kadernya mama intelek, dan papa humanis.

tristiul:

Dalam perjalanan mobil sekitar satu jam ke depan yang disetiri Mama, pada awalnya ia hanya diam. 

‘Terpaksa’, ia berkendara tiap pagi diantar Mama ke sekolah. Kantor Mama di Lemhanas dan sekolah menengah pertamanya sejalur. 

Mama kadang berceloteh ihwal kenaikan bahan bakar minyak. Atau kondisi runyam politik pada tahun itu, 2009, barangkali. Atau bahkan kondisi ekonomi.

Namun, walau belum kuasa paham, anehnya tak ada hal dari pembawaan Mama yang mengusik dirinya. 

Dengan setia ia menyimak. Bahasan serius, berat, serta penuh intrik dikemas dalam citarasa khas ibu yang hangat dan ringan.

Beranjak SMA, Ananda mulai gemar membaca buku-buku. Wawasan alternatif mulai terhimpun. 

Pelan-pelan ia mulai bisa menimpali. Bak kawan diskusi, percakapan mulai resiprokal, “Ma, aku nggak setuju karena ini…” 

Cah Lanang kesayangan Mama mulai nyaman utarakan opininya. 

Papa. Lalu bagaimana dengan Papanya?

Papa bagai suara rakyat kecil yang berjalan. Papa tidak pernah suka berlama dengan orang kaya. Papa lebih suka bercengkrama dengan kalangan menengah ke bawah. 

Dalam sekejap, Papa dapat tahu informasi menarik dari tempat baru yang ia kunjungi. Seperti restoran Padang yang ia sekeluarga kunjungi saban waktu, dari Papa-lah ia tahu jika pemiliknya orang Jawa. 

Papa punya magnet, sehingga orang baru kerasan bercakap lama dengannya.

“Papa humanis,” begitu ia mengenang.
Sedang Mama-nya sesosok intelek.

Bertahun kemudian, seusai ‘masa kaderisasi’ selama empat setengah tahun dari Mama di mobil, serta pengajaran Papa-nya akan kepedulian– didapuklah ia menjadi pemimpin sebuah lembaga tinggi di kampus. 

Dialah Ardhi Rasy Wardhana, Presiden Keluarga Mahasiswa (KM-ITB), periode 2017-2018.

Mendengar cerita Ardhi, ketika mewawancarainya untuk suatu proyek (hehe), ada beberapa yang aku garisbawahi. 

Bahwa seorang ibu yang mengasah intelektualitas serta memperluas wawasannya, berpotensi kuat untuk mencetak sosok pemimpin dalam diri anaknya. Ia mendidik pola pikir ‘kader kecil’-nya.

Namun, di satu sisi, belajar dari sosok ‘Mama’– ia pun harus berempati terhadap anggota keluarganya. 

Bagaimanapun, ibu tetaplah ibu yang perlu terus-menerus menempa sifat keibuannya. 

Perhatikan bagaimana ibu Ardhi mengemas bahasan-bahasan intelektual dari kantornya, menjadi sedemikian membumi bagi anaknya. 

Ini poin penting!

Bagaimana dengan ‘Papa’? Papa humanisnya Ardhi? 

Papanya adalah sosok yang membebaskan. 

Kendati mengajarkan sikap tegas dan wibawa pada anaknya, seorang pemimpin tak boleh menanggalkan sisi kemanusiaannya. 

Semoga dapat bermanfaat, terlebih jika kau tertarik melahirkan dan membesarkan calon-calon pemimpin!

*Gambar dari sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s