Jalan Menuju Iman

Saya muslim, dan mungkin yang sedang membaca tulisan ini pun muslim, sejak lahir. Ada permasalahan yang kita sadari bersama tentang kondisi keimanan kita dibanding orang-orang yang mualaf. Ambil saja contoh Ustadz Felix Siauw atau Ustadzah Irene Handono. Mereka ini adalah orang-orag mualaf yang kemudian justru terjun secara aktif dalam dakwah. Padahal kalo dipikir-pikir lagi, mereka itu baru-baru ini aja masuk Islam. Kenapa sih Islamnya mereka bisa jauh lebih produktif dalam dakwah dibanding kita yang justru dari lahir Islam? Kenapa sih mereka bisa sampai segitu, sedangkan kita enggak?

Karena kita Islam dari doktrinasi, bukan dari proses berfikir. Kita Islam karna kebetulan aja orang tua kita Islam. Kita gak pernah mencari begitu keras seperti mualaf-mualaf seperti yang saya sebut tadi. Kita gak pernah mencari iman kita dengan proses berfikir. Kita percaya gitu aja, bahkan tanpa berfikir. Padahal kita ini diberikan kelebihan berupa akal.

That’s why, saya mau ngajak kalian mikir dengan pertanyaan-pertanyaan berikut:
percaya gak sih kalo Islam itu agama yang sempurna?
percaya gak sih kalo Islam itu agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam?
percaya gak sih kalo muslim itu adalah generasi terbaik?

“Errrr…. percaya”

Mungkin ada yang jawabnya manteb banget, ada juga yang jawab iya tapi makin ke bawah jawabnya jadi makin gak yakin, bahkan ada yang dari awal udah gak yakin duluan sama agama yang dipeluknya.

Untuk menjawabnya, kita balik dulu ke Quran.

Percaya gak sih kalo Islam itu agama yang sempurna?

Percaya, karna Quran yang bilang gitu.

…. ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ ….

“… pada hari ini telah Aku sempurnakan agamu untukmu, dan telah aku cukupkan nikmatku bagimu, dan telah aku ridhai Islam sebagai agamamu..” – Q.S. Al Maidah (5) : 3

oke, next..

Percaya gak sih kalo Islam itu agama Islam itu adalah rahmat bagi seluruh alam?


وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ 

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” –  Q.S. Al Anbiya (21) : 17

Percaya lah, kalo rasulnya aja jadi rahmat untuk seluruh alam, apalagi agamanya.

next lagi..

Percaya gak sih kalo muslim adalah generasi yang terbaik?


كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ 

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia…” – Q.S. Ali ‘Imran (3) : 110

Quran yang bilang bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik, bukan di Surabaya, bukan di Indonesia, bukan di bumi, tapi di tengah-tengah manusia. Jadi di mana pun planetnya, di mana pun lokasinya, selama di situ ada manusia, maka di situlah ada orang musli sebagai generasi terbaik.

Pertanyaannya, benarkah demikian?

Kalo kita tengok kondisi hari ini, negeri kita adalah negeri yang memiliki jumlah muslim terbesar di dunia, yang kaya akan sumber daya alam. Konon katanya, lembar ranting tumbuh pohon. Tapi kemiskinan masih banyak kita lihat di sana sini. Negeri ini kaya, tapi tidak semua orang yang masuk SMA dapat melanjutkan ke perguruan tinggi, bahkan bukan untuk bekerja. Tapi jadi artis utama dalam berita-berita kriminalisme. Sekian juta jiwa menganggur. Hutang negara makin besar. Pajak makin tinggi, tapi hutang makin gede juga. Yang seakan-akan seluruh rakyat negeri ini lagi iuran buat bayarin PNSnya. Pengguna narkotika makin marak, miras makin marak, seks bebas makin meraja lela, bahkan permasalahan hari ini ditambah dengan banyaknya paedofil.

Sisi lain negeri ini, kita mengaku muslim tapi kita hanya bisa menonton episode-episode kekejaman yang terjadi dan menangisi saudara muslim lain yang sedang disiksa di negeri mereka. Kita menangis, kita berdoa, tapi kita tak mampu membebaskan masalah mereka secara mendalam. Selanjutnya, kita kembali menjadi penonton dan menangisi kembali.

Pemerintah kita seakan bisu, tuli, dan buta. Ada sekian banyak tuntutan yang masuk hari ini. Tapi lihat bagaimana reaksinya?

Negeri ini banyak muslimnya, tapi justru penjahatnya ya kebanyakan orang muslim sendiri. Negeri ini banyak muslimnya, tapi yang miskin ya kebanyak muslim itu sendiri. Keislaman mereka bahkan ada yang lebih rendah dari Indomie. Ada banyak orang muslim yang menggadaikan agama mereka hanya agar bisa makan.

Bila faktanya demikian, mana yang salah? Allah kah yang salah? Atau kitanya yang salah?

“Ya jelas kitanya lah. Allah gak mungkin salah keles”

Salahnya di mana sih?

Tujuan hidupnya. Ada sekian banyak muslim yang pola pikirnya masih salah tentang tujuan hidupnya. Padahal tujuan hidup ini yang disebut sebagai aqidah.

Jadi, kalo tujuan hidupnya salah aqidahnya juga salah?

Menurut loo?

Kita ambil analagi sederhana tentang tujuan.

sumber gambar di sini

Itu adalah gambar kereta shinkasen yang konon katanya cepet banget. Fasilitasnya keren banget. Mau gak naik kereta itu?

Mau gak kalo misal tujuannya ke jurang?

“Ya kali Lel, mana ada yang mau.”

Secanggih-canggihnya alat tranportasi yag digunakan. Senyaman apa pun alat transportasi yang digunakan, kalo tujuannya ke jurang ya gak ada yang mau.

Inilah analogi yang menggambarkan tentang pentingnya tujuan dalam hidup.

***

Tujuan hidup manusia itu adalah hal-hal yang berkaitan dengan 3 pertanyaan mendasar tentang past, future, and present.

Dari mana asal hidup manusia?

Apa tujuan hidup manusia?

Akan kemana setelah mati?

Sebelum menjawab 3 pertanyaan mendasar ini, perlu dipahami bahwa keyakinan itu muncul dari bukti. Kita yakin kalo Si A jago nulis, karna karya-karyanya yang selalu jadi best seller. Kita yakin kalo Si B jago gambar, karna karya-karyanya. Kita yakin Pak Habibi bisa bikin pesawat terbang karna karyanya. Sekali pun kita gak pernah lihat secara langsung mereka bikin itu.

Jadi, kita pun akan menjawab 3 pertanyaan itu pun dengan bukti-bukti yang ada.

Dari mana asal hidup manusia? 

Kalo kata Darwin sih, dari kera. Ini teori yang selalu muncul di pelajaran biologi kita. Evolusi itu terjadi karena seleksi alam. Jadi, kalo dia gak mampu untuk bertahan, maka dia akan mati. Logikanya, kalo kita ini berasal dari kera, kenapa hari ini kera itu masih ada? Sodaraan dong sama kita?

“Ya gak mungkinlah Lel.”

Dari proses reproduksi. Ya kita ini lahir karena ada proses pembuahan, yaitu proses sperma masuk ke sel telur dari ovarium ke rahim untuk melakukan proses pembuaha di sana. Pertanyaannya, pernah gak sih sperma ini nyasar? Pernah gak sih sperma ini tujuannya gak ke sel telur tapi ke ginjal atau hati misalnya? Gak pernah. Bahkan uniknya, sel telur ini punya sistem imun yang menghasilkan asam yang dapat membunuh sperma dalam waktu 2 detik. Taapi pernah gak sih kita dapet cerita sperma balik kucing gara-gara takut mati? No, sperma justru sudah nyiapain antisipasinya biar sukses.

Kok bisa gitu ya?

Karna Tuhan itu ada. Gak mungkin kan itu terjadi dengan sendirinya. Gak mungkin juga manusia ngeprogam sedemikian rupa. Pasti ada yang menciptkan. Pasti ada yang mengatur. Jadi, Tuhan itu pasti ada. Gak mungkin enggak.

Trus Tuhan itu yang mana?

Yang beranak? Yang wujudnya macem-macem? Yang punya mata, telinga, tangan?

Tidak.

Kenapa?

Karena setiap hal yang bentuknya menyerupai makhluk itu bukan Tuhan.

Logikanya, kalo kita bikin onde-onde, bikin kursi, bikin buku. Gak mungkin kan bentuk kita kayak onde-onde, kayak kursi, atau kayak buku itu tadi?

Oke, Tuhan itu ada dan gak mungkin kayak makhluknya. Terus apa lagi?

Tau HP kan? Punya HP? Tau fungsinya? Tau gimana cara ngerawatnya?

“taulah Lel.”

Taunya dari mana?

“Manual instruction.”

HP itu barang pabrik, yang diciptakan oleh manusia. Untuk menggunakannya dilengkapi dengan manual instruction. Apalagi manusia itu sendiri. Kita pun punya manual instruction yang katanya yang paling bener itu Quran.

Kok tau?


ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” – Q.S. Al Baqarah (2) : 2

Pernah gak sih nemu kitab yang lebih sombong dari ini? Kita gak pernah nemu buku-buku yang pede banget bilang kalo di dalamnya gak ada salahnya. Benarkah ini bukan buatan manusia? Masih ragu juga?


وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Dan jika kamu meragukan (Al Quran) yang Kami turunkan kepada hamba Kmi (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolong selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.” –
Q.S. Al Baqarah (2) : 23

Sudah ada yang membuktikannya? Sudah? Hasilnya?

Ya.. seperti kisah-kisah yang sudah pernah kita dengar sebelumnya tentang surah gajah buatan manusia yang justru lebih mirip kayak dongeng anak balita.

Dari penjelasan ini, kalo kita percaya bahwa Allah adalah pencipta sekaligus pengatur. Maka kita bisa menjawab pertanyaan selanjutnya tentang apa tujuan hidup manusia dengan mudah.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” – Q.S. Adz Dzariyat (51) : 56

Lalu kemana kita setelah mati?

 
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“…Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” – Q.S. Al Baqarah (2) : 156

Bila kita yakin Allah itu satu-satunya illah, bahwa Al Quran itu datang dari Allah, Muhammad sebagai utusan Allah, dan setelah mati kita akan kembali lagi pada Allah. Maka gak ada yang lain yang bisa kita ambil selain kita beriman pada Allah.

Sebagai penutup, carilah imanmu dengan menggunakan akalmu. Dengan begitu satu-satu cara agar kamu tidak beriman hanya ketika kamu sudah hilang akal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s