagi-lagi saya dikasih ilmu baru tentang bagaimana Islam memberikan solusi tentang masalah pendidikan sekaligus bagaimana cara mengembalikan Islam ke dalam masa keemasan itu.
Kuncinya ada di mana?

Kuncinya satu, penerapan Islam secara kaffah, yaitu dengan optimalisasi peran perempuan sebagai madrasah pertama bagi anak dan perubahan kurikulum yang ada berdasarkan aturan Islam agar nantinya pendidikan ini menghasilkan produk yang bisa berguna untuk kemaslahatan ummat.

Kemarin itu dijelaskan secara detail tujuannya apa, motifnya apa, urgensitasnya apa, sampai ke teknisnya. Dan tentu saja yang dibahas gak cuma pendidikan tingginya saja, pun juga pendidikan anak usia dini juga dibahas.

Salah satu hal yang saya temukan tentang kenapa dulu begitu dan kenapa sekarang begini itu karena pendidikan hari ini terlalu mengkotakkan orang dalam satu bidang saja. Individu dikatakan ahli ketika dia hanya mendalami satu bidang. Sedangkan orang-orang yang punya banyak kepintaran justru tidak meyakinkan karena dirasa produk yang dihasilkan dari orang-orang semacam ini hanya luarannya saja, gak sampai dalam.

Pendidikan pada masa khilafah tentu jauh berbeda dengan pendidikan hari ini. Pada masa khilafah, seseorang bisa belajar apa saja tanpa harus dibatasi saya anak jurusan X, Y, atau Z. Mereka belajar didasari atas kebutuhan mereka akan ilmu dan kesenangan mereka itu apa. Manusia tidak lagi dikotak-kotakkan dalam jurusan A, B, C, dst hanya untuk mempelajari sekian persen dari paket kurikulum yang sudah disediakan.

Jadi, gak heran kalo ada banyak polygoth-polygoth pada masa khilafah itu tadi. Ada optimalisasi waktu dan pengajaran yang berbasis pada produk untuk menjawab permasalahan ummat hari itu. Kesempatan untuk belajar apa saja secara dalam pun dibuka lebar-lebar. Beda dengan sekarang, hari ini kalo kita pingin jadi insinyur, maka kita harus belajar di jurusan teknik dan mengambil seluruh sks yang diwajibkan. Trus misal, di tengah jalan kita pengen belajar kedokteran secara detail, ya kita harus ambil kuliahnya, sekaligus serangkaian sks yang wajib untuk di tempuh. Susah gak? Seems imposible? Iya.

Memang, ada segelintir orang yang bisa melakukannya. Tapi produknya apa selain ijazah? Adakah penemuan-penemuan yang dihasilkan oleh orang-orang dengan gelar multidisiplin ilmu? Dalam salah satu episode acara Hitam Putih, pembawa acaranya pernah mengundang orang yang demikian. Kuliah di banyak bidang, tapi pernah kah kita mendengar karyanya yang hingga diproduksi secara masal karena dirasa berguna sekali untuk masyarakat?

Rasanya memang mustahil menghasilkan orang-orang pollygoth lagi atau bahkan menjadi orang-orang polygoth itu lagi dengan kualitas manusia hari ini dan sistem pendidikan yang ada hari ini. Tapi rasanya bukan hal yang mustahil ketika kita memperjuangkan yang demikian.

Paling tidak demi anak cucu sendiri.

Kita gak mau kan anak-anak kita atau cucu-cucu kita ikut tergerus oleh jaman yang makin semrawut ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s