Peran dalam Dakwah

“Eman ya Si A, dia punya potensi yang besar, Al Quran itu udah jadi makanan sehari-harinya tapi akhlaknya kenapa masih jauh dari apa yang dia baca sehari-hari. Kenapa akhlaknya masih jauh dari apa yang sedang dia usahakan hafalkan?”

“Eman ya Si B, dia punya potensi yang besar tapi yang dibahas masalah nikaaaah mulu. Padahal kan permasalah pergaulan hari ini gak serta merta selesai dengan nikah. Nikah justru akan menimbulkan masalah baru kalo kayak gitu.”

Saya sempet berpikir seperti itu. Saya yang miskin ilmu sebenarnya mengharapkan sesuatu yang besar dari mereka. Dan saya merasa apa yang mereka lakukan yang hanya berputar pada masalah yang itu-itu saja itu kok rasanha eman banget. Sampai akhirnya saya ketemu langsung dengan mereka, saya berinteraksi dengan mereka, gak cuma ngobrol santai tapi juga peran mereka dalam dakwah.

Rasanya kayak kesambet petir gitu. Hahaha..

Kita perlu sadari bahwa cendikiawan hari ini berbeda dengan cendikiwan pada masa-masa Daulah Islam itu tegak. Dulu orang-orang polygoth itu banyak. Bukan sesuatu yang aneh ketika baca kisah-kisah orang yang ahli strategi perang juga ahli fisika, kimia, biologi, hafal ribuan hadist, ahli tafsir, fiqih, dan masih banyak lagi. Beda gitu dengan cendikiawan hari ini yang hanya ahli di satu bidang saja.

Ketika kita merindukan Daulah Islam atau Khilafah itu tegak, kita gak bisa mengabaikan ilmu-ilmu penunjang yang lain. Menegakkan Daulah Islam juga gak semudah membalikkan telapak tangan, butuh ilmu, butuh orang-orang yang berjuang dalam dakwah, maka di situlah peran dari orang-orang yang sempat saya sayangkan tadi.

Iya ya, kalo gak ada Si A, orang-orang di sekitarnya yang belajar Al Quran kudu bergerak lebih jauh lagi, padahal belum tentu juga semangat dan imannya mendorong mereka buat nyari yang jauh-jauh itu tadi.

Kalo gak ada Si B, orang-orang yang mau nikah itu belajarnya ke siapa ya? Padahal nikah itu tentang menyempurnakan separuh agama.

Kalo gak ada Si C yang bahas parenting mulu, orang-orang belajar ke siapa ya tentang masalah parenting? Masa ya kudu trial error terus?

Alhamdulillah ada orang-orang yang mau bergerak di bidang-bidang itu. Yang terpenting adalah menyadarkan diri sendiri untuk tidak cukup hanya tau satu bidang saja, cukup bergerak dalam satu bidang saja, tapi semuanya. Jadi orang polygoth itu rasanya mustahil, tapi kalau Allah sudah berkendak yang mustahil itu pun akhirnya jadi hal yang mungkin-mungkin saja. Kita hanya perlu meyakinkan Allah bahwa kita ini pingin banget dapet ilmu-ilmu itu, kita pingin banget ilmu-ilmu itu menancapkan kuat di otak kita, kita pingin banget dengan ilmu-ilmu itu membawa manfaat yang jauh lebih besar untuk ummat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s