Qodlo’ dan Qodar

Beberapa bulan yang lalu, pertanyaan mengenai takdir sempat muncul dalam salah satu grup yang saya ikuti. Lebih tepatnya tentang bagaimana takdir itu bekerja. Benarkah segala sesuatu yang terjadi itu benar-benar karna kehendak Allah? Benarkah takdir itu bisa diubah melalui do’a-do’a yang kita panjatkan dan usaha yang kita lakukan? Kesuksesan yang kita raih sebenarnya terjadi karena kehendak Allah atau kehendak manusia itu sendiri? Kegagalan yang terjadi dalam hidup kita terjadi karena kehendak Allah atau kehendak manusia? 

Jawaban yang atas segala pertanyaan itu yang menentukan bagaimana pondasi aqidah kita. Tulisan ini ditulis dari Kajian Islamic Businnes Coaching yang disampaikan oleh Ust. Dwi Condro Triono.

***

Masalah qodlo’ dan qodar tidak pernah muncul pada zaman shahabat. Masalah ini justru muncul sekitar abad IV Hijriyah ketika banyak ulama yang menerjemahkan buku-buku filsafat Yunani ke dalam bahasa arab. Pada masa itu, para ulama tertantang untuk menyelesaikan masalah yang ada dalam kajian filsafat Yunani tersebut. Masalah ini pun sebenarnya pernah menjadi bahasan di kalangan pendeta nasrani tapi ternyata gagal untuk diselesaikan.

“Jika manusia menulis, itu atas kehendak Allah atau manusia?”

“Jika manusia itu sholat, itu atas kehendak Allah atau manusia?“

“Jika manusia itu shodaqoh, itu atas kehendak Allah atau manusia?”

“Jika manusia itu berzina, itu atas kehendak Allah atau manusia?”

Jika semua jawaban dari semua pertanyaan itu adalah kehendak Allah, mengapa Allah menghendaki ada manusia yang “dipaksa” untuk berbuat baik dan ada manusia yang “dipaksa” untuk berbuat jahat? Kemudian muncul pertanyaan baru, dimana keadilan Allah jika yang “dipaksa” jahat masuk neraka dan yang “dipaksa” baik masuk surga? Apakah Allah sedzolim itu terhadap manusia? Apakah demikian?

Kalo begitu, semua kehendak manusia. Benarkah begitu?

Bila semua hal terjadi atas kehendak manusia, berarti manusia mempunyai kebebasan untuk berbuat. Jika manusia memiliki “Lingkaran Kebebasan” untuk berbuat, maka kehendak Allah itu terbatas. Artinya, Allah tidak akan mengetahui apa yang akan diperbuat manusia, apakah dia akan pulang ke rumah atau terus pergi ke kantor? Kan kehendak manusia. La wong belum direncanakan. Berarti, Allah juga belum tahu, apakah seorang manusia itu akan masuk surga atau akan masuk neraka nantinya. Benarkah demikian?

Jika tidak, berarti Allah Maha Berilmu, Allah Maha Mengetahui apa yang sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi baik yang nampak secara lahir maupun batin. Yang artinya, Allah pun mengetahui bahwa manusia akan berbuat baik atau jahat termasuk mengetahui secara pasti bahwa manusia itu akan masuk surga ataupun neraka. Jika demikian, jika Allah sudah tahu pasti, untuk apa sekarang manusia harus rajin beribadah? Harus rajin sholat? Harus rajin berdoa agar besok dimasukkan ke dalam surga? Gak ada gunanya dong? Kan Allah sudah tahu pasti. Percuma kan sholat terus kalo ntar ujung-ujungnya masuk neraka. Atau sebaliknya, untuk apa sholat kan sudah pasti masuk surga? Subhanallah, apakah seperti itu?

Masalah ini pun akan berkembang.

Masalah hidayah. Ketika manusia itu masuk Islam itu hidayah dari Allah atau kehendak manusia? Kalau kehendak Allah, kasian dong yang gak Islam, kasian dong orang-orang yang ada di pedalaman dan gak dapat akses buat kenal Islam sama sekali.

Masalah tawakkal, apakah manusia harus berpasrah secara total kepada Allah, ataukah harus senantiasa berusaha?

Masalah rejeki, apakah itu ketentuan Allah atau hasil usaha manusia?

Masalah ajal, apakah ajal itu ketetapan Allah atau itu tergantung dari usaha manusia?

Masalah ini dari abad keempat hingga sekarang masih menjadi perdebatan di kalangan ummat Islam. Sejarah mencatat ummat Islam akhirnya terbelah menjadi 2 kelompok ekstrim. Kelompok pertama diwakili oleh golongan mu’tazilah dan qodariyah yang memahami bahwa manusia itu memiliki kebebasan berkehendak. Jadi Allah hanya sebagai pencatatan amal-amal manusia yang kemudian nanti dijumlahkan, bila banyak baiknya akan masuk surga, bila banyak buruknya akan masuk neraka.

Kelompok yang kedua diwakili oleh golongan jabariyah yang memahami bahwa manusia itu tidak memiliki kebebasan, semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah. Ada suatu kisah pada masa Umar yang menarik. Saat itu ada pencuri yang ditangkap dan akan dipotong tangannya sebagai hukuman. Kemudian pencuri itu protes, “Wahai Umar, aku ini mencuri karena kehendak Allah.” Umar pun menjawab, “aku pun memotong tanganmu karena kehendak Allah.“

Dari dua kelompok tersebut mana yang benar? Ingatlah cerita perdebatan antara orang Qadariyah dan jabariyah. Masing-masing pun memiliki dalil yang menguatkan. Siapakah pemenangnya?

Ada kisah yang menarik tentang dua kelompok ini ketika menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Mereka melakukan sebuah eksperimen untuk memakan mangga. Kelompok qodariyah diminta untuk mencari mangga hingga dapat, semampunya, sekuat tenaga yang bisa mereka usahakan. Sedangkan kelompok jabariyah diminta untuk diam saja. Kelompok qodariyah pun keluar untuk mencari mangga ke pasar, setelah mendapatkan mangga dia kembali.

“Inilah jawaban yang benar. Lihatlah, kamu di rumah saja, diam saja, gak dapat mangga, berarti yang benar siapa? Qodariyah kan?”

1-0

Qodariyah pun mengupas dan memakan mangganya dengan rasa puas karena telah menang, “inilah hasil dari usaha.” Sedangkan yang Jabariyah hanya diam saja. Melihat Jabariyah yang diam saja, qodariyah pun tidak tega, “yaudah, ini aku kasih satu.” Begitu dikassih satu, si Jabariyah menjawab, “inilah kalo Allah sudah berkehendak, aku gak ngapa-ngapain tapi dapet mangga.”

1-1

Ada beberapa dalil yang membahas tentang masalah ini,

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya”
QS. Ali Imran: 145

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”
QS. Al-A’raf: 34

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”
QS. Al-Hadiid: 22

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal”
QS. At-Taubah: 51

لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Tidak ada tersembunyi daripada-Nya seberat zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”
QS. As-Saba’: 3

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُسَمًّى ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan
QS. Al An’am: 60

***

Masalah qodlo’ dan qodar pada dasarnya tidak membahas mengenai 4 hal:

1. Perbuatan Manusia, apakah diciptakan Allah atau diciptakan manusia?
2. Iradah Allah, apakah meliputi seluruh kejadian atau tidak?
3. Ilmu Allah, apakah sudah mengetahui sebelum, selama dan sesudah kejadian atau tidak?
4. Kitab Lauhul Mahfudz, apakah sudah mencatat semua kejadian dan tidak mungkin dirubah atau tidak?

Mengapa? Karena sudah jelas berdasarkan dalil-dalil yang ada. Sudah clear.

1. Perbuatan Manusia, apakah diciptakan Allah atau diciptakan manusia? diciptakan Allah.
2. Iradah Allah, apakah meliputi seluruh kejadian atau tidak? Semua kejadian kehendak Allah.
3. Ilmu Allah, apakah sudah mengetahui sebelum, selama dan sesudah kejadian atau tidak? Semuanya sudah masuk ilmunya Allah.
4. Kitab Lauhul Mahfudz, apakah sudah mencatat semua kejadian dan tidak mungkin dirubah atau tidak? Semuanya sudah dicatat.

Pembahasan masalah qodlo’ dan qodar pada dasarnya tidak membahas tentang apa-apa saja yang tidak bisa kita indera seperti 4 pertanyaan di atas. Pembahasan ini adalah tentang apa-apa saja yang mampu kita indera, mampu kita jangkau, yaitu apa-apa saja yang ada di bumi. Perbuatan manusia misalnya. Ketika manusia berbuat, apakah bebas atau terpaksa? Jika bebas, kenapa kita tidak bisa mengendalikan detak jantung kita? Jika terpaksa, mengapa jika baik dapat pahala dan jika buruk mendapat siksa? Mana yang benar?

Pada dasarnya pembahasan qodlo’ dan qodar ini meliputi tentang fakta mengenai perbuatan manusia yang dikuasai manusia dan yang menguasai manusia. Perbuatan yang menguasai manusia ini ada yang terikat dengan nidzam wujud (mata yang bisa melihat, kaki yang menempel di bumi karena gravitasi bumi, dsb.) dan ada yang di luar nidzam wujud (perbuatan yang dilakukan oleh kehendak kita, tapi hasilnya di luar kehendak kita, ex: sudah berjalan hati-hati, tapi tetap saja terkena musibah). Ini tidak akan dihisab oleh Allah. Berbeda dengan perbuatan manusia yang dikuasai oleh manusia. Perbuatan ini yang nanti akan dihisab oleh Allah, bila sesuai syariat akan mendapat pahala, bila melanggar mendapat siksa. Dari penjelasan ini, segala sesuatu yang menguasai manusia, baik yang terikat maupun yang di luar nidzam wujud disebut dengan qodlo’.

Lalu bagaimana dengan qodar?

Qodar itu artinya khasiat dari benda. Contoh: api punya khasiat membakar, pisau punya khasiat memotong, roti punya khasiat mengenyangkan, dll). Semua ini adalah qodar dari Allah yang tentu saja tidak akan dihisab. Khasiat-khasiat ini yang bisa mencabut hanyalah Allah. Seperti api yang dicabut khasiatnya saat akan membakar Nabi Ibrahim.

Lalu apa yang dihisab?

Kebebasan untuk menggunakan khasiat-khasiat dari benda-benda ini. Pisau bisa digunakan untuk memoton roti, bisa digunakan untuk menusuk diri sendiri atau bahkan untuk membegal orang. Semua terjadi bukan karna salah pisaunya, tapi salah yang menggunakan pisau.

Khasiat-khasiat ini tidak hanya ada pada benda-benda saja, tapi tubuh manusia pun ada. Mata bisa melihat, telinga bisa mendengar, kaki bisa berjalan, perut bisa lapar. Jatuh cinta pun khasiat. Semua tidak akan dihisab oleh Allah, yang dihisab adalah penggunaannya. Misal, tertarik dengan wanita cantik, jatuh cinta, kalau sesauai syariat ya menikah, kalau tidak ya pacaran, dst dst.

Akal manusia pun juga memiliki khasiat. Dia mempunyai kehendak yang bebas untuk berbuat baik dan berbuat jahat yang dijelaskan oleh Q.S Asy Syams: 7-8 dan Q.S Al Balad 10. Ini yang akan dihisab oleh Allah. Apabila digunakan sesuai syari’at akan mendapat pahala, sedangkan apabila melanggar syari’at akan mendapat siksa.

Selanjutnya, bagaimana kita harus mengaitkan dua kehendak?

Iradah Allah memang meliputi segala sesuatu, termasuk terhadap kehendak manusia. Atas kehendak Allah lah manusia memiliki kehendak bebas.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”
QS. Yunus: 99

Contoh kasus:

Kasus manusia yang bunuh diri dengan menusukkan pisau sampai mati, hal itu dapat dijelaskan dengan menguraikan kejadian demi kejadian. Mengapa bunuh diri? Karena putus cinta oleh pacarnya sehingga hatinya sangat pedih. Putus cinta itu qodlo’ Allah yang tidak dihisab oleh Allah. Hatinya bisa mengalami kepedihan, itu qodar Allah yang tidak dihisab oleh Allah. Ketika hatinya pedih, dia memiliki kebebasan untuk memilih apakah akan bertaubat dari pacaran atau akan bunuh diri. Dia ternyata memilih untuk bunuh diri. Ini yang nantinya akan dihisab oleh Allah. Dengan apa dia akan bunuh diri? Dia memiliki kebebasan untuk memilih apakah mau gantung diri, menusukkan pisau, atau minum racun. Tali, pisau, dan racun ini memiliki khasiat, ini qodar Allah yang tidak dihisab oleh Allah. ternyata dia memilih pisau, ini yang dihisab oleh Allah. Pisau memiliki khasiat merusak tubuh manusia  yang tidak akan dihisab, tapi dia memahami dan memilih pisau untu mematikan dirinya yang dihisab oleh Allah. Ketika pisau menghujam tubuhnya, dia mati, ini qodlo’ Allah yang pun tidak dihisab.

Kesimpulannya, karena dia mati dengan proses seperti di atas: dia dihisab sebagai orang yang melakukan bunuh diri. Ini merupakan perbuatan dosa dan ajkan disiksa dalam neraka. Na’udzubillah min dzalik.

Dari penjelasan ini, seharusnya manusia lebih waspada terhadap perbuatan-perbuatan yang berasal dari kehendak bebasnya Karena perbuatan itu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Terhadap kejadian-kejadian yang menimpa kita, harus kita imani bahwa itu adalah ketentuan Allah. Jika kejadiannya menyenangkan kita, harus kita syukuri. Jika kejadiannya menyusahkan kita, kita harus bersabar. Semuanya harus kita kembalikan kepada Allah SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s